YESUS RAJA BISNIS

YESUS ADALAH RAJA BISNIS

Mengapa sebagian besar Perumpamaan Yesus melibatkan bisnis? Jawabannya untuk  memberikan kejelasan mengapa Tuhan peduli dengan pekerjaan Anda, terutama jika Anda adalah pemilik bisnis. Bisa jadi itulah alasan mengapa gereja yang bertumbuh dan berkembang dengan baik adalah gereja yang dikelola dengan cara bisnis sesuai yang diajarkan oleh Yesus Kristus dalam bible. Sungguh. Jika itu sangat berarti bagi Yesus, maka itu juga sangat penting bagi kita. Tahukah Anda bisnis paling besar dan paling lama bertahan di dunia ini? Jawabnya: agama. Tahukah Anda tenaga kerja paling murah, atau gratis (sukarelawan) paling besar di dunia ini? Jawabnya pekerja agama. Tahukah Anda omzet bisnis terbesar berdasarkan jumlah uang beredar  ada di sektor bisnis agama? Anda tidak percaya? Mari kita hitung dengan matematika sederhana.

Jumlah populasi dunia saat ini (worldometers) lebih dari 7,8 milyar yang bertambah setiap detik.

Jumlah pemeluk agama dunia saat ini (world population review) lebih dari 6,42 milyar. Itu mencakup sekitar 81,68%. Di bawah ini adalah total populasi dunia setiap agama:

Kristen – 2,38 miliar atau sekitar 30,51%.

Islam – 1,91 miliar atau sekitar 24,48%.

Hinduisme – 1,16 miliar atau sekitar 14,87%.

Buddhisme – 507 juta atau sekitar 6,5%.

Agama Rakyat – 430 juta atau sekitar 5,51%.

Lainnya – 61 juta atau sekitar 0,78%.

Tidak terafiliasi – 1,19 miliar atau sekitar 15,52%.

Berapa banyak Uang yang ada di dunia? Ada sekitar US$ 37triliun yang beredar: ini termasuk semua uang fisik dan uang yang disimpan dalam tabungan dan rekening giro. Pendapatan per kapita rata-rata per tahun 2019 sebelum pandemic covid-19 adalah US$18,381. Kalau dirupiahkan sekitar 257.334.000,00 baca dua ratus lima puluh tujuh juta tiga ratus tiga puluh empat ribu rupiah. Berapa pendapatan per kapita penduduk Indonesia? Tahun 2020 sekitar US$3.911,7 kalau dirupiahkan sekitar Rp56,9juta. Jadi pendapatan per kapita penduduk Indonesia hanya 22,11% atau seperlima dari pendapatan per kapita dunia. Kalau dalam klasifikasi bisnis di Indonesia, pendapatan per kapita Indonesia adalah kelas pengusaha mikro atau hanya penerima gaji UMR DKI Jakarta. Supaya lebih jelas kekayaan orang terkaya di Indonesia tahun 2020 adalah US$20,5milyar yang dimiliki oleh Budi Hartono, pemilik bisnis rokok djarum dan bank BCA dll itu sekitar 287 triliun rupiah.   Apa yang membuat perbedaan menyolok kekayaan orang terkaya dengan rata-rata penduduk Indonesia? Jawabnya bisnis. Semua orang terkaya di dunia adalah pemilik bisnis. Kekayaan adalah sumber kekuatan dan kekuasaan di bawah matahari untuk hidup di dunia ini. Orang Batak bilang “hepeng do mengatur Negara on”, artinya uang yang mengatur Negara. Tidak percaya? Lihat saja urusan kesehatan menghadapi covid-19, dibutuhkan protocol kesehatan dan vaksin. Supaya protocol kesehatan jalan dibutuhkan uang. Supaya vaksin ada juga dibutuhkan uang. Percaya kan sama yang dibilang orang Batak? Dengan kekayaan besar banyak hal dapat Anda lakukan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang hanya hidup ditopang oleh penghasilan UMR. Bagaimana mengubah UMR menjadi lebih tinggi? Jawabnya bisnis. Siapa yang paling mungkin menciptakan pebisnis? Jawabnya pebisnis. Jadi kunci kesejahteraan penduduk dunia ini adalah bisnis.

Agama setiap tahun menyumbang sekitar US$ 1,2 triliun nilai sosio-ekonomi bagi ekonomi Amerika Serikat, menurut sebuah studi 2016 oleh Kebebasan Religius & Bisnis Foundation. Itu setara dengan ekonomi nasional terbesar ke-15 di dunia, melampaui hampir 180 negara dan wilayah lain. PDB Indonesia tahun 2016 sebesar US 931,9miliar jauh dibawah sumbangan sektor keagamaan di Amerika Serikat.  Ini kontribusi agama menjadi contoh bisnis yang terbesar di dunia sepanjang abad.

Menurut Yesus Kristus, secara persentase, pemberian orang miskin lebih besar dibandingkan dengan pemberian orang kaya. (Mark 12:41-44). Jadi tidak heran kalau orang miskin selalu menjadi sasaran pertama bagi setiap agama, kemudian meningkat ke kelas menengah dan kelas atas. Motivasi setiap kelas masyarakat masuk ke dalam satu agama mungkin berbeda, walaupun metode dan alat yang digunakan setiap agama selalu sama. Di LEMSAKTI misalnya, banyak orang menawarkan diri untuk pindah agama masuk Kristen apabila hutang-hutang mereka dapat dilunasi. Yang lain bersedia masuk kalau penyakitnya sembuh. Di salah satu Connect Group dari Gereja yang sedang bertumbuh pesat di Indonesia, saya mengamati orang bergabung karena masalah keluarga, masalah keuangan, masalah penyakit, masalah kesepian (hubungan social, teman, keluarga baru seiman), masalah pribadi seperti kebingungan hidup untuk apa dan kemana, butuh wadah pelayanan, dan banyak dari mereka juga sekaligus butuh jaringan untuk mendukung bisnis mereka.

Supaya Anda memahami bisnis dalam perspektif yang sama dengan maksud tulisan ini, maka perlu Anda batasi pemahaman bisnis Anda seperti yang dipahami oleh tulisan ini. Bisnis didefinisikan sebagai organisasi atau badan usaha yang bergerak dalam kegiatan komersial, industri, atau profesional. … Istilah “bisnis” juga mengacu pada upaya dan aktivitas yang terorganisir dari individu untuk memproduksi dan menjual barang dan jasa untuk mendapatkan keuntungan. Bisnis adalah aktivitas mencari nafkah atau menghasilkan uang dengan memproduksi atau membeli dan menjual produk (seperti barang dan jasa). Sederhananya, ini adalah “aktivitas atau perusahaan apa pun yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan”.  Apakah pekerjaan atau bekerja itu bisnis? Jawabnya ya, karena orang bekerja pada umumnya untuk menghasilkan uang membayar kebutuhan hidup mereka dan mengharap ada kelebihan (untung) untuk ditabung atau diinvestasikan.

Apa yang membedakan bisnis dengan pelayanan gereja?

  1. Bisnis dilaksanakan oleh organisasi (badan) atau perorangan, gereja juga.
  2. Bisnis menghasilkan produk (barang atau jasa), gereja juga menghasilkan jasa (layanan).
  3. Bisnis adalah aktivitas mencari nafkah atau uang, gereja juga.
  4. Bisnis dijalankan untuk mendapatkan keuntungan, gereja? Gereja tidak mengenal istilah keuntungan. Istilah keuntungan diganti dengan kelebihan penerimaan di atas pengeluaran (basis kas). Tetapi kelebihan ini bukan menjadi tujuan utama gereja. Sedangkan bisnis tujuan utamanya adalah keuntungan. Karena perbedaan istilah dan motif ini, maka penghasilan gereja, seperti lembaga keagamaan umumnya, tidak dikenakan pajak penghasilan oleh Negara. Karena penghasilan gereja tidak dikenakan PPh, maka pemberi atau pembayar tidak boleh mengurangkannya sebagai biaya. Pemberian ke gereja dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, atau dipersamakan dengan biaya, dalam perhitungan pajak penghasilan kalau dibayarkan ke LEMSAKTI, atau persembahan/persepuluhan Anda ditukar dengan SSK yang diterbitkan oleh LEMSAKTI. Untuk informasi ini silahkan pelajari di https://www.lemsakti.net/p/tanyajawab.html

Apa itu keuntungan? Keuntungan atau laba dalam bisnis adalah keuntungan finansial, terutama perbedaan antara jumlah yang diperoleh dan jumlah yang dihabiskan untuk membeli, mengoperasikan, atau memproduksi sesuatu. Ukuran keberhasilan suatu bisnis adalah keuntungan yang dihasilkannya. Untuk menjalankan bisnis dibutuhkan modal. Keuntungan adalah tingkat (besarnya) pengembalian yang diperoleh untuk modal yang diserahkan. Biasa dikenal sebagai ROI, return on investment.

Gereja karena tidak mengejar laba atau keuntungan disebut nirlaba atau nonprofit. Nirlaba artinya tidak mengejar keuntungan. Gereja disebut organisasi nirlaba. Organisasi nirlaba atau organisasi non profit adalah suatu organisasi yang bersasaran pokok untuk mendukung suatu isu atau perihal di dalam menarik perhatian publik untuk suatu tujuan yang tidak komersial, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba.

Mengapa gereja itu ada? Tujuan utama keberadaan gereja adalah untuk menginjili dunia (menjadikan semua bangsa murid Yesus Kristus) dan membangun orang percaya (Kerajaan Surga di bumi sesuai Kehendak Allah). Beberapa orang berpendapat bahwa misi Gereja adalah untuk menghadapi ketidakadilan dan meringankan penderitaan, berbuat lebih banyak untuk mengungkapkan kasih Tuhan kepada dunia (ini humanisme, social gospel, gereja social, berpusatkan manusia, memanfaatkan Tuhan untuk kepentingan manusia). Yang lain khawatir bahwa gereja sosial berada dalam bahaya kehilangan keterpusatan pada Tuhan sehingga dengan demikian mereka menekankan pewartaan Injil. Rick Warren menyarankan bahwa tujuan gereja adalah ibadah (penyembahan), persekutuan (pertemuan), pemuridan (mengajarkan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Yesus), pelayanan (memenuhi kebutuhan manusia = bisnis), dan misi (menjadikan semua bangsa murid Yesus), dan bahwa itu berasal dari Perintah Agung (Matius 22: 37–40) dan Amanat Agung (Matius 28: 19-20), (Mark 16:15-19), (Luk 24:45-49), (John 21:17), (Acts 1: 8).

Yesus meminjam dan menggunakan istilah ekklesia dari bahasa Junani yang dikenal di masa hidupNya dalam wilayah pendudukan Kerajaan Romawi. Para ahli ketatanegaraan dan strategi perang Roma mengambil alih pengertian dan praktek ekklesia yang dikenal di Junani untuk diadopsi dan disesuaikan dengan kepentingan Kerajaan Romawi. Di Junani dan kemudian dikembangkan oleh Romawi, ekklesia itu adalah sekumpulan warga Negara yang dipilih dan dipanggil untuk memberikan kontribusi dalam mewujudkan kehendak raja di seluruh wilayah Kerajaan. Romawi menggunakan ekklesia yang sekarang dikenal dengan Senat. Senat mengusulkan/menyetujui Proposal Perang Panglima Militer atau Anggota Senat untuk pengambilalihan (menjajah) suatu wilayah dan kemudian mengangkat raja atau Perwakilan Pemerintahan di wilayah baru itu. Itulah yang kita kenal dengan nama Pontius Pilatus memerintah di Judea dan Herodes menjadi raja di Galilea pada masa Yesus hidup dan melayani.

Kalau rajanya Yesus Kristus, maka ekklesia atau dikenal juga gereja adalah orang-orang yang dipanggil dan ditugaskan untuk mewujudkan misi Yesus: mendatangkan Kerajaan Surga di bumi, menjadikan kehendak Bapa Surga di bumi, menjadikan semua bangsa murid Yesus sehingga mampu melaksanakan semua perintah Yesus dengan sempurna di bumi selagi mereka masih hidup dan seterusnya, yang diringkas dalam doa Bapa Kami (Mat 6:9-13, Luk 11:2-4). Ini dimulai dari Yerusalem terus ke Judea terus ke Samaria terus sampai ke ujung dunia.

Menurut bible yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh LAI menjadi Alkitab,  gereja (ekklesia) adalah pertemuan ibadah (Ibr 10:24-25), dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama Yesus maka Yesus ada disitu (Mat 18:20), tubuh Kristus (Roma 12:4-5), rumah Tuhan dan tempat Roh Allah (1 Kor 3:16), damai Kristus dalam hati anggota tubuh yang bersyukur (Kol 3:15), bertemu dalam perjamuan, memuji Tuhan dan menikmati kasih sesama (Kis 2:46-47), teman sekerja dalam Pelayanan Tuhan ladang Tuhan bangunan Tuhan (1 Kor 3:9), dibangun Kristus sebagai batu yang menang atas kuburan (Mat 16:18), dilengkapi untuk  setiap pekerjaan baik (2 Tim 3:16-17), dikasihi Kristus dengan menyerahkan diriNya untuk dikuduskan yang dibasuh dengan air melalui firman (Ef 5:25-26), tempat tinggal pesan Kristus yang kaya untuk mengajar dan menguatkan satu sama lain dengan hikmat melalu mazmur, pujian, lagu dari Roh menyanyi untuk Tuhan dengan syukur dalam hati (Kol 3:16), warga Kerajaan Tuhan dan anggota rumah tanggaNya dibangun di atas dasar para Rasul dengan Yesus Kristus sendiri sebagai batu penjuru (rujukan posisi) (Ef 2:19-20), berbicara dalam kasih bertumbuh dewasa dalam tubuh yang Yesus Kristus kepalanya (Ef 4:15), berdoa dan menuangkan minyak urapan bagi yang sakit dalam nama Tuhan sehingga disembuhkan dan dibangkitkan oleh Tuhan dan mengampuni dosanya (Yak 5:14-15), melakukan segala sesuatu melebihi yang kita bayangkan di dalam kita untuk kemuliaan Yesus Kristus dari generasi ke generasi dan selama-lamanya (Ef 3:20-21), membangun diri dalam iman kudus dan doa oleh Roh Kudus tetap dalam kasih Tuhan sambil menunggu kemurahan Tuhan Yesus Kristus membawa ke kehidupan kekal (Yak 1:20-21), mendedikasikan diri untuk pengajaran Rasul (Injil Kerajaan) dan bersekutu dalam Perjamuan Kudus dan berdoa (Kis 2:42), menjauhkan pihak-pihak yang menimbulkan perpecahan dan perbantahan yang mengajarkan hal-hal yang berbeda dengan bible (Roma 16:17), sebagai tubuh terdiri dari berbagai bagian dan anggota tetapi satu dalam Kristus (1 Kor 12:12), menikmati masa sukacita dan penguatan takut Tuhan dan dikuatkan oleh Roh Kudus yang menambah jumlah terus menerus (Kis 9:31), dibaptis oleh satu Roh membentuk satu Tubuh yang semuanya diberi minum Roh (1 Kor 12:13), dipanggil oleh Allah yang setia untuk bersekutu dengan AnakNya, Yesus Kristus Tuhan kita (1 Kor 1:9), Kristus adalah kepala Gereja, gereja adalah Tubuh Kristus, Yesus Juruselamatnya (Ef 5:22-23), bagi yang menerima pesanNya dibaptis (Kis 2:41). 

Pengertian dan pemahaman tentang gereja (ekklesia) ini hanya sebagian dan minimal. Untuk lengkapnya Anda harus menambang dan menggali sendiri dari bible dalam berbagai versi dan rujuk pengertian setiap kata ke kata aslinya, Junani dan Ibrani. Bagi Anda yang berbahasa Indonesia, jangan hanya gunakan Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia. Setelah membaca Alkitab terbitan LAI, supaya pemahaman dan pengertian Anda semakin disempurnakan, maka perlu Anda bandingkan dengan bible versi lainnya. Sekarang dengan kemajuan teknologi internet, semua tersedia dengan gratis asal Anda mau dan bersedia meluangkan waktu untuk lebih ahli dan trampil dalam Firman Tuhan yang tertulis. Contohnya SABDAweb. Apakah Anda dapat bayangkan kalau gereja melaksanakan “pengertian minimal” gereja di atas? Dalam sekejap dunia akan menjadi Kerajaan Surga. Apakah Anda merasakan getaran dalam hati Anda? Silahkan berdoa dan minta pimpinan Roh Kudus untuk membuka kemampuan Anda memahami firmanNya.

Setelah memiliki pemahaman minimal tentang bisnis dan gereja, mari kita lanjutkan petualangan kehidupan holistik kita.

Apa hubungan gereja dengan pengertian seperti disebutkan dalam ayat-ayat Alkitab di atas dengan bisnis?

Hampir 65% Perumpamaan Yesus Melibatkan Bisnis

Pernahkah Anda mendengar seorang pendeta mengkhotbahkan kebenaran sederhana itu? Apakah Anda seorang anak pendeta yang jarang melewatkan kebaktian gereja selama sekitar setengah abad perjalanan hidup Anda? Apakah Anda pernah mendengarnya? Saya sering mendengar bagaimana anggota jemaat sangat mengharapkan pendetanya memberikan pegangan baginya ketika melakukan bisnis. Tetapi para pendeta umumnya bungkam. Saya sendiri hampir sebagian besar hidup saya (saat tulisan ini dibuat secaraa biologi menuju lansia) berkecimpung dalam dua dunia: bisnis dan Firman Tuhan. Saya pernah melayani di berbagai organisasi bisnis Kristen dan juga melayani di beberapa gereja. Jadi dalam banyak hal para pendeta yang murni dari sekolah teologia sudah seharusnya belajar tentang bisnis dari orang-orang seperti saya, yang paham Bible dan juga bisnis. Teolog murni yang melayani hanya di gedung gereja dan jemaatnya adalah ibarat katak dalam tempurung, merasa sudah mampu memenuhi kebutuhan anggotanya tetapi sesungguhnya sangat mengecewakan. Mengapa? Kehidupan anggota jemaat gereja begitu kompleks, sedangkan pengetahuan yang diperoleh dari bangku kuliah stt hanya terbatas pada kuliah dosen berdasarkan kurikulum dan buku teks wajib di lingkungan kampus. Lingkungan kampus itu ibarat tempurung, sehingga sangat terbatas sekali ruang lingkupnya. Mari kita lanjutkan….

Parables yang diterjemahkan ke dalam Indonesia sebagai “perumpamaan” adalah cerita pendek yang diceritakan oleh Yesus untuk tujuan yang lebih dalam. Beberapa diceritakan sedikit berbeda dalam Injil paralel. Beberapa orang tidak setuju apakah sebuah cerita oleh Yesus adalah sebuah alegori atau perumpamaan. Sebagai perangkat sastra, alegori adalah narasi di mana karakter, tempat, atau peristiwa digunakan untuk menyampaikan pesan yang lebih luas tentang masalah dan kejadian dunia nyata. Para Penulis telah menggunakan alegori sepanjang sejarah dalam semua bentuk seni untuk mengilustrasikan atau menyampaikan ide dan konsep yang kompleks dengan cara yang dapat dipahami atau mencolok bagi pemirsa, pembaca, atau pendengarnya. Penulis dan pembicara biasanya menggunakan alegori untuk menyampaikan makna (semi-) tersembunyi atau kompleks melalui figur simbolik, tindakan, citra, atau peristiwa, yang bersama-sama menciptakan makna moral, spiritual, atau politik yang ingin disampaikan oleh penulis. Banyak alegori menggunakan personifikasi konsep abstrak. Jadi, pengajaran Yesus Kristus dalam bible kisarannya antara 37 alegori dan 54 perumpamaan. Dari 37 alegori yang teridentifikasi, 22 atau 59,46% melibatkan bisnis. Dari 54 perumpamaan yang teridentifikasi 37 atau 68,52% melibatkan bisnis. Bagaimanapun, KEBANYAKAN alegori dan perumpamaan Yesus, yaitu 64,84% atau hampir 2/3nya melibatkan bisnis. Dalam statistik itu adalah angka sangat signifikan. Dalam pemilihan umum itu adalah angka kemenangan. Dalam pengambilan keputusan secara voting itu sudah sah dan mengikat.

Firman Tuhan Mengakui Pentingnya Bisnis

Salah satu kebohongan terbesar Iblis adalah bahwa pekerjaan dibagi menjadi sekuler dan rohani.  Itu adalah omong kosong dan tipuan Iblis kepada manusia sepanjang masa terutama sekarang. Sebagaimana Iblis memperdaya Hawa dan membuat Adam melanggar perintah Tuhan, maka hal yang sama terus diulang-ulang oleh Iblis sepanjang masa. Dan jelas, korbannya adalah manusia yang merupakan keturunan Hawa.  Sejak awal Tuhan menciptakan pekerjaan, dan itu bagus. Kej 2:15. Adam adalah pengusaha dan pemelihara ciptaan. Dia mengawasi perusahaan pertanian besar. Tapi pemberontakannya melawan Tuhan mengakibatkan kutukan kepada ciptaan yang membuat pekerjaan menjadi lebih sulit. Kejadian 3: 17-19. Sementara kita sebagai keturunan Adam berbagi dalam pemberontakan dan kutukan itu yang diteruskan turun temurun. Kebenaran yang terdalam adalah bahwa SEMUA pekerjaan yang sesuai hukum dan bermoral adalah BAIK. Kita diciptakan untuk bekerja dan akan bekerja di Kerajaan Allah di masa kini dan masa depan. Bekerja itulah yang kita sebut bisnis.

Paulus menyadari hal ini, mengatakan kepada kita bahwa pada Penghakiman terakhir, setiap orang akan “menerima apa yang menjadi haknya untuk hal-hal yang dilakukan selama berada di dalam tubuh, apakah baik atau buruk” (2 Kor. 5:10). Yesus akan menyediakan pekerjaan bagi kita di Kerajaan-Nya dan untuk kekekalan, berdasarkan bagaimana kita mengatur waktu dan sumber daya kita, selagi kita masih hidup di bumi ini. Kalau tidak, untuk apa penghakiman terakhir?

Yesus Menyadari Pentingnya Bisnis

Kita tidak perlu heran bahwa karena pekerjaan adalah pusat penciptaan, Yesus begitu sering berbicara tentang bisnis. Kita juga tidak perlu heran bahwa Yesus menggunakan bisnis sebagai ilustrasi yang lebih dalam tentang Kerajaan Allah.

Dari membeli properti untuk mutiara yang sangat berharga atau harta karun (Mat 13:44; 45-46), hingga mengolah tanah sebagai petani yang menanam benih (Mrk. 4: 26-29), menabur benih (Mat 13: 3 -9; Mrk 4: 3-9; Luk 8: 5-8), menghadapi tantangan gulma (Mat 13: 24-30), tantangan pekerja (Mat 20: 1-16), dan penyewa yang jahat (Mat 21: 33-41; Markus 12: 1-9; Luk 20: 9-16). Yesus juga menggunakan bisnis untuk berbicara tentang pembangun yang bijaksana dan bodoh (Mat 7: 24-27; Luk 6: 46-49), hamba yang tidak adil (Luk 16: 1-13), hamba yang tidak mau mengampuni (Mat 18: 23-35), menghapuskan hutang (Luk 7: 41-43), nelayan (Mat 13: 47-50), Hakim (Luk 18: 1-8) dan banyak lagi.

Mengapa Bisnis Itu Penting

Di luar volume perumpamaan bisnis, terdapat kebenaran yang jauh lebih dalam. Seperti perumpamaan, bekerja adalah ceritanya tetapi memajukan kerajaan Tuhan adalah tujuan yang lebih dalam. Yesus datang untuk memulihkan semua yang rusak. Itu dimulai dengan kita dalam hubungan denganNya, tetapi itu meluas ke pekerjaan kita. Apa tipuan Iblis terbesar saat ini di gereja dan bagi orang Kristen? Iblis melalui agennya, para pemimpin gereja, mengajarkan pekerjaan gereja (seperti yang dilakukan gereja Katolik jaman dulu dengan menjual indulgensi, surat pengampunan dosa) hingga pendeta ekstrim saat ini yang mengklaim dirinya paling kudus, sedangkan orang lain semua berdosa? Atau pekerjaan di gereja adalah yang utama dan mulia sedangkan pekerjaan di luar gereja adalah duniawi? Menciptakan suatu opini yang dijadikan kebenaran bahwa Tuhan hanya bekerja melalui gereja, dan itu gereja milik pendeta itu? Gereja yang menjadi lembaga resmi karena terdaftar di Kementerian Agama kemudian melarang semua bentuk pelayanan lain yang benar-benar sesuai dengan bible? Ini fakta. Tapi suatu ketika Dirjen Bimas Kristen berkata: “Gereja, Sinode dan Aras melarang orang lain melakukan banyak hal yang oleh Yesus Kristus suruh lakukan”. “Bagaimana mungkin saya berani menolak permintaan orang yang tulus melayani Tuhan hanya karena keegoisan dari para pemimpin lembaga gereja yang sudah terdaftar? Bagaimana kalau itu benar-benar dari Tuhan?” Maka, Pemerintah tidak mau dikuasai oleh keegoisan dan keserakahan segelintir pemimpin elit gereja dan membuka pintu pelayanan selebar-lebarnya dalam bentuk yang beraneka ragam. Tuhan tidak pernah membatasi kreativitas manusia, terserah, yang penting pada waktunya nanti masing-masing mempertanggungjawabkan perbuatannya. (Roma 14:12, Gal 6:1-5, Luk 17:3, Mat 12:36-347).

Hati-hati dan kritisilah untuk generasi muda dan Anda yang masih berpikiran ke masa depan. Ini adalah jebakan batman, atau kalau di pasar modal jebakan dividen, dimana Anda mengharapkan dividen tetapi malah modal Anda jeblok tidak berkutik jatuh ke tingkat paling murah dan sulit mendapatkannya kembali karena tidak ada yang mau membeli saham yang mau Anda jual. Bukankah Anda berharap menjadi kudus dan mengharap dimuliakan oleh pekerjaan pelayanan Anda di dalam atau bersama gereja? Tetapi apa yang Anda lakukan? Anda memandang orang lain begitu buruk atau jahat atau berdosa, sedangkan Anda adalah anak kesayangan bapa surgawi yang melindungi dan memberkati Anda setiap saat. Benarkah demikian? Bukankah Anda sudah menjadi korban ajaran pemimpin gereja Anda yang telah menjebak Anda dalam pola pikir picik dan fanatik sempit? Bukankah ini langkah menuju tahap berikutnya yang menjadikan Anda teroris agama?

Saya kasih contoh. Suatu kali kami dari kalangan bisnis dan pelayan di Gereja bertemu dengan sepasang suami istri dari kalangan gereja yang memiliki pegangan ajaran (doktrin) yang berbeda di suatu hotel bintang lima berlian di pusat Ibukota. Mereka begitu pongah mengatakan bahwa Tuhan begitu mengasihi mereka sehingga ketika melakukan sesuatu dan bepergian dengan pesawat misalnya, mereka selalu diutamakan sementara yang lain tidak kebagian kursi. Apakah Tuhan begitu pilih kasih sehingga hanya kedua pasangan itu yang diberkati? Bukankah Tuhan yang menciptakan semuanya dan mengasihi semuanya? Tidak lama setelah pertemuan itu saya mendengar terjadi huru hara di kota yang menjadi topik pembicaraan kami untuk melayani bersama di sana sekaligus berbisinis dan yang dibanggakan oleh kedua pasangan itu. Sejak peristiwa meletusnya hura hara tersebut, saya tidak pernah mendengar lagi tentang kedua pasangan ini.

Bagaimana kita memandang pekerjaan? Apakah pekerjaan kita menjadi beban yang berat untuk ditanggung saat kita berpacu menuju masa pensiun? Apakah ini semua tentang aku dan membangun kerajaanKU? Itulah perumpamaan Yesus tentang orang kaya bodoh yang kehilangan segalanya dan menghabiskan kekekalan terpisah dari Tuhan (Luk 12: 16-21).

Ataukah bisnis kita adalah hadiah dari Tuhan untuk pengurus Kerajaan-Nya? Ini adalah perumpamaan Yesus tentang talenta dan mina (Mat 25: 14-30; Luk 19: 12-27). Perumpamaan Yesus menanamkan kepada kita dalam pengakuan bahwa kita bukanlah pemilik tetapi penatalayan atau pengurus dari semua yang dipercayakan kepada kita.

Dua Perumpamaan Bisnis Yang Merangkum Segalanya

Perumpamaan tentang talenta (Mat 25: 14-30) dan perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik (Luk 10: 25-37) meringkas ajaran Yesus.

Perumpamaan tentang talenta merupakan bagian dari rangkaian cerita terkait tentang kedatangan Yesus kembali sebagai Raja. Dia mulai dengan memberi tahu mereka untuk bersiap – jalani hidup Anda dan jalankan bisnis Anda karena tahu kedatangan-Nya sudah dekat. Itu adalah perumpamaan tentang sepuluh gadis (Mat 25: 1-13). Dia bergerak langsung ke dalam kisah tentang talenta (bakat, panggilan hidup) yang menyuruh kita menjadi bijak. Hamba yang mengubur bakatnya (pasif, tidak berupaya, tidak berusaha, tidak bekerja keras, pemalas, pengemis, peminta-minta, pencari kambing hitam, pengangguran, hanya bisa berdoa minta tolong kepada Tuhan tetapi saatnya bertindak tidak pernah beranjak dari tempat duduknya) tidak bijaksana sehingga diusir dari Kerajaan. Para hamba yang dengan bijak mengerjakan apa yang dipercayakan kepada mereka, menggandakan dampaknya, disambut ke dalam Kerajaan,

“Bagus sekali, hamba yang baik dan setia! Kamu telah setia dengan beberapa hal; Aku akan memberi kamu tanggung jawab atas banyak hal. Datanglah dan berbagi menikmati kebahagiaan tuanmu!” Mt. 25: 21,23.

Yesus mengacu pada Kerajaan-Nya dan memberi tahu kita bahwa Dia memiliki tugas pekerjaan untuk kita berdasarkan seberapa baik kita mengelola apa yang Dia telah percayakan kepada kita sebelumnya. Kita harus mau dan berusaha keras dengan bijaksana mengembangkan bisnis kita untuk kemuliaan Tuhan dan kemajuan Kerajaan-Nya! Dia memulai dengan perkara kecil dan sederhana, kemudian secara bertahap Dia tingkatkan dan tinggikan seiring kemampuan kita mengelola dan meningkatkan kemampuan kita mengurus dan menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang Tuhan berikan kepada ketika, selagi kita masih hidup di dunia ini. Ini tidak berlaku bagi mereka yang tidak peduli dengan kehidupan di bumi ini dan terburu-buru ingin pergi ke surga. Yang terakhir ini adalah bentuk kelicikan Iblis yang telah memperdaya mereka yang awalnya begitu giat dalam pelayanan Tuhan tapi kemudian menciptakan kebenaran sendiri dan lari dari kenyataan. Ini sama saja memberontak terhadap Tuhan, karena bertentangan dengan apa yang Yesus perintahkan dalam bible.  

Domba, Kambing, dan Orang Samaria yang Baik

Perumpamaan tentang bakat yang tepatnya adalah panggilan hidup adalah bagian dari seri – bersiaplah, bijaklah, murah hati, dan sabar menunggu buah yang diharapkan. Keempatnya berjalan bersama. Tujuan bisnis BUKAN untuk mendapatkan mainan terbaik. Tujuannya adalah untuk mendatangkan kebahagiaan terbesar. Kebahagiaan terbesar berubah menjadi sukacita datang ketika Anda yang memiliki harta kekayaan memberi kepada mereka yang membutuhkan. Bukankah itu yang dilakukan oleh semua orang kaya di dunia? Bill Gates, Warren Buffet hingga Tahir di Indonesia berbagi kekayaan mereka melalui jalur dan cara yang mereka anggap aman dan efektif mencapai sasaran. Contoh lain adalah keluarga Hary Tanoe selalu menayangkan di TV MNC group pemberian yang mereka bagikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan. Ya, anggaplah itu CSR, corporate social responsibility grup perusahaan mereka. Tapi jelas, mereka berbagi kepada yang membutuhkan. Dan perbuatan seperti itu, berbagi, adalah kehendak Tuhan di bumi seperti di surga. Itu Perintah Agung … kasihilah sesamamu. (Mat 22:37-40) LEMSAKTI www.lemsakti.net memiliki daftar panjang para pebisnis yang membagikan setiap hari persembahan kasih mereka, sebagian besar dalam bentuk persepuluhan, yang memungkinkan ribuan gereja dapat terus melanjutkan operasi pelayanan di seluruh Indonesia. Itu juga yang memungkinkan ribuan gereja dibangun dengan megah dan mewah di berbagai tempat, walaupun harus menghadai dan setelah melewati waktu panjang berjuang mendapatkan perijinan dan persetujuan masyarakat di lingkungan mereka. Tapi itu nyata dan terjadi berkat ketulusan dan kesetiaan orang bisnis memberi.

Yesus menyimpulkan Mat. 25 dengan perumpamaan tentang kedatangan dan penghakiman-Nya. Sepenuhnya sesuai dengan perumpamaan tentang talenta. Dalam perumpamaan tentang talenta atau bakat ini Yesus menyatakan secara eksplisit bahwa pertumbuhan bisnis adalah untuk melayani sebagai agen-Nya (duta besarNya, Duta Kerajaan Surga di Bumi: 2 Kor 5:20, Fil 3:20, Ef 6:2) yang melayani orang lain yang membutuhkan. Orang lain itu disebut Yesus sebagai “yang paling kecil dari ini”. Mengabaikan kebutuhan itu sama dengan mengubur bakat seseorang. Mengabaikan menjalankan bakat dan talenta, sama dengan mengabaikan panggilan hidup seseorang, artinya memberontak terhadap perintah Tuhan. Tegas, hukumannya adalah mati.

Yesus menggunakan seorang pebisnis keliling untuk mengilustrasikan hal ini. Beberapa orang Kristen dan pemimpin gereja tidak menyukai bisnis. Mereka pikir itu sekuler dan kejahatan yang diperlukan supaya Anda memiliki uang untuk diberikan kepada pekerjaan Tuhan yang sebenarnya di gereja. Tetapi orang Kristen dan pemimpin gereja bodoh ini kurang memahami apa yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Yesus memilih seorang pedagang Samaria yang hina untuk membalikkan pemikiran itu. Orang Samaria dianggap hina dan rendah oleh orang Jahudi, tapi terhormat dan mulia di mata Yesus. Para pemimpin gereja berjalan melewati tetangga yang terluka membutuhkan bantuan. Menurut pemimpin gereja ini, mereka memiliki hal-hal yang lebih saleh untuk diperhatikan. Tetapi orang Samaria itu berhenti, menggunakan peralatan, sumber daya, waktu, dan gaji dua hari untuk melihat dan merawat tetangganya agar dipulihkan. Yesus secara langsung mengikat demonstrasi belas kasihan itu untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah (Luk 10:25). Artinya kalau tidak berbuat kasih kepada  yang membutuhkan, apalagi tetangga Anda, dan Anda mampu melakukannya, maka Anda tidak masuk ke dalam Kerajaan Allah. Hallo aktivis gereja, Anda dimana?

Perlu untuk lebih kritis dalam menggambarkan kebenaran ini. Yesus tidak membantah bahwa masuk ke Kerajaan Allah adalah karena anugerah saja, melalui iman saja, di dalam Kristus saja. Tetapi Yesus mengatakan bahwa iman yang benar menghasilkan buah melalui pelayanan pengorbanan kepada orang lain. Ajaran Yesus ini ditegaskan kembali oleh Yakobus dengan menyebutkan iman tanpa perbuatan adalah mati. (Yak 2:14-16, 20-24). Tuhan lebih menekankan pentingnya urusan dengan sesama daripada sibuk di dalam gedung gereja. Mengapa? Karena Anda, kalau orang Kristen, adalah garam dan terang. Kalau pelayanan hanya di dalam gereja, garam Anda tidak dibutuhkan lagi karena sudah terlalu asin. Atau terang Anda tidak butuhkan lagi karena akan membuat yang lain silau. Kalau sudah asin dan silau, maka yang timbul adalah adu argementasi kebenaran sendiri, protes, perbantahan, perkelahian, perpecahan, dan bunuh membunuh. Bukankah itu pekerjaan si jahat, Iblis yang datang hanya untuk mencuri, membunuh dan membinasakan? (Yoh 10:10). Tapi kalau Anda menerangi tempat kegelapan dan menggarami masakan yang perlu rasa atau diawetkan, bukankah mereka akan bersyukur dan memuji Bapamu yang disurga? Kalau mereka memuji dan memuliakan Bapa di Surga, bukankah itu buah yang baik dan menyenangkan Tuhan? (Ef 2:4-7, Mat 4:19, Mat 5:13-16, Maz 128:2).

Nyalakan Hasrat Anda Mengembangkan Bisnis Anda Memajukan Kerajaan Tuhan

Saya harap Anda akan bergabung dengan saya di WEABCID untuk tumbuh kembang gereja. Ini adalah pusat jaringan bisnis untuk menyulut semangat Anda untuk mempercepat bisnis Anda menuju kemuliaan Tuhan. Saya akan menemani Anda mewujudkan misi tentang perumpamaan bisnis Yesus. Kita dapat berbagi informasi tentang sumber daya dan jaringan yang dapat mendukung tumbuh kembang binsis Anda seiring dengan tumbuh kembang gereja Anda.

Sudah bertahun-tahun saya mengamati pebisnis Kristen melakukan kesalahan ini. Mereka  membangun bisnis untuk kemuliaan diri mereka sendiri. Mereka ada yang memasang label “Kristen” pada praktik bisnis mereka saat mereka berkembang ke beberapa lokasi, staf, dan kesuksesan. Tetapi di Indonesia banyak yang menyembunyikan identitasnya sebagai Kristen. Mereka lebih mendorong dan menggaungkan agama dan keyakinan mayoritas. Apakah karena mereka takut atau memanfaatkan peluang pasar yang besar, atau keduanya? Tapi, yang menjadi perhatian saya adalah bahwa mereka memandang diri mereka sebagai pemilik bisnis itu. Ketika Tuhan mengungkapkan kebenaran ini kepada Anda, ini berarti waktunya Dia memanggil Anda untuk mengesampingkan bisnis Anda dan mengundang Anda ke dalam bisnis-Nya. Dia mengundang Anda untuk menggunakan gelar dan keahlian serta jaringan bisnis Anda untuk melayani mereka yang paling kecil. Bagaimana apakah Anda siap? Bukankah kalau Anda memelihara ikan kecil akan menjadi ikan besar nantinya? Atau ikan kecil yang sedikit akan menjadi ikan kecil yang banyak melimpah ruah? Bukankah sebagai bisnis Anda berbicara target volume (omzet) di masa periode yang Anda bagi dalam skala waktu sekarang (pendek), nanti (sedang), dan ntar (panjang)?  Tentu saya perhatikan banyak pengusaha yang hidup dari hari ke hari, sekarang saja. Mereka memesan produk dari pemasok dan menggunakan serta mengkonsumsinya, tetapi tidak segera membayar ketika jatuh tempo. Beberapa waktu kemudian datanglah segerombolan debt collector silih berganti. Mereka meminjam uang dan tidak membayar sesuai jatuh tempo. Apakah para kreditur itu diam saja? Tentu tidak. Mereka mengajukan gugatan pailit atau PKPU. Cara bisnis sedemikian namanya tidak bijaksana, dan menyimpan bom waktu yang meledak pada waktunya menghancurkan dirinya sendiri. Pebisnis bodoh yang membangun rumah di atas pasir. Tunggu hujan badai akan menghanyutkan rumahnya. (Mat 7:24-27)

Saya suka pemilik bisnis yang melihat peluang untuk membuka fasilitas mereka untuk melayani tetangga yang rentan yang membutuhkan bantuan. Saya mencintai pemilik bisnis yang berinvestasi dengan bijak di Kerajaan melalui pemberian yang memungkinkan untuk membuka pusat pembangunan dan pemberdayaan pemuda dan pebisnis menjadi entrepreneur handal yang membawa Injil dan kesejahteraan kepada ratusan, mungkin ribuan, orang yang membutuhkan. Jelas saya menentang pemberian bantuan yang menciptakan ketergantungan orang kepada bantuan berikutnya. Bantuan itu dimaksudkan untuk memungkinkan orang itu bertahan hidup dan bangkit kembali untuk menata kehidupannya yang selanjutnya dapat produktif dan menjadi sumber bantuan berikutnya untuk memberdayakan orang lain yang membutuhkan. Kalau Anda terlalu sibuk mengurus itu karena terlalu lama dan besar, saatnya Anda bergabung dan bekerja sama dengan yang lain. Itulah mengapa WEABCID kita aktifkan.

Saya mengenal dan pernah bergaul atau dalam satu pelayanan dengan beberapa orang konglomerat Indonesia, khususnya bisnis Kristen. Mereka memiliki pandangan yang sama dan mengambil langkah untuk memberdayakan orang lain. Ambil contoh Pak Ciputra, sekitar 1999 dengan teman-teman yang lain, kami mendukung pelayannya mendirikan dan mengembangkan AYUB, Asosiasi Yayasan Untuk Bangsa. Kemudian dia mendorong tumbuhnya entrepreneur di Indonesia. Gagasannya mengharapkan minimal 2% entrepreneur dari seluruh penduduk Indonesia. Kemudian dia mendirikan ANGIN, Angel Investor Indonesia, yang terus berkembang dan sekarang dijalankan secara professional oleh berbagai kalangan dan membangun jaringan yang lebih luas secara global. Bukankah itu salah satu contoh wujud perumpamaan Yesus tentang biji sesawi? (Mat 13:31-32, Mark 4:30-34, Luk 13:18-21).

Jadilah bagian dari pekerjaan Kerajaan Tuhan. Kembangkan bisnis Anda untuk memajukan Kerajaan itu. Lihatlah perumpamaan Yesus, lihat pentingnya bisnis, dan biarkan pekerjaan Anda lebih dalam untuk melayani orang lain. Kalau anda tertarik silahkan hubungi kami melalui formulir kontak yang tersedia dalam situs ini atau klik disini https://churchgrowdevelop.business/

Atau, Anda dapat terus memberikan persembahan dan persepuluhan ke gereja Anda seperti biasa. Kalau Anda membayar pajak dan nilai persembahan/persepuluh/sumbangan keagamaan Anda cukup signifikan (misalnya sudah ratusan juta rupiah), maka saatnya Anda menukarkannya dengan SSK, Sertifikat Sumbangan Keagamaan untuk menjadikannya biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam perhitungan pajak penghasilan. Kalau Anda membutuhkan informasi tentang SSK silahkan kunjungi dengan klik link berikut: https://www.lemsakti.net/p/tanyajawab.html

33 CARA DAN PANGGILAN BARU GEREJA MEWARTAKAN KASIH PENYELAMATAN OLEH YESUS KRISTUS

33 CARA DAN PANGGILAN BARU GEREJA MEWARTAKAN KASIH PENYELAMATAN OLEH YESUS KRISTUS

Tulisan ini diinspirasi dan dikembangkan dari the Forum for World Evangelization held in 2004, Pattaya, Thailand from September 29 to October 5, 2004. 1,530 participants came from 130 countries to work in one of the 31 Issue Groups.

  1. Bangun, kembangkan dan aktifkan semangat kerja sama dengan sesame Gereja dan Orang Kristen dalam dialog serius dan refleksi penuh doa.
  2. Perwakilan dari spektrum budaya yang luas dan hampir semua bagian berkumpul untuk belajar dari satu sama lain dan mencari arahan baru dari Roh Kudus untuk penginjilan dunia.
  3. Berpegang teguh pada komitmen untuk melakukan tindakan bersama di bawah bimbingan ilahi.
  4. Sensitif dan pantau terus perubahan dramatis dalam lanskap politik dan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir yang menimbulkan tantangan baru dalam evangelisasi bagi gereja.
  5. Polarisasi antara timur dan barat, konvensional dan kontemporer mengharuskan gereja mencari arahan Tuhan untuk tanggapan yang tepat terhadap tantangan saat ini.
  6. Permasalahan baru, realitas baru harus terus dipertimbangkan dan dipertimbangkan, terutama pandemic covid-19, termasuk terorisme, globalisasi, peran global media, kemiskinan, penganiayaan terhadap orang Kristen, keluarga yang terfragmentasi, nasionalisme politik dan agama, pola pikir post-modern, penindasan terhadap anak-anak, urbanisasi, penelantaran orang cacat dan lain-lain.
  7. Kemajuan besar dibuat dalam kelompok-kelompok saat kita berjuang bersama mencari solusi untuk tantangan utama penginjilan dunia.
  8. Kelompok-kelompok lama dan baru hadir dengan berfokus pada pembuatan rekomendasi khusus, tema-tema strategis yang lebih besar yang muncul ke permukaan.
  9. Upaya utama gereja harus diarahkan kepada mereka yang tidak memiliki akses kepada Injil. Komitmen untuk membantu mendirikan gereja mandiri di dalam 6.000 kelompok masyarakat yang belum terjangkau tetap menjadi prioritas utama.
  10. Firman Tuhan memanggil kita untuk mencintai sesama seperti diri kita sendiri. Dalam hal ini gereja telah sangat gagal. Gereja harus memperbarui komitmen untuk menjangkau dalam cinta dan kasih sayang kepada mereka yang terpinggirkan karena cacat atau yang memiliki gaya hidup dan perspektif spiritual yang berbeda.
  11. Gereja harus berkomitmen untuk menjangkau anak-anak dan remaja yang merupakan mayoritas dari populasi dunia, banyak dari mereka dianiaya, dipaksa menjadi budak, tentara dan pekerja anak.
  12. Pertumbuhan gereja sekarang semakin cepat di luar dunia barat. Afrika, Asia dan Amerika Latin, menunjukkan sifat dinamis dan pertumbuhan pesat gereja. Para pemimpin Gereja dari Selatan (di luar Amerika Utara dan Eropa) semakin memberikan kepemimpinan teladan dalam evangelisasi dunia.
  13. Sebagian besar masyarakat masih belajar secara lisan,  yang paling memahami ketika informasi datang kepada mereka melalui cerita. Sebagian besar populasi tidak dapat atau tidak mau menyerap informasi melalui komunikasi tertulis. Oleh karena itu, membagikan “Kabar Baik” dan memuridkan orang Kristen baru dilakukan dalam bentuk cerita dan perumpamaan.
  14. Menghadapi tatanan kehidupan baru akibat pandemic covid-19 gereja “dipaksa” menggunakan media teknologi informasi supaya secara efektif melibatkan budaya dengan cara yang menarik orang-orang yang tidak percaya menuju kebenaran spiritual dan untuk mewartakan Yesus Kristus dengan cara yang relevan secara budaya.
  15. Mengoperasikan dan mengaktifkan imamat semua orang percaya dan tugas gereja adalah gereja harus melengkapi, mendorong dan memberdayakan wanita, pria dan pemuda remaja untuk memenuhi panggilan mereka sebagai saksi dan rekan kerja dalam tugas penginjilan dan pemuridan di seluruh tempat: di rumah, di tempat tinggal, di tempat kerja, di tempat belajar/sekolah, di tempat bermain, di tempat belanja/pasar, di tempat kelompok seperti grup wa, telegram, fb, ig, dll.
  16. Transformasi menjadi kebutuhan berkelanjutan, setiap orang terus diubahkan, untuk terus membuka diri terhadap pimpinan Roh Kudus, untuk menerima tantangan firman Tuhan dan untuk bertumbuh dalam Kristus bersama dengan sesama orang Kristen dengan cara yang menghasilkan transformasi sosial dan ekonomi.
  17. Ruang lingkup Injil dan pembangunan Kerajaan Allah harus dilakukan secara holistic. Holistic ministry berarti memenuhi kebutuhan dan sekaligus memfungsikan secara sempurna dan seimbang seluruh aspek manusia yang terdiri dari tubuh, pikiran, jiwa dan roh. Semua aspek ini harus dapat diukur, sehingga diketahui bagian mana yang masih kurang dan belum sempurna, sehingga upaya diarahkan kepada kesempurnaan setiap bagian.
  18. Gereja harus menjalankan dan menunjukkan peningkatan layanan holistic yang terintegrasi kepada masyarakat, mewartakan Injil, memuridkan mereka dan menjadikan mereka warga Kerajaan Surga yang memenuhi panggilan hidupnya di bumi ini.
  19. Gereja harus terus berdoa bagi mereka di seluruh dunia yang dianiaya karena iman mereka dan bagi mereka yang terus hidup dalam ketakutan akan hidup mereka. Setiap doa perlu diketahui keselarasannya dengan kehendak Tuhan, jadilah kehendakNya di bumi dan di setiap orang seperti di Surga.
  20. Gereja harus memperhatikan dan melayani saudara-saudari yang menderita. Dengan demikian mereka merasakan dan meyakini kehadiran Tuhan dalam hidup mereka, sehingga pada saat mereka sudah pulih mereka pun aktif melakukan hal yang sama: menghaduirkan Tuhan dalam kehidupan setiap orang yang menderita.
  21. Gereja memperhatikan dan membantu gereja yang dianiaya dan perlu menjadikannya agenda seluruh Tubuh Kristus dengan mencari solusi melalui lembaga-lembaga nasional dan internasional yang bekerja untuk penyelesaian dan perlindungan kasus penganiayaan seperti itu. Berdoa saja tidak cukup, tetapi iman harus ditunjukkan dengan perbuatan nyata.
  22. Gereja harus mengakui pentingnya mencintai dan berbuat baik kepada musuh gereja sambil memperjuangkan hak kebebasan hati nurani di mana pun tanpa mengenal lelah dan tak pernah berhenti, karena masalah yang sama akan selalu muncul dan berulang. Tidak boleh ada satu pihakpun yang mengklaim kebenaran sendiri dan memaksakan “baik secara terang-terangan maupun terselubung melalui aturan perundangan dan praktek kehidupan berbangsa” keyakinan dan cara hidupnya kepada orang lain yang berbeda.
  23. Seluruh dunia dan semua gereja telah mengalami serangan oleh wabah covid-19, yang dulu pernah terjadi dengan HIV / AIDS, flu, malaria, dll – menjadikan dunia dalam keadaan darurat manusia terbesar dalam sejarah. Semua gereja di mana pun harus berdoa dan menanggapi wabah ini secara holistik.
  24. Perang melawan teror dan pembalasannya memaksa Gereja untuk menyatakan bahwa Gereja  tidak boleh membiarkan Injil atau iman Kristen menjadi tawanan pada satu entitas geopolitik. Gereja menegaskan bahwa iman Kristen di atas semua entitas politik. Gereja tidak boleh diperalat atau dijadikan alat untuk kepentingan politik duniawi sesaat. Gereja harus memainkan politik surgawi setiap saat, sebagaimana diajarkan oleh Yesus Kristus.
  25. Semua umat Kristen harus berdoa untuk perdamaian, untuk secara proaktif terlibat dalam rekonsiliasi dan menghindari semua upaya untuk mengubah konflik menjadi perang agama. Misi Kristen dalam konteks ini adalah menjadi pembawa damai, berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka disebut anak-anak Allah. Gereja harus berdoa untuk perdamaian dan rekonsiliasi dan memohon bimbingan Tuhan dalam bagaimana membawa perdamaian melalui karya evangelisasi gereja.
  26. Gereja terus menerus berdoa agar Tuhan bekerja dalam urusan bangsa-bangsa untuk membuka pintu kesempatan bagi Injil.
  27. Gereja harus memobilisasi setiap orang percaya untuk fokus pada doa yang konsisten dan spesifik dan bersiap setiap saat, baik atau tidak baik waktunya, dalam pelayanan penginjilan komunitas mereka dan dunia.
  28. Gereja harus terus meningkatkan dan mengembangkan pengalaman kemitraan antara pria dan wanita yang bekerja sama. Gereja di seluruh dunia harus bekerja menuju kemitraan penuh antara pria dan wanita dalam pekerjaan penginjilan dunia dengan memaksimalkan karunia semua untuk memajukan Kerajaan Allah di bumi.
  29. Gereja harus secara sadar merancang dan menjalankan secara lebih besar pengembangan pemimpin masa depan. Gereja harus berusaha menemukan cara kreatif untuk membebaskan para pemimpin yang muncul untuk melayani secara efektif. Gereja harus melengkapi dan membantu, gereja harus menghindari untuk memanfaatkan dan mengeksploitasi para pelayan Tuhan dan anggota jemaatnya.
  30. Gereja memobilisasi gereja untuk membagikan pesan yang jelas dan relevan dengan menggunakan berbagai metode untuk menjangkau kelompok yang paling terabaikan atau menentang sehingga setiap orang akan memiliki kesempatan untuk mendengar pesan Injil dan mampu menanggapi kabar baik ini dengan iman.
  31. Gereja harus terus mengembangkan kemitraan baru, menjalin pertemanan baru dan menyemangati satu sama lain dalam berbagai pelayanan.
  32. Terlepas dari penolakan terhadap Injil di banyak tempat dan kekayaan tradisi agama dan budaya yang diwarisi masing-masing komunitas, Gereja telah menerima panggilan yang diperbarui untuk taat pada mandat Kristus. Gereja harus berkomitmen untuk membuat kasih penyelamatan-Nya diketahui sehingga seluruh dunia dapat memiliki kesempatan untuk menerima anugerah keselamatan dari Tuhan melalui Kristus.
  33. Seluruh gereja harus termotivasi untuk memperkuat tekadnya untuk taat pada panggilan Tuhan.

Semoga membantu Anda dan gereja Anda saat Anda mencari cara baru dan panggilan yang diperbarui untuk mewartakan kasih penyelamatan Yesus Kristus dan menjadikan semua bangsa murid Yesus Kristus.

4 MASALAH UTAMA GEREJA-GEREJA KARISMATIK

4 MASALAH UTAMA GEREJA-GEREJA KARISMATIK

Karena terlalu asik dengan perasaan kesenangan diri sendiri yang dipandang sebagai karunia Roh Kudus, para pemimpin di kalangan gereja karismatik  kurang menggunakan rasio dan akal sehat dalam pemuridan dan menyeleggarakan operasional gerejanya. Gereja-gereja karismatik sering kali begitu terfokus pada mencari tanda-tanda, memandang saleh, berpegang pada figur otoritas dan mengikuti aturan sehingga mereka lupa untuk menanamkan dalam diri mereka sendiri dan pada orang percaya baru kebenaran dasar dari apa yang Yesus ajarkan. Orang percaya harus didasarkan pada tulisan suci jika iman mereka ingin bertahan di hari-hari terakhir ini. Melihat manifestasi Roh itu luar biasa. Tetapi kita dapat meluangkan sedikit waktu jauh dari altar untuk secara jujur ​​menjelajahi tulisan suci. Itu adalah “dasar yang baik” yang Yesus bicarakan dalam Matius 13.

Dalam Matius 13, Yesus menggambarkan berbagai cara Injil diterima di antara para pendengar:

“Seorang penabur keluar untuk menabur. Dan saat dia menabur, beberapa benih jatuh di sepanjang jalan, dan burung-burung datang dan memakannya. Benih-benih lain jatuh di tanah berbatu, di mana mereka tidak memiliki banyak tanah, dan segera mereka tumbuh, karena tidak memiliki tanah yang dalam, maka ketika matahari terbit, mereka hangus. Dan karena mereka tidak berakar, mereka layu” (ayat 3-5).

Yesus melanjutkan dengan berbicara tentang benih yang jatuh di antara semak duri dan benih yang jatuh di tanah yang baik. Setelah itu, Dia menjelaskan perumpamaan itu kepada murid-muridnya:

“Ketika seseorang mendengar Injil Kerajaan dan tidak memahaminya, maka si jahat datang dan mengambil apa yang telah ditabur di dalam hatinya. Inilah yang ditanam di sepanjang jalan. Adapun apa yang ditabur di tanah yang berbatu-batu, inilah orang yang mendengar firman dan segera menerimanya dengan sukacita, namun ia tidak memiliki akar dalam dirinya sendiri, hanya bertahan untuk beberapa saat, dan ketika kesusahan atau penganiayaan muncul karena firman, segera dia murtad” (ayat 19-21).

Berdasarkan pengamatan terhadap praktek dan kehidupan bergereja dan pelayana Kekristenan selama tiga puluh tahun terakhir saya menemukan bahwa tanah berbatu menggambarkan banyak gereja karismatik saat ini.

Gereja karismatik adalah denominasi yang merayakan kedatangan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2) dan menekankan bekerja di dalam karunia-karunia Roh. Ibadah sering kali diwarnai dengan nyanyian disertai alat dan musik yang antusias, menari, dan mengangkat tangan. Semua itu tentu membuat gereja mengasyikkan.

Hasil riset saya, dan juga beberapa tulisan dan kesaksian, memperlihatkan terlalu banyak orang yang mengalami kelelahan di gereja-gereja karismatik ini. Akibatnya banyak orang kehilangan iman mereka sepenuhnya. Gereja karismatik modern penuh dengan masalah. Masalah-masalah dalam gereja karismatik membuat mereka lebih rentan terhadap bidah dan penipuan daripada denominasi lain. Sudah waktunya masalah ini ditangani untuk alasan yang bagus! Masalah-masalah gereja karismatik yang kami temukan dari riset dan laporkan dalam tulisan ini meliputi:

  1. Gagal Paham Alkitab dan Menyalahgunakan Otoritas
  2. Spiritualitas diukur dengan Antusiasme dan Manifestasi Spiritual
  3. Kasih Tuhan diukur dengan Kekayaan dan Kesehatan
  4. Orang Kristen dicitrakan dengan Penampilan yang Baik

Masalah 1: Gagal Paham Alkitab dan Menyalahgunakan Otoritas

Gereja karismatik lebih menyukai kepribadian yang kuat di mimbar. Mereka ingin pendeta dan penginjil mereka bersuara keras dan bangga tentang iman mereka. Mereka biasanya menginginkan seseorang dengan visi yang kuat dan tanpa kompromi untuk memimpin jemaat mereka. Lagipula, bukankah itu yang diinginkan semua orang dari seorang pemimpin? Seseorang dengan keyakinan?

Di permukaan, tidak ada yang salah dengan itu. Namun, terlalu banyak penekanan pada otoritas seringkali mengarah pada otoritarianisme. Pendeta terlalu mudah tergelincir ke dalam mentalitas “ini caraku atau jalan yang benar.” Guru mencegah orang percaya mengajukan pertanyaan bahkan pertanyaan yang tidak bersalah tentang doktrin yang telah dinyatakan gereja dengan batu. Orang-orang diberitahu bahwa mempertanyakan motif atau ajaran pendeta menunjukkan mengabaikan otoritas Tuhan (mengambil Mazmur 105: 15 di luar konteks), karena Dialah yang menempatkan pendeta atas jemaat.

Skeptisisme dalam bentuk apa pun dipandang sebagai ancaman langsung bagi iman dan dosa. Mereka yang tidak bisa sejalan dengan “otoritas” semacam ini akan merasa ditekan untuk pergi atau diusir. Karena  tidak ada seorang pun yang tersedia atau bersedia untuk menantang ajaran yang samar atau dipertanyakan, ajaran sesat dengan mudah masuk dan menyesatkan orang percaya.

Pandangan otoritas ini sama sekali tidak alkitabiah. Menurut tulisan suci, orang percaya memiliki hak dan kewajiban untuk memeriksa dan menguji doktrin apa pun yang ditempatkan di atas mereka dan untuk menghadapi guru ketika mereka jelas-jelas salah. Alkitab  jelasmemberikan dasar dan panduan untuk menguji setiap khotbah dan pengajaran apakah itu dari Tuhan atau bukan, seperti berikut:

Teman-teman yang terkasih, jangan percaya setiap roh, tetapi ujilah setiap roh untuk melihat apakah mereka berasal dari Tuhan, karena banyak nabi palsu telah datang ke dunia. (1 Yohanes 4: 1)

Jangan perlakukan nubuatan dengan hina tapi ujilah semuanya; berpegang pada apa yang baik, tolak setiap jenis kejahatan. (1 Tesalonika 5: 20-22)

Karena ada banyak orang yang memberontak, penuh dengan omongan dan penipuan yang tidak berarti, terutama dari kelompok sunat. Mereka harus dibungkam, karena mereka mengganggu seluruh rumah tangga dengan mengajarkan hal-hal yang tidak boleh mereka ajarkan — dan itu demi keuntungan yang tidak jujur. […] Karena itu tegurlah mereka dengan tajam, agar iman mereka teguh. (Titus 1: 10-11, 13)

Kisah Para Rasul dengan senang hati menyebutkan orang-orang percaya yang meluangkan waktu untuk memeriksa ajaran Rasul Paulus apakah sesuai atau melawan Firman Tuhan (Kisah Para Rasul 17: 10-12).

Ketika Yesus mengajar tentang otoritas, Dia mengatakan satu hal dengan jelas: Ini bukan tentang menjalankan otoritas. Yang hebat adalah seorang hamba. Yang terbesar adalah seorang budak. Singkatnya, kepemimpinan yang saleh ditandai dengan kerendahan hati dan pelayanan, bukan otoritarianisme dan gelar.

Matius 20:26 Tidak demikian halnya denganmu. Sebaliknya, siapa pun yang ingin menjadi besar di antara kamu harus menjadi hamba.

Markus 10:42-45 42 Yesus memanggil mereka bersama-sama dan berkata, “Kamu tahu, bahwa orang-orang yang dianggap sebagai penguasa bangsa-bangsa bukan Yahudi memerintah atas mereka, dan pejabat tinggi menjalankan otoritas atas mereka. 43 Tidak demikian halnya dengan kamu. Sebaliknya, siapa pun yang ingin menjadi besar di antara kamu harus menjadi hamba bagi yang lain, 44 dan siapa pun yang ingin menjadi yang pertama harus menjadi budak semuanya. 45 Karena bahkan Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani, dan untuk memberikan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang.”

Ibrani 13:7 7 Ingatlah para pemimpin Anda, yang mengucapkan firman Allah kepada Anda. Pertimbangkan hasil dari cara hidup mereka dan tirulah iman mereka.

Bagaimana Anda melihat cara hidup dan akhir hidup dari pemimpin gereja karismatis? Para Jenderal Tuhan pernah divideokan oleh Roberts Liardon dan ditawarkan di Indonesia. Mereka para Pemimpin Karismatis menyelenggarakan KKR besar-besaran dengan mujizat luar biasa, tetapi akhir hidupnya sangat menyedihkan. Bahkan  sebelum meninggal dengan mengenaskan, ada yang keluarga mereka sudah porak poranda. Bagaimana mungkin Tuhan memilih orang seperti ini menjadi contoh dan teladan yang baik? Bagaimana kita menyaksikan Tuhan dengan mengambil contoh yang menyakitkan, karena untuk kepentingan dirinya (ego) sendiri?

Kematian Yesus memang tragis di salib, tetapi itu proses yang harus dilaluiNya untuk menebus dosa dunia ini.

Masalah 2: Spiritualitas Diukur dengan Antusiasme dan Manifestasi Spiritual

Beberapa ukuran kualitatif yang didengungkan di gereja-gereja karismatik:

“Jika kamu tidak berbicara dalam bahasa roh, kamu tidak memiliki Roh Kudus” (doktrin ‘bukti awal’ yang berasal dari Kisah Para Rasul).

“Jika Anda tidak mengangkat tangan atau melompat-lompat selama ibadah, Anda tidak bergairah tentang Kristus” (salah menafsirkan Wahyu 3: 16-17).

“Jika Anda berdoa untuk sesuatu dan tidak menerimanya, itu karena Anda tidak memiliki cukup iman” (bagian dari Yohanes 14: 13-14 dan Matius 18:19).

Pernyataan ini salah. Ini menggambarkan betapa banyak penekanan yang diberikan oleh orang percaya karismatik pada antusiasme dan manifestasi Roh. Diminta untuk dipenuhi dengan Roh tetapi tidak berbicara dalam bahasa roh? Mungkin Anda hanya tidak terlalu menginginkannya. Nenek tidak sembuh saat kamu berdoa? Mungkin Anda tidak percaya dia bisa disembuhkan.

Banyak orang percaya karismatik selalu mencari tanda-tanda lahiriah untuk mengkonfirmasi iman seseorang. Jika tanda-tanda itu tidak terwujud, mereka mempertanyakan kekuatan hubungan seseorang dengan Tuhan. Jumlah penilaian dan pengawasan yang dirasakan oleh orang percaya yang kurang ekspresif dapat melumpuhkan emosi. Beberapa bahkan sampai berpura-pura bernubuat atau berbicara dalam bahasa roh hanya untuk menyesuaikan diri di gereja karismatik. Seseorang dapat menari mengelilingi altar dengan hati yang penuh dosa, hanya untuk menunjukkan bahwa dia karismatis.

Apa yang dilupakan oleh orang gereja karismatik yang mencari tanda adalah bahwa buah Roh mendefinisikan orang percaya sejati, bukan karunia-karunia. Benar, Alkitab memang mengatakan bahwa “tanda-tanda ini akan mengikuti mereka yang percaya” (Markus 16: 17-18), tetapi tanda-tanda seperti itu juga dapat dilakukan oleh nabi-nabi palsu untuk menyesatkan orang (Matius 24:24). Bahkan Antikristus dan nabinya akan melakukan mujizat untuk menipu orang-orang percaya (Wahyu 13: 11-14)! Jika karismatik selalu mencari tanda-tanda untuk mengkonfirmasi spiritualitas seseorang, bagaimana mereka akan mengenali penipuan terakhir ketika penipu itu menimpa mereka, baik sebagai korban atau pelaku?

Kitab 1 Yohanes adalah penangkal yang ampuh untuk keraguan dan keraguan dalam iman kita. Dia menjelaskan bahwa tujuan tertulisnya adalah agar kita tahu bahwa kita memiliki kehidupan kekal. Kita tidak dimaksudkan untuk terus hidup dalam keraguan.

“Hal-hal ini telah Aku tuliskan untuk kamu yang percaya dalam nama Anak Allah, supaya kamu tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1 Yohanes 5:13).

1 Yohanes 1: 5-9 – Ini adalah pesan yang telah kami dengar dari-Nya, dan umumkan kepada Anda, bahwa Allah adalah Terang, dan di dalam Dia tidak ada kegelapan sama sekali. Jika kita mengatakan bahwa kita memiliki persekutuan dengan-Nya namun berjalan dalam kegelapan, kita berbohong dan tidak mempraktikkan kebenaran; tetapi jika kita berjalan dalam Terang sebagaimana Dia Sendiri dalam Terang, kita memiliki persekutuan satu sama lain, dan darah Yesus, Anak-Nya, menyucikan kita dari segala dosa. Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, Dia setia dan benar untuk mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari semua ketidakbenaran.

1 Yohanes 2: 3-4 – Dengan ini kita tahu bahwa kita telah mengenal Dia, jika kita menaati perintah-perintah-Nya. Orang yang berkata, “Aku telah mengenal Dia,” dan tidak menaati perintah-perintah-Nya, adalah pendusta, dan kebenaran tidak ada di dalam dirinya.

1 Yohanes 3: 3,9 – Dan setiap orang yang memiliki harapan ini tertuju pada-Nya menyucikan dirinya sendiri, sama seperti Dia murni. … Tidak seorang pun yang lahir dari Allah mempraktikkan dosa, karena benih-Nya tinggal di dalam dia; dan dia tidak bisa berdosa, karena dia lahir dari Tuhan.

1 Yohanes 2: 9-10 – Orang yang mengatakan dia dalam Terang namun membenci saudaranya berada dalam kegelapan sampai sekarang. Orang yang mencintai saudaranya tinggal di dalam Cahaya, dan tidak ada alasan untuk tersandung dalam dirinya.

1 Yohanes 3:14 – Kita tahu bahwa kita telah mewariskan kematian ke dalam hidup, karena kita mengasihi saudara-saudara. Dia yang tidak mencintai tinggal di dalam kematian.

1 Yohanes 4:15 – Barangsiapa mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap di dalam dia, dan dia di dalam Allah.

1 Yohanes 2: 22-23 – Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Inilah antikristus, yang menyangkal Bapa dan Putra. Siapapun yang menyangkal Anak tidak memiliki Bapa; orang yang mengaku Anak memiliki Bapa juga.

1 Yohanes 2: 15-17 – Jangan mencintai dunia atau hal-hal di dunia. Jika ada orang yang mencintai dunia, maka cinta Bapa tidak ada di dalam dirinya. Karena semua yang ada di dunia, keinginan daging dan keinginan mata dan kesombongan hidup, bukan dari Bapa, tetapi dari dunia. Dunia sedang berlalu, dan juga nafsu; tapi orang yang melakukan kehendak Tuhan hidup selamanya.

1 Yohanes 5:19 – Kita tahu bahwa kita berasal dari Allah, dan bahwa seluruh dunia berada dalam kuasa si jahat.

Masalah 3: Kasih Tuhan Diukur Dengan Kekayaan Dan Kesehatan

Banyak karismatik menunjuk pada cerita dalam Alkitab yang “membuktikan” Tuhan memberkati orang yang murni secara spiritual dengan kesehatan supernatural, kekayaan dan perlindungan. Abraham. Salomo. Joseph. Daniel. Job. Seorang anak kecil yang tidak dikenal dalam 1 Tawarikh bernama Jabez. Mereka adalah orang-orang beriman yang perkasa yang mengatakan dan melakukan hal-hal yang benar dan diberi imbalan dengan banyak uang, properti, dan kambing. Oleh karena itu, Anda selalu dapat mengetahui siapa yang mengguncang waktu penyembahan dengan seberapa besar kenyamanan dan berkat yang mereka miliki.

Dengan standar ini, bahkan Yesus tidak akan dianggap sangat spiritual oleh beberapa karismatik. Para murid juga tidak kaya. Faktanya, hanya segelintir orang percaya Alkitab yang pernah disebutkan memiliki kekayaan dan kemudahan yang signifikan. Apakah itu berarti semua orang lain yang tidak kaya berarti kurang setia pada Injil?

Dalam Perjanjian Lama, mereka yang memberontak melawan Tuhan terkadang diserang penyakit yang melemahkan atau tragedi pribadi. Hal ini membuat banyak orang Kristen percaya bahwa setiap kali seseorang mengalami penyakit atau kesusahan, dia sedang dihukum karena suatu jenis dosa. Dalam membuat asumsi ini, mereka sama sekali mengabaikan kitab suci – ironisnya, kitab suci yang sama yang berbicara tentang Ayub.

Ayub mengalami kesulitan terakhir hanya untuk menguji imannya. Ternaknya digerebek. Para pelayannya dibunuh. Semua 10 anaknya, yang dia cintai, tewas dalam badai. Segera setelah itu, seluruh tubuhnya mengalami bisul. Dia tidak punya uang, sakit dan duduk di abu. Dan Alkitab berkata,

Dalam semua ini, Ayub tidak berdosa dengan menuduh Tuhan melakukan kesalahan (Ayub 1:22).

Terkadang, hal buruk terjadi pada orang yang setia. Menurut Ayub 1:12, hal-hal buruk itu bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari Setan. Yang benar-benar mengherankan adalah bahwa teman-teman Ayub – seperti sekelompok fundamentalis yang tepat – muncul dalam kesengsaraan Ayub untuk menanyakan kepadanya apa yang mungkin telah dia lakukan untuk membuat marah Tuhan, yang membuat mereka dicibir lidah dari Yang Mahakuasa sendiri (Ayub 42: 7-8 ). Apakah kita tidak belajar apa-apa dari kitab suci?

Doktrin “kesehatan dan kekayaan” ini penuh dengan kebodohan! Namun, masalah terbesar adalah hal itu menyebabkan banyak orang percaya ragu untuk membantu mereka yang membutuhkan. Bahkan ketika orang itu adalah saudara dalam Kristus, karena mereka menganggap yang membutuhkan salah dan hanya menerima makanan penutup.

Gereja-gereja mengumpulkan persembahan untuk pendeta keliling atau anak diaken yang mendaftar di sekolah pelayanan. Di saat yang sama, gereja tidak peduli untuk anggota yang telah kehilangan pekerjaan dan tidak dapat membayar cicilan KPR. Orang percaya yang menganggur hanya mendapat doa agar Tuhan menyediakan dana secara ajaib. Logika dan akal sehat apa ini? Mengapa kita membutuhkan mujizat ketika bekal sudah tersedia?!

Masalah terbesar kedua dengan doktrin ini adalah apa yang digambarkan oleh perumpamaan tentang penabur. Segera setelah orang percaya menghadapi kesulitan, iman mereka layu. Jika Anda mengira Anda melakukan semua hal yang benar untuk mendapatkan berkah tetapi hanya mendapat sakit dan kemiskinan, bukankah Anda akan merasa tertipu? Tentu saja! Gereja perlu menyampaikan kebenaran seutuhnya tentang apa itu mengikut Kristus. Karismatis jangan menyesatkan orang percaya dengan janji-janji kosong kehidupan dengan jalan mudah: berdoa, berlutut, berpuasa. Apa kata Alkitab tentang ini?

1 Timotius 6:10 Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Melalui keinginan inilah beberapa orang menyimpang dari iman dan menusuk diri mereka sendiri dengan banyak rasa sakit.

Amsal 19:17 Barangsiapa murah hati kepada orang miskin, meminjamkan uang kepada Tuhan, dan Dia akan membalas perbuatannya.

Amsal 14:31 Siapa menindas orang miskin menghina Penciptanya, tetapi siapa murah hati kepada orang yang membutuhkan menghormati Dia.

Kisah Para Rasul 20:35 Dalam segala hal saya telah menunjukkan kepada Anda bahwa dengan bekerja keras seperti ini kita harus membantu yang lemah dan mengingat kata-kata Tuhan Yesus, bagaimana Dia sendiri berkata, ‘Lebih diberkati memberi daripada menerima.’

Wahyu 3:17 Sebab kamu berkata, aku kaya, aku makmur, dan aku tidak membutuhkan apa-apa, tanpa menyadari bahwa kamu celaka, menyedihkan, miskin, buta, dan telanjang.

1 Timotius 6: 9 Tetapi mereka yang ingin kaya jatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat, ke dalam banyak keinginan yang tidak masuk akal dan berbahaya yang menjerumuskan orang ke dalam kehancuran dan kerusakan.

Amsal 13:11 Harta yang diperoleh dengan tergesa-gesa akan menyusut, tetapi siapa yang mengumpulkan sedikit demi sedikit akan menambahnya.

Pengkhotbah 5:10 Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan dengan penghasilannya; ini juga kesia-siaan.

Amsal 28:22 Orang yang kikir terburu-buru mengejar kekayaan dan tidak tahu bahwa kemiskinan akan menimpanya.

Amsal 11:28 Barangsiapa mengandalkan kekayaannya akan jatuh, tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun hijau.

Amsal 29: 7 Orang benar mengetahui hak-hak orang miskin; orang jahat tidak memahami pengetahuan seperti itu.

Amsal 15:27 Barangsiapa rakus karena ketidakadilan akan menyusahkan rumah tangganya sendiri, tetapi siapa benci suap akan hidup.

Amsal 28:27 Siapa memberi kepada orang miskin tidak akan menginginkan, tetapi siapa menyembunyikan matanya akan mendapat banyak kutukan.

Amsal 22: 1 Nama yang baik lebih dipilih dari pada kekayaan besar, dan hikmat lebih baik dari pada perak atau emas.

Mazmur 62:10 Jangan percaya pada pemerasan; jangan menaruh harapan yang sia-sia pada perampokan; jika kekayaan bertambah, jangan letakkan hatimu padanya.

Efesus 4:28 Biarlah pencuri tidak lagi mencuri, tetapi biarlah dia bekerja, melakukan pekerjaan yang jujur dengan tangannya sendiri, sehingga ia dapat berbagi sesuatu dengan siapa pun yang membutuhkan.

1 Tesalonika 4:11 Dan untuk bercita-cita untuk hidup tenang, dan untuk mengurus urusan Anda sendiri, dan untuk bekerja dengan tangan Anda, seperti yang kami perintahkan kepada Anda,

Pengkhotbah 9:10 Apapun yang tanganmu temukan untuk dilakukan, lakukanlah dengan kekuatanmu, karena tidak ada pekerjaan atau pemikiran atau pengetahuan atau kebijaksanaan di Syeol, yang kamu tuju.

1 Korintus 16:14 Biarlah semua yang Anda lakukan dilakukan dalam kasih.

Amsal 21: 5 Rencana orang rajin pasti menuju kelimpahan, tapi setiap orang yang tergesa-gesa datang hanya ke dalam kemiskinan.

2 Tesalonika 3:10 Pada waktu kami masih berada di tengah-tengah kalian, kami memberi peraturan ini, “Orang yang tidak mau bekerja, tidak boleh makan.”

Masalah 4: Orang Kristen Dicitrakan Dengan Penampilan Yang Baik

Orang Kristen suka terlihat baik. Mereka memiliki motivasi yang besar untuk melakukannya. Kehidupan Kristen adalah contoh utama bagi orang yang tidak percaya. Jika Yesus adalah jawaban untuk gaya hidup kosong yang merusak, mengapa orang percaya ingin atau perlu terlibat dalam aktivitas dunia — seperti memakai cincin hidung atau menonton film berperingkat R? Tentu saja tidak. Mereka ingin berdiri terpisah sebanyak mungkin. Jadi teorinya terus berjalan.

Sebagian besar waktu di gereja belajar tentang bagaimana menghindari munculnya kejahatan. Jangan berdiri di dekat majalah gosip di toko bahan makanan. Jangan memakai celana pendek di atas lutut. Jangan memotong rambut Anda terlalu pendek (atau orang mungkin mengira Anda lesbian). Tidak ada tindikan atau tato. Beberapa riasan dan perhiasan baik-baik saja, tetapi tidak terlalu banyak. Dilarang minum atau merokok. Tidak ada musik sekuler. Tidak boleh berenang dengan lawan jenis. Hanya kencan atau kencan grup. Tunjukkan sukacita Tuhan. Sering-seringlah mengucapkan “amin” dan “haleluya” dan tawarkan untuk berdoa bersama orang-orang di depan umum. Dan, sama sekali tidak ada umpatan. Daftar aturan dan ekspektasi sangat mencengangkan. “Orang Kristen tidak punya mood. Mereka selalu gembira dan puas.”

Ada tulisan suci yang berbicara tentang menghindari kejahatan. Tetapi apa yang Yesus definisikan sebagai duniawi tidak melibatkan ruang obrolan Internet, perjalanan ke pantai, atau gitar elektrik. Dia terutama memperhatikan kondisi hati manusia. Yesus sendiri hampir tidak mengkhawatirkan penampilannya di mata orang lain. Bagaimanapun, dia makan dengan pemungut pajak dan pelacur!

Masalahnya di sini melibatkan terlalu banyak fokus pada hal yang salah. Beberapa dari orang percaya yang paling bersih, harum, dan taat aturan, ternyata mereka adalah orang paling sewenang-wenang dapat menghadapi bola mata mereka dalam dosa rahasia. Menghindari bioskop tidak membuat seseorang lebih suci atau lebih setia dari yang lain.

Faktanya, Alkitab berkata,

Oleh karena itu, jangan biarkan siapa pun menilai Anda berdasarkan apa yang Anda makan atau minum, atau sehubungan dengan festival keagamaan, perayaan Bulan Baru atau hari Sabat. Ini adalah bayangan dari hal-hal yang akan datang; kenyataannya, bagaimanapun, ditemukan di dalam Kristus. […] Karena Anda mati bersama Kristus untuk kekuatan spiritual unsur dunia ini, mengapa, seolah-olah Anda masih milik dunia, Anda tunduk pada aturannya: “Jangan ditangani! Jangan rasakan! Jangan sentuh!”? Aturan-aturan ini, yang berkaitan dengan hal-hal yang semuanya ditakdirkan untuk binasa dengan penggunaan, hanya didasarkan pada perintah dan ajaran manusia. Peraturan semacam itu memang tampak bijaksana, dengan penyembahan yang dipaksakan sendiri, kerendahan hati palsu dan perlakuan kasar mereka terhadap tubuh, tetapi mereka tidak memiliki nilai apa pun dalam menahan kesenangan indra .Kolose 2: 16-17,20-23).

Di gereja-gereja karismatik, BELUM SEKALI mendengar ayat di Kolose ini diajarkan dari mimbar. Setan tidak memberi orang percaya pilihan terang-terangan antara yang baik dan yang jahat. Dia memberi mereka pilihan antara yang baik dan penampilan yang baik. Benar sekali!

Orang-orang Farisi pada zaman Yesus terlihat baik dalam tradisi. Mereka berpuasa dan berdoa dan sebaliknya mematuhi setiap surat dari Hukum Yudaik. Namun, Yesus menyebut mereka “kuburan bercat putih, yang tampak indah di luar tetapi di dalam penuh dengan tulang orang mati dan segala sesuatu yang najis” (Matius 23:27).

Orang Farisi tidak benar-benar berkeliaran di rumah bordil lokal atau pesta pora di bar. Jadi apa yang membuat mereka berdosa? Memberi makan harga diri mereka. Menahan keadilan dan belas kasihan dari orang lain. Membebani orang percaya dengan aturan ekstra. Hidup mewah dengan persepuluhan dan persembahan yang dibawa ke dalam bait suci. Terdengar akrab?

1 Samuel 16: 7 Tetapi Tuhan berkata kepada Samuel, “Jangan melihat penampilannya atau tinggi perawakannya, karena Aku telah menolak dia. Karena Tuhan melihat bukan seperti yang dilihat manusia: manusia melihat penampilan luar, tetapi Tuhan melihat hati.”

Roma 12: 9 Biarlah kasih menjadi tulus. Membenci apa yang jahat; berpegang teguh pada apa yang baik.

Roma 12: 2 Jangan menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi diubah oleh pembaruan pikiran Anda, sehingga dengan menguji Anda dapat melihat apa yang menjadi kehendak Tuhan, apa yang baik dan dapat diterima dan sempurna.

Roma 8:28 Dan kita tahu bahwa bagi mereka yang mengasihi Tuhan segala sesuatu bekerja sama untuk kebaikan, bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan tujuan-Nya.

Yohanes 3:16 “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, sehingga siapa pun yang percaya kepadanya tidak akan binasa tetapi memiliki hidup yang kekal.

Yeremia 29:11 Karena aku tahu rencana yang aku miliki untukmu, demikianlah firman Tuhan, rencana untuk kesejahteraan dan bukan untuk kejahatan, untuk memberimu masa depan dan harapan.

Galatia 6: 7 Jangan tertipu: Tuhan tidak dicemooh, karena apa yang ditabur, itu juga yang akan dituainya.

1 Korintus 15:33 Jangan tertipu: “Teman yang buruk merusak moral yang baik.”

ORANG KRISTEN DALAM 20 TAHUN MENDATANG

ORANG KRISTEN DALAM 20 TAHUN MENDATANG

Amsal 16: 9-11 Versi Internasional Baru

9 Dalam hati mereka manusia merencanakan jalannya, tetapi Tuhan menetapkan langkah mereka. 10 Bibir seorang raja berbicara seperti seorang nabi, dan mulutnya tidak mengkhianati keadilan. 11 Skala dan timbangan yang jujur ​​adalah milik Tuhan; semua beban di tas adalah buatannya.

Kita hidup di masa yang tidak pasti. Kita harus “mempercayai masa depan yang tidak diketahui kepada Tuhan yang dikenal”. Hanya Tuhan yang dapat memprediksi masa depan. Kita bersyukur, bagi yang mau belajar dan berpikir, bahwa kita diberkati oleh Tuhan dengan kapasitas untuk mengidentifikasi tren yang mungkin muncul, dengan menganalisa dan mempertimbangkan perkembangan masa lalu dan saat ini yang kita lihat di sekitar kita. Prediksi masa depan dilakukan dengan menggunakan “teknologi masa depan (TMD)” berupa kombinasi keingintahuan, pengetahuan, imajinasi, pengalaman dan hati yang mengakui “bumi adalah milik Tuhan” dan Dia sangat tertarik pada setiap aspeknya (Mazmur 24: 1).

Dengan TMD tersebut, saya telah melakukan kunjungan singkat namun strategis ke dua dekade mendatang. Ini adalah upaya saya untuk menemukan peluang dan tantangan apa yang akan dihadapi Gereja dan jenis Kekristenan apa yang paling berpengaruh. Berikut enam cara yang dihasilkan TMD tentang arah perubahan Gereja dalam dua dekade mendatang:

1. Penginjilan Relasional Berkembang Mengungguli Khotbah

Matius 4:23 Yesus pergi ke seluruh Galilea, mengajar di sinagoga mereka, memberitakan Kabar Baik (Injil) Kerajaan, dan menyembuhkan setiap orang sakit dan melenyapkan penyakit di antara orang-orang.

Selamat datang di era holografik. Dekade sebelumnya membawa revolusi dalam komunikasi gereja. Proyeksi holografik kini telah banyak menggantikan penggunaan layar video dalam layanan. Sejak akhir 2010-an, eksperimen dalam holografi telah memungkinkan kandidat politik dan penghibur tampil ‘live’ di lebih dari satu tempat pada satu waktu.

Holografi adalah teknik yang memungkinkan cahaya dari suatu benda yang tersebar direkam dan kemudian direkonstruksi sehingga objek seolah-olah berada pada posisi yang relatif sama dengan media rekaman yang direkam. Gambar berubah sesuai dengan posisi dan orientasi dari perubahan sistem pandangan dalam cara yang sama seperti saat objek itu masih ada, sehingga gambar yang direkam akan muncul secara tiga dimensi (3D) yang biasa disebut dengan hologram. Teknologi perekaman citra tiga dimensi ini menggunakan sinar murni (seperti laser). Setelah pemrosesan, penampakan benda akan terlihat berbeda-beda dari berbagai sudut. Pembuatan hologram tradisional menggunakan proses kimia yang rumit. Penampakan pada hologram modern dapat dilihat dengan pencahayaan yang biasa dan dapat pula menunjukkan citra tiga dimensi benda besar yang bergerak dengan pewarnaan yang lengkap.

Dua dekade mendatang, kekuatan teknologi hologafik ini telah meningkat secara dramatis seiring turunnya harga. Pembicara dan pemimpin penyembahan secara teratur muncul dalam 3D yang hidup, di acara dan gereja yang tersebar di banyak kota, secara bersamaan. Holografik juga digunakan untuk memberikan simulasi wawancara dengan tokoh-tokoh kunci dalam sejarah Kristen. Jaringan komputer dapat mengetahui dari tulisan, pidato, dan tindakan pemimpin yang telah meninggal bagaimana mereka menanggapi masalah tertentu saat ini. Beberapa Mesin humanoid, dibuat agar terlihat seperti karakter yang mereka wakili. Mesin ini dapat menanggapi pertanyaan orang dengan cara yang nyata, dalam waktu nyata.

Gereja dalam dua decade mendatang juga mendapat manfaat dari media sosial. Tahun 2019 internet mulai menyebar. Dalam 20 tahun pertama abad ini, dunia berubah dengan diperkenalkannya media sosial jadul. Saat ini, media sosial dua dimensi telah diberikan pembaruan dengan 3D. Media sosial menggunakan avatar (jelmaan, serupa, inkarnasi) yang diproduksi secara digital untuk mewakili individu di ruang online. Ia kemudian menyatukan avatar-avatar yang terlihat nyata ini dalam ruang virtual, menggunakan alat haptic (sentuhan 3D) canggih yang menipu indera manusia.

Dua dekade mendatang sistem realitas virtual (VR) termurah meniru semua indra kita, termasuk rasa dan bau. Seluruh pengalaman telah menjadi lebih holistik dan ‘nyata’ daripada apa pun yang dapat dibayangkan orang tua kita di masa-masa awal VR. Dengan menggunakan teknologi ini, penginjil berbicara kepada orang banyak yang berkumpul di ruang virtual. Orang banyak dapat melihat transformasi spiritual kehidupan nyata di antara komunitas mereka. Kursus tipe alfa(*) dilakukan melintasi jarak yang sangat jauh menggunakan teknik yang sama. Ini memberi keuntungan besar bagi orang yang tinggal di daerah terpencil, yang sudah terjangkau teknologi komunikasi seperti internet.

(*)(Kursus Tipe Alfa (KTA) dibuat untuk menekankan hal-hal penting yang disepakati oleh semua denominasi. KTA percaya bahwa apa yang menyatukan orang Kristen jauh lebih besar daripada apa yang memisahkannya. KTA adalah bentuk penginjilan yang efektif jika dilakukan oleh dan melalui gereja lokal. Dengan berfokus pada esensi iman Kristen, ini membuka pintu bagi Alpha untuk digunakan di hampir semua konteks sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk melihat kehidupan teman mereka diubah oleh Injil.

Alat media sosial memungkinkan peluang baru untuk penginjilan juga. Namun, orang sering mendapat manfaat dari pelatihan tentang cara menggunakan teknologi (holografik, VR, media sosial) ini dengan cara relasional daripada ‘berkhotbah’ satu arah.

2. Transisi dan Berubah Konstan

Mazmur 32: 8 “Aku akan memberi instruksi kepada kamu dan mengajarimu jalan yang harus kamu tempuh; Aku akan menasihatimu dengan pandangan penuh kasihKu padamu.”

Di kota-kota dan komunitas lokal, otomatisasi online telah menimbulkan tantangan dengan kurangnya pekerjaan. Sekitar 800 juta pekerjaan di seluruh dunia telah diotomatisasi online sejak 2020, tidak hanya di bidang tenaga kerja terampil tetapi juga dalam profesi seperti kedokteran, hukum, jurnalisme, dan seni. Beberapa orkestra simfoni elit dunia secara teratur memainkan musik yang seluruhnya dibuat oleh mesin, dengan latihan yang pertama kali terlihat pada tahun 2010-an. Lebih dari beberapa drama hit telah ditulis oleh jaringan komputer.

Teknologi baru, tentu saja, telah memunculkan jenis pekerjaan baru. Sepanjang sejarah, hal itu terjadi. Dua dekade mendatang di mana ada pekerjaan baru, orang-orang berjuang untuk beralih cukup cepat dari satu profesi ke profesi lainnya. Banyak orang paruh baya telah mengubah seluruh karier mereka beberapa kali. Contohnya saya: mulai dari Akuntan Publik, Pegawai Bank, Trader Forex, Konsultan Bisnis, Jasa Manajemen Tambang dan Perkebuan, Mengelola Komunitas UMK, Farming, Pelatihan, Dagang Sembako, Agen Bank, Investor Pasar Modal, Pedagang Efek, Property, Layanan Keuangan, dll seiring pelayanan iman dalam berbagai bentuk dan metode.

Gereja telah menerima tantangan untuk memberikan pelatihan transisi. Kursus keterampilan transisi diajarkan untuk membantu orang menghadapi kecemasan, ketakutan, dan rasa kehilangan yang sering dikaitkan dengan perubahan karier. Dalam masa isolasi/pembatasan sosial gedung gereja ada yang berubah jadi gedung ketahanan pangan.  Keterampilan ini, bersama dengan pemikiran strategis dan logika, juga diajarkan di sekolah. Sekolah berbasis agama termasuk yang pertama memperkenalkan jenis pengajaran ini. Yang tidak mengikuti perubahan pasti tersingkir dari arena.

3. Misi Dengan Robot

Yesaya 44:13 Bentuk lain kayu, dia memanjangkan garis ukur; dia menguraikannya dengan kapur merah. Dia mengerjakannya dengan bidang dan menguraikannya dengan kompas, dan membuatnya seperti wujud manusia, seperti kecantikan manusia, sehingga bisa duduk di dalam rumah.

Meskipun pesawat listrik dan hybrid jarak jauh telah diperkenalkan, orang-orang dalam dua dekade mendatang masih mengkhawatirkan perjalanan global. Namun mereka mempertahankan keingintahuan yang diberikan Tuhan dan lapar untuk melihat dunia. Akibatnya, industri perjalanan virtual (VT) yang berkembang pesat telah muncul bersamaan dengan sektor pariwisata tradisional. Dengan biaya kecil, orang dapat menikmati situs asing melalui realitas virtual haptic dan holografi. VT juga terbukti populer di kalangan otoritas yang mengawasi situs-situs penting secara global. Di Israel, misalnya, pemerintah dan perusahaan swasta merupakan investor yang tekun dalam perangkat lunak VT. Mereka memasarkan perjalanan virtual ke Tanah Suci.

Banyak gereja menggunakan perjalanan virtual untuk terlibat dalam perjalanan misi. Gereja jenis ini terutama yang menyediakan pelatihan sekolah dan usaha mikro. Sementara itu, penggunaan boat otonom dan drone yang sah, yang dapat memenuhi tujuan kompleks tanpa masukan manusia, memudahkan badan amal untuk mengirim pasokan darurat ke daerah yang dilanda perang dan bencana alam. Tentu saja perdebatan terus berkecamuk tentang robot otonom yang digunakan di teater perang. Sayap Gereja Evangelis dan Pantekosta harus lebih terlibat dalam perdebatan etis yang kompleks seperti ini.

4. Utang Uang Digital

Mazmur 49: 10-12 Karena ia melihat bahwa bahkan orang bijak pun mati; baik yang bodoh maupun yang tidak berakal binasa dan menyerahkan kekayaannya kepada orang lain. Pikiran batin mereka adalah bahwa rumah mereka selamanya dan tempat tinggal mereka untuk semua generasi; mereka menyebut tanah mereka dengan nama mereka sendiri. Tapi manusia dalam kemegahannya tidak akan bertahan; dia seperti binatang yang binasa.

Dua dekade mendatang, hanya sedikit orang yang menggunakan uang tunai dengan baik. Di banyak negara, selama 15 tahun terakhir, sebagian besar koin telah dihapuskan. Uang kertas, meskipun masih disukai oleh para lansia dan aktivis anti-nontunai, hanya diterima di toko-toko tertentu, dan kemudian hanya karena undang-undang memaksanya. Di beberapa pusat perbelanjaan hanya menggunakan uang digital, uang tunai bahkan sama sekali tidak berlaku.

Ketergesaan untuk meninggalkan uang tunai telah menyebabkan meningkatnya hutang pribadi yang kami sebut utang uang digital. Studi mengungkapkan bahwa orang-orang membelanjakan lebih banyak, tetapi berpikir lebih sedikit sebelum melakukannya. Terlepas dari semua kekacauannya, uang tunai memiliki bobot, yang berarti orang dapat lebih mudah mengidentifikasi ketika persediaan mereka hampir habis. Orang tahu kalau uangnya sudah habis, maka dia harus berhenti membeli. Itu kelebihan uang tunai dibanding uang digital.

Beberapa orang Kristen telah membantu merintis gerakan ‘kembali ke uang’ yang kecil tapi vokal. Tujuan mereka adalah untuk mengurangi data pribadi yang dikumpulkan oleh sistem kas digital. Mereka menawarkan alternatif selain cashlessness bagi orang-orang yang mengurangi jejak online mereka. Mereka mendorong mengecilkan insiden yang disebut ‘utang uang digital’.

Banyak gereja telah bergabung dengan pemerintah dan bisnis lokal untuk menawarkan mata uang regional, berdasarkan token yang dapat ditukar. Apakah Anda sudah menyadarinya?

5. Pelayanan Holistik Kristen

Mereka tidak akan menyakiti atau menghancurkan di seluruh gunung kudus-Ku: karena bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang Tuhan, seperti air menutupi laut. – Yesaya 11: 9.

Menyimpang tajam dari norma budaya sebelumnya, orang-orang dalam dua dekade mendatang sebagian besar memandang kehidupan yang serba cepat sebagai anomali. Keterlibatan satu kali dengan gadget digital telah memberi jalan untuk mengejar gaya hidup yang lebih santai dan reflektif. Otomatisasi online tingkat tinggi di rumah dan di tempat kerja telah membantu beberapa orang mencapai pendekatan yang lebih meditatif dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara mesin ‘cerdas’ melakukan tugas-tugas fisik, orang memiliki lebih banyak waktu untuk menghasilkan ide atau sekadar melamun. Keterampilan untuk meningkatkan yang terakhir (ide, kreatif, inovasi) diajarkan kepada anak-anak sekolah dasar, untuk meningkatkan kapasitas mereka untuk kepuasan dan inovasi. Pendidik Kristen telah berada di garis depan dalam mengembangkan kursus ini. Apakah Anda sudah mengambil bagian?

Sayangnya tidak semua orang mendapat manfaat dari otomatisasi online. Banyak gereja menjalankan program pelatihan untuk mengurangi kesenjangan teknologi yang semakin cepat melebar, bagi orang-orang berpenghasilan rendah.

Sejalan dengan dorongan untuk lebih banyak refleksi, kebaktian gereja sering menampilkan penyembahan vokal tanpa pendamping dan pembacaan kitab suci. Beberapa jemaat menawarkan banyak pilihan dalam layanan mereka dan menu ‘layanan virtual’, dengan sesi meditasi yang ada bersama dengan variasi energi yang lebih tinggi. Pendekatan meditatif menarik ribuan orang muda yang, meskipun mereka menganggap diri mereka sangat spiritual, namun tidak tertarik untuk menyelaraskan diri dengan agama institusional. Orang muda sangat spiritual dan menolak bergabung dengan gereja di gedung gereja. Ini telah terjadi sepuluh tahun lalu, sudah lebih 50% kaum milenial meninggalkan gereja di kota-kota besar di dunia, termasuk di Indonesia menurut hasil riset Bilangan Research Center.

Sosiolog telah mencatat perpindahan yang signifikan dari beberapa gerakan iman yang sekarang dianggap terlalu kebersamaan dalam organisasi mereka, atau terlalu konsumeris dalam pendekatan mereka terhadap spiritualitas. Sementara itu, orang-orang mencari cara untuk mengekspresikan Kekristenan yang berani namun bijaksana di semua tingkatan kehidupan mereka, tidak hanya dalam kegiatan yang dulu dianggap spiritual. Ibadah di gedung gereja tidak dianggap spiritual lagi, tetapi hanya pemborosan dan konsumerisme.

Sementara masih mempromosikan sentralitas doa dan studi Alkitab, gereja-gereja mensponsori kursus teologi perusahaan sosial, kewirausahaan dan desain. Penekanannya adalah merayakan Ketuhanan Kristus dalam setiap aspek kehidupan, yang dikenal sebagai Injil Kerajaan. Orang dan Gereja yang memandang ke depan memilih untuk melayani secara holistik. Buku Christian Holistic Ministry dan Church Holistic Ministry menjadi handbook baru bagi kalangan milenial dan futuris.

6. Pelayanan Lintas Generasi

Kejadian 9.12: Dan Tuhan berkata: “Ini adalah tanda perjanjian yang Aku buat antara Aku dan kamu, dan setiap makhluk hidup yang menyertaimu, untuk generasi yang kekal.

Dua dekade mendatang, Generasi Z mendekati usia paruh baya. Ia masih mempertahankan semangat pragmatis, reformasi dan telah membawa perubahan signifikan dalam dunia politik, lingkungan, teknologi dan ekonomi. Namun, anggota generasi ini sekarang menyaksikan dengan gugup ketika sekelompok dewasa muda baru muncul dalam kepemimpinan. Kelompok ini menunjukkan tanda-tanda yang jauh lebih idealis daripada Gen Z. Dalam kilas balik ke kakek nenek baby boomer mereka, mereka tidak terlalu berpikiran reformasi seperti individualistis dan fokus pada batin.

Kebangkitan religius baru muncul di antara mereka di beberapa negara secara bersamaan. Sebagian besar, gerakan ini tumbuh secara spontan dan organik, tanpa banyak pemimpin yang diakui. Mereka ditandai oleh keunggulan tandingan yang kuat. Mereka belajar dan membangun iman sendiri di bawah pimpinan Roh Kudus dengan belajar dari sumber-sumber yang didapat melalui internet.

Gereja dua dekade mendatang sedang menyesuaikan dengan kebutuhan untuk melayani basis populasi yang semakin tua. Banyak pemimpin gereja sekarang menghabiskan banyak uang untuk program bagi jemaat paruh baya dan lanjut usia seperti yang dilakukan pendahulu mereka untuk kaum muda. Sekarang umum bagi gereja untuk mempekerjakan para pemimpin dengan pelatihan spesialis untuk menangani demografi ini. Banyak orang dalam kelompok usia ini meninggalkan kenyamanan rumah mereka untuk melakukan pekerjaan misi jangka panjang di luar negeri. Yang lain merasakan panggilan baru untuk mendirikan usaha sosial untuk memecahkan masalah sosial dengan cara yang menguntungkan. Ada juga yang fokus pada generasi muda dan anak-anak, untuk membangun basis iman di masa mendatang. Anda melayani dengan fokus yang mana?

Tantangan dan Peluang

Dua dekade mendatang dunia menghadapi tantangan dan peluang besar. Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa masa depan kita tidak akan ditentukan oleh teknologi yang kita kembangkan, tetapi bagaimana kita memilih untuk mengembangkan dan menggunakannya. Hidup kita ada di tangan Tuhan. Kita harus berkomitmen untuk membuat rencana seolah-olah Kristus tidak akan datang kembali dalam 100 tahun yang akan datang, karena tidak ada yang tahu hari atau jamnya (Matius 24:36). Tetapi, kita akan hidup seolah-olah Dia akan kembali hari ini! Dengan demikian kita siap sedia setiap saat menyongsong kedatangan Kristus. Itu kalau Anda mengharap Dia datang. Tapi kalau Anda yakin Dia sudah bersama Anda selama ini, maka tinggal melakukan apa yang Dia perintahkan kepada Anda.

Selamat menyongsong dua dekade mendatang.

TUMBUH KEMBANG GEREJA DI INDONESIA MASA KINI

TUMBUH KEMBANG GEREJA DI INDONESIA MASA KINI

Jika dibagi rata (semua gereja Kristen, Katholik dan denominasi lain), maka 1 bangunan gereja di seluruh Indonesia menampung 733 orang. Misalnya pelayanan di hari minggu dibagi dalam 4-5 kali ibadah. pagi – siang – sore – malam, Dengan jemaat sekitar 700 orang jika dibagi 5 maka setiap ibadah akan dihadiri oleh hampir 150 orang. Jumlah itu memerlukan ruangan seukuran 3 ruang kelas sekolah dasar yang menampung 45 orang. Karena di dalam gereja pasti ada alat musik dan mimbar maka bisa dikatakan perlu ruangan seukuran 4 kelas. Faktanya, tidak semua gereja mempunyai ukuran yang merata seperti itu.

Pertumbuhan penduduk beragama Kristen di Indonesia membutuhkan pembangunan gedung Gereja di masa – masa mendatang. Mengantisipasi kebutuhan gedung dan tentunya lahan, maka para Tokoh Gereja khususnya Organisasi Aras tetap harus membangun kemitraan dengan Pemerintah agar segera dapat diatasi apabila timbul persoalan penolakan olah warga setempat yang telah banyak terjadi, seperti kasus Ciketing, Mustika Jaya, di Bekasi, Jawa Barat beberapa waktu yang lalu.

Bilangan Research Center (BRC) sekitar tiga tahun lalu mengunggah sejumlah temuannya terkait perkembangan terkini gereja di Indonesia. Lembaga evangelikal ini, melakukan survey terhadap 4.394 pemimpin gereja yang tersebar di 34 kota/kabupaten di Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara lintas denominasi, di sejumlah kelompok gereja-gereja Protestan.

Permasalahan yang diteliti dan ditemukan mulai dari isu pertumbuhan gereja, pemanfaatan internet, survey ke kaum muda, hingga permasalahan intoleransi terhadap gereja. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dengan cermat terkait perkembangan kekristenan di Indonesia.

  1. Pertumbuhan tiap gereja di Indonesia tidak terlalu pesat. Tidak ada ledakan pertumbuhan. Sebesar 42,3% pertumbuhan gereja di Indonesia merupakan hasil perpindahan dari jemaat gereja lain, ini disebut kanibal. Pertumbuhan keluarga karena melahirkan anak 28,1%. Sisanya sekitar 29,6% pertumbuhan yang berasal dari luar lingkungan gereja.
  2. Dalam 10 tahun terakhir, 34.9% gereja hanya merintis satu gereja baru.
  3. Pertumbuhan jemaat yang berasal dari kaum muda dan anak secara keseluruhan lebih kecil dibandingkan jumlah jemaat dewasa.
  4. Situasi intoleransi menunjukkan iklim yang lebih kondusif terhadap keberadaan gereja, dibanding sepuluh tahun lalu. Sebagian besar jemaat yang disurvey (80.3%) umumnya menilai masyarakat sekitar terbilang toleran terhadap keberadaan gereja. Intoleransi yang dialami, jika dibandingkan 10 tahun lalu, juga menurun (dari 22,3% ke 13,4%).
  5. Tindakan intoleran yang dialami beberapa gereja berasal dari sesama umat Kristiani. Ini terjadi karena persaingan kepemimpinan dan berebut anggota.

Pertumbuhan jumlah rumah ibadah selama Era Reformasi yang bergulir sejak 1998:

  • Gereja Katolik bertambah 153% dari 4.934 menjadi 12.473.
  • Gereja Protestan bertambah 131% dari 18.977 menjadi 43.909.
  • Vihara bertambah 368% dari 1.523 menjadi 7.129.
  • Pura Hindu meningkat 475,25% dari 4.247 menjadi 24.431.
  • Masjid bertambah 64% dari 392.044 menjadi 643.843.

Mengutip data Kementerian Agama, statistik jumlah penduduk dan rumah ibadah di Indonesia sebagai berikut:

  • Umat Islam 207.176.162, jumlah masjid 239.497.
  • Umat Kristen 16.528.513, jumlah gereja 60.170.
  • Umat Katolik 6.907.873, jumlah gereja 11.021.
  • Umat Budha 1.703.254, jumlah vihara 2.354.
  • Umat Hindu 4.012.116, jumlah pura 24.837.
  • Umat Konghucu 117.091, jumlah kelenteng 552.

Di Jakarta, di sejumlah tempat ditemukan rumah ibadah, seperti masjid dan gereja berdiri berdampingan secara damai selama puluhan tahun berdiri. Hal itu antara lain terlihat di kawasan Gambir atau Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Di sana berdiri megah Masjid Istiqlal dan Gereja Kathedral. Juga di kawasan Kali Pasir, Senen, Jakarta Pusat, berdiri masjid dan gereja protestan yang cukup megah di tengah-tengah permukiman padat penduduk.

Indonesia menempati urutan peringkat 47 dari 50 negara yang dinilai yang paling sulit untuk menjadi seorang Kristen  (Open Doors World Watch List),.

Laporan oleh Christian Broadcasting Network (CBN) tahun 2012 menggambarkan pertumbuhan gereja di Indonesia sebagai hal paling “fenomenal”, termasuk peningkatan jumlah orang yang menghadiri gereja di banyak daerah. CBN merujuk pernyataan Pastor Billy Njotorahardjo, mengatakan, gerejanya tumbuh dari 400 menjadi lebih dari 6.000 orang dalam kurun waktu empat tahun. 

Christianity Today  menulis perkembangan pemeluk Kristiani di Pulau Bali. Di Pulau Dewata, rumah bagi mayoritas pemeluk Hindu Indonesia (93 persen), namun gereja-gereja karismatik sedang mengalami pertumbuhan. Jumlah denominasi Kristen di pulau ini dinilai meningkat dari 3-100 dalam dua puluh tahun.

Tahun 2002 terjadi desakan memberlakukan hukum Islam di wilayah khusus Aceh. Pemerintah setempat memerintahkan penutupan 20 gereja di provinsi itu tahun 2012.

TIME  menulis bahwa revolusi keagamaan sedang mengubah wajah Indonesia. Media ini mengutip Pastor David Nugroho, yang tidak takut untuk menunjukkan keyakinannya, jamaah gerejanya berjumlah sekitar 400 orang. Menurut TIME  sulit mendapatkan jumlah pasti penganut Kristen di negara seperti Indonesia. Orang yang pindah agama dari Islam ke Kristen akan menghadapi stigmatisasi. Jadi KTP sebagai dasar menentukan agama sebenarnya, kurang valid.

Menurut sensus tahun 2000, penganut Kristen hanya 10 persen dari total penduduk Indonesia. Banyak pemuka umat Kristiani yang tidak percaya dengan angka ini. Mereka meyakini, jumlah penganut Kristen sebenarnya jauh lebih besar.

Jakarta Praise Community  dibentuk belasan tahun silam. Mulanya kelompok ini hanya beranggotakan sekitar 200 orang. Sekarang, acara-acara kebaktian mereka dihadiri oleh sekitar 5.500 anggotanya yang kebanyakan berasal dari kaum urban.

Komunitas Reformed mengklaim pengikutnya mencapai 15.000 orang dalam kurun waktu dua dekade. Komunitas membangun sebuah kompleks gereja Evangelical Reformed Millenium Center di kawasan Kemayoran, yang mampu menampung 4.500 jamaah. Pembangunan gereja itu menelan biaya 30 juta USD dan harus menunggu selama 17 tahun untuk mendapatkan izin dari pemerintah daerah setempat. Warga Muslim di dekat lingkungan gereja Evangelical Reformed Millenium Center sempat protes ketika Pastor gereja itu, Stephen Tong menempatkan salib di puncak menara gereja. Tong mengeluhkan penolakan itu karena merasa memasang salib di menara gereja bukanlah tindakan melanggar hukum.

Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) merupakan gereja perintis dalam sejarah perkembangan gereja Kristen di Bali. Hingga saat ini, GKPB telah tersebar hampir diseluruh wilayah di Bali. Dari seluruh kabupaten yang ada di Bali, Karangasem merupakan kabupaten yang mengalami keterhambatan dalam pertumbuhan gereja. Melalui data statistik GKPB pada tahun 2005, dapat dilihat bahwa Kabupaten Karangasem hanya memiliki dua gereja. Adapun dua gereja milik GKPB tersebut adalah GKPB jemaat “Amlapura” dan GKPB jemaat “Sabda Urip”.

Beberapa faktor menjadi penghambat pertumbuhan gereja di Karangasem. Faktor-faktor tersebut adalah: faktor relasi, faktor pelayan jemaat, faktor kesadaran umat, faktor organisasi, dan faktor kebudayaan. Dari beberapa faktor tersebut ditemukan bahwa faktor pelayan jemaat merupakan faktor utama penyebab keterhambatan pertumbuhan gereja di Karangasem. Faktor pelayanan yang diberikan oleh pelayan atau pendeta jemaat memang benar merupakan faktor yang tidak dapat dihilangkan untuk memicu adanya pertumbuhan gereja.

Sebagai suatu fenomena rohani dan teologis, gerakan pertumbuhan Gereja yang dimulai oleh beberapa hamba Tuhan. Sebagai jawaban Tuhan atas kebutuhan rohani Gereja Kristen. Jawaban Tuhan terhadap kemerosotan-kemerosotan rohani dalam kehadiran dan pelayanan Gereja Tuhan terhadap dunia ini. Gereja-gereja Tuhan masa kini, perlu masuk dan mengambil bagian yang aktif dan konkrit dalam arus pertumbuhan Gereja ini demi terlaksananya Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:19-20.

Kemajuan pertumbuhan Gereja juga sangat ditentukan oleh faktor strategi Tuhan yang dapat kita pelajari dari Alkitab, khususnya kitab Kisah Papa Rasul. Di sana dijelaskan bahwa pertumbuhan Gereja mesti dimulai: (1) di tempat yang dipilih Tuhan, (2) Dilaksanakan dalam waktu Tuhan, (3) Didukung oleh hamba-hamba Tuhan yang dipersiapkan dan dibentuk Tuhan secara khusus, dan (4) Perlu diarahkan dan dibimbing oleh visi misi universal dari Tuhan sendiri. Ini ideal tapi sulit terlaksana, perlu opsi yang lebih praktis.

Masalah berikut dapat menghambat pertumbuhan rohani. Apabila pertumbuhan rohani “terhambat” maka gereja tidak akan berlipat ganda sebagaimana mestinya. Masalah-masalah umum yang menghalangi tumbuh kembang gereja adalah:

1. Kekurangan makanan rohani

Tubuh rohani memerlukan makanan rohani. Ada gereja-gereja yang sama sekali tidak mengajarkan firman Allah. Mereka hanya mengajarkan doktrin-doktrin manusia. Mereka mengatakan apa yang ingin di dengar oleh orang-orang (2 Timotius 4:3). Kekurangan makanan rohani adalah akibat dari kelaparan firman Allah (Amsal 1:1-12).

Ada orang-orang yang hanya mengajarkan “susu” firman allah oleh sebab itu banyak orang-orang percaya tidak pernah bertumbuh dewasa secara rohani. Orang-orang percaya mengabaikan penyelidikan Alkitab sehingga tubuh rohani mati tanpa makanan.

2. Kekurangan visi

Alkitab berkata: Jikalau tidak ada visi, umat binasa (Amsal 29:18). Visi rohani orang-orang tertentu terbatas pada keluarga dan lingkungan mereka sendiri saja. Ada juga yang dipenuhi dengan visi yang nan jauh disana dengan sebutan yang aneh-aneh, sementara orang-orang di luar gereja mereka sendiri mati tanpa mengenal Kristus.

3. Pertumbuhan yang dangkal

Injil Markus 4:1-20, menegaskan bahwa ketika benih firman Allah tidak berakar dalam hidup kita, maka hasilnya adalah pertumbuhan rohani yang dangkal. Apabila datang penganiyaan dan kesukaran, maka akan mati secara rohani (Markus 4:17).

4. Kurangnya pembersihan

Gereja-gereja seringkali memiliki metode-metode dan program-program yang tidak produktif. Apabila kegiatan-kegiatan itu tidak dibersihkan, maka buah-buah yang dihasilkan akan semakin menipis. Tanpa pembersihan, proses kematian yang lambat tapi pasti akan menghancurkan kehidupan umat Allah.

5. Prioritas-prioritas yang salah

Para pemimpin rohani memiliki prioritas-prioritas yang salah. Mereka lebih fokus terhadap urusan-urusan gereja dari pada doa dan pelayanan firman Allah. Prioritas-prioritas diberikan kepada proyek-proyek sekunder seperti proyek-proyek pembangunan gereja dan sebagainya menjadi lebih penting dari pada misi.

 6. “Datang” dan “lihat” dan bukan “pergi” dan “beritakan”

Gereja-gereja memakai strategi “datang” ke gereja dan bukan metode “pergi” sebagaimana yang diperintahkan oleh Yesus Kristus. Mereka hanya sekedar datang dan lihat ke gereja tetapi mereka tidak pernah “pergi” untuk menjangkau orang-orang dengan Injil dan membawa mereka masuk.

7. Masalah-masalah pribadi yang tidak terselesaikan

Konflik terjadi apabila para pemimpian dan  anggota gereja memiliki masalah-masalah pribadi yang tidak terselesaikan di antara mereka. Jika konflik-konflik ini tidak ditangani dengan benar, maka hasilnya adalah perpecahan. Masalah-masalah yang tak terselesaikan menghambat proses pertumbuhan.

8. Kepemimpinan rohani yang tidak memenuhi syarat

Pertumbuhan gereja terpengaruh apabila para pemimpin tidak memenuhi syarat-syarat rohani yang ditegaskan dalam Alkitab. Pemimpin seperti ini tidak menaruh perhatian yang benar dan sungguh-sungguh pada firman Allah. Mereka memiliki pendidikan dan kemampuan tidak pada ukuran yang benar.

9. Tidak mau berubah

Orang-orang yang cenderung untuk menolak perubahan, tidak ada pelipatgandaan. Banyak orang yang puas apa adanya. Mereka tidak siap dengan metode-metode baru. Tidak punya pandangan-pandangan baru yang Alkitabiah.

10. Masalah-malasah komunikasi

Pelipatgandaan terhalang oleh sikap penyampaian Injil. Para pemberita Injil berusaha menarik perhatian dengan kata-kata yang hebat dan memamerkan pengetahuan teologia. Mereka tidak berkomunikasi pada tingkat kebutuhan manusia. Tindakan-tindakan mereka tidaklah sejalan dengan kata-kata mereka.

11. Penonton dan bukan peserta

Penonton adalah orang-orang yang melihat tetapi tidak berpartisipasi di dalam rencana Allah. Mereka tidak bereproduksi secara rohani. Tugas-tugas menginjili hanya kepada hamba-hamba Tuhan. Gereja yang dipenuhi penonton tidak akan bertumbuh.

12. Ketakutan

Takut akan kegagalan adalah musuh yang terbesar dari pelipatgandaan. Hal ini ditegaskan oleh Yesus tentang talenta dalam Injil Matius 25:14-30. Hamba yang takut tidaklah menguntungkan, ia tidak berlipat ganda secara rohani. Hamba seperti ini lebih baik dibuang.

13. Ketidakpercayaan

Israel yang tidak memasuki Tanah Perjanjian mati di padang gurun karena ketidakpercayaan mereka (Bilangan 13). Mereka kembali mengembara di padang belantara sampai seluruh generasi itu mati selama kurun waktu 40 tahun. Ketidak-percayaan menghambat pertumbuhan rohani dan pelipatgandaan.

14. Pengelompokan di dalam gereja

Kadang-kadang “kelompok-kelompok” terbentuk di dalam gereja dan persekutuan yang lain. Kelompok ini memisahkan diri. Mereka tidak mau menerima orang lain di dalam persekutuan mereka.

15. Kekurangan sumber daya

Manusia dan dana adalah dua sumber vital yang diperlukan bagi pelipatgandaan. Pertumbuhan terhambat apabila adanya kekurangan orang-orang yang mempunyai komitmen pada visi. Kekurangan dana dapat juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan gereja.

Bagaimana dengan gereja Anda? Apakah mengami pertumbuhan kanibal atau keluarga?

Apakah menghadapi hambatan dalam pertumbuhan?

Saatnya mengetahui akar persoalannya. Kalau sudah tahu masalah, maka mudah mencari solusi.

Butuh teman berbagi untuk pertumbuhan Anda? Kalau ya, silahkan hubungi kami dengan isi formulir dengan klik link berikut https://churchgrowdevelop.business/ .

KEKRISTENAN SEBAGAI AGAMA ATAU GEREJA ATAU KERAJAAN

KEKRISTENAN SEBAGAI AGAMA ATAU GEREJA ATAU KERAJAAN

KEKRISTENAN SEBAGAI AGAMA

Agama adalah sistem kepercayaan yang tercermin dalam sistem sosial budaya dari perilaku dan praktik yang ditentukan, moral, pandangan dunia, teks, tempat suci, nubuatan, etika, atau organisasi, yang menghubungkan kemanusiaan dengan elemen supernatural, transendental, atau spiritual.  Namun, tidak ada kesepakatan ilmiah tentang apa sebenarnya agama itu. Masing-masing orang bebas memberi definisi dan atribut yang penting bagi mereka, baik umat beragama maupun yang menolak agama.

Untuk Indonesia dari sisi Pemerintah, maka pemahaman agama dapat dipahami dari sudut Visi dan Misi Kementerian Agama Republik Indonesia. Visi misi ini tentu akan berubah juga sesuai dengan penguasa yang berwenang untuk menentukannya.

VISI

“Terwujudnya Masyarakat Indonesia yang Taat Beragama, Rukun, Cerdas, dan Sejahtera Lahir Batin dalam rangka Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong” (Keputusan Menteri Agama Nomor 39 Tahun 2015)

MISI

  1. Meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama
  2. Memantapkan kerukunan intra dan antar umat beragama.
  3. Menyediakan pelayanan kehidupan beragama yang merata dan berkualitas.
  4. Meningkatkan pemanfaatan dan kualitas pengelolaan potensi ekonomi keagamaan.
  5. Mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji dan umrah yang berkualitas dan akuntabel.
  6. Meningkatkan akses dan kualitas pendidikan umum berciri agama, pendidikan agama pada satuan pendidikan umum, dan pendidikan keagamaan.
  7. Mewujudkan tatakelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan terpercaya

(Keputusan Menteri Agama Nomor 39 Tahun 2015)

Ada empat unsur wujud yang dilihat untuk direalisasikan: (1) taat beragama, (2) rukun, (3) cerdas, (4) sejahtera lahir batin. Pemahaman setiap orang terhadap visi misi ini dapat saja bervariasi. Bahkan yang membuatnya dan menetapkannya pun dapat berubah pemahaman dan sikapnya seiring berubahnya kondisi yang meliputinya. Silahkan Anda membuat pemahaman sendiri, kalau perlu lebih formal silahkan tanyakan ke Kementerian Agama Republik Indonesia.

Agama Kristen adalah agama monoteistik Abrahamik, artinya menyembah satu Allah atau Tuhan yang dikenal sebagai Tuhan yang memilih Abraham sebagai modelNya dan diteruskan oleh keturunannya. Sebagai keturunan Abraham, Agama Kristen mendasarkan pegangan agamanya pada kehidupan dan ajaran Yesus dari Nazareth, lahir di Betlehem, Jehuda. Tentu agama Jahudi dan Islam menganggap mereka juga “keturunan” dari Abraham, sesuai pegangan ajaran yang mereka miliki dan yakini.

Penganut agama Kristen, yang dikenal sebagai orang Kristen, percaya bahwa Yesus adalah Kristus artinya yang diutus, yang datang sebagai Mesias yaitu seorang yang diurapi. Mesias dari bahasa Ibrani Mashiach, memiliki arti seseorang yang diurapi dengan minyak. Contohnya adalah raja-raja di Kerajaan Israel dalam Perjanjian Lama diurapi dengan minyak sebagai tanda penunjukkannya oleh Tuhan. Sesuai tradisi dan adat kebiasaan di Timur Tengah atau Asia Barat, pengurapan dengan minyak adalah suatu tindakan ritual didisain untuk meninggikan seseorang yang ditujukan untuk jabatan imam, raja atau jabatan Nabi seperti Elisa. Sama seperti mesias, kata kristus memiliki arti yang sama. Kristus dari bahasa Yunani christos berarti seseorang yang diurapi. Dalam Septuagint christos telah digunakan untuk menerjemahkan bahasa Ibrani messiah, yang berarti seseorang yang diurapi. Diurapi artinya dituangkan minyak ke kepalanya sebagai pembuktian telah ditetapkan untuk jabatan tertentu.

Kelahiran Yesus Kristus dinubuatkan dalam Alkitab Ibrani, disebut Perjanjian Lama dalam agama Kristen. Nubuat Perjanjian Lama ini juga dicatat dalam Perjanjian Baru. Yesus dinubuatkan lahir, datang ke dunia untuk membimbing manusia hidup di bumi secara harmonis dan benar. Orang Jahudi memiliki ide kedatangan “orang yang diurapi” ini implisit (tertanam, termasuk) dalam kisah Penciptaan di Kitab Kejadian Perjanjian Lama. Sesuai pemikiran para guru (Rabbi) Jahudi, Tuhan menghendaki kita hidup bersama di firdaus (paradise), sehingga Tuhan membangun Taman di Eden. Akibat dosa, manusia dikeluarkan dari Taman Eden. Tetapi Taman Eden tetap ada. Tuhan mempertahankan dan memelihara Taman Eden. Tuhan Allah  menunggu waktu yang tepat pada saat manusia itu dinyatakan layak, bersih dan jelas untuk dapat masuk kembali ke Taman Eden.  Taman Eden itu tempatnya di bumi, bagian dari wilayah Kerajaan Surga. Jadi kalau seseorang berada di Taman Eden, berarti dia sudah berada dalam Kerajaan Surga, yang dipimpin oleh Allah sendiri  dan disebut Kerajaan Allah. Allah itu Rajanya, Surga itu teritorialnya, baik fisik atau nonfisik.

Menurut pengajaran Judaisme, masa Mesianik adalah waktu ketika Mesias membawa manusia kembali ke suatu dunia sebagaimana dimaksudkan Tuhan Allah pada awalnya. Waktu itu digambarkan oleh sejumlah Nabi dan selanjutnya menunjuk kepada Mesias yang dapat dibaca dalam Kitab Mazmur. Sejumlah rujukan tertulis di Alkitab menunjuk kepada masa yang akan datang ketika Mesias lahir. Kelahiran Mesis ini dirayakan oleh orang Kristen sebagai Christmas, Hari Natal, Hari Kelahiran Mesias.

Berikut beberapa nats Alkitab yang menubuatkan dan menunjuk kepada kelahiran Yesus Kristus:

Kejadian 22:18 semua bangsa di bumi akan diberkati. Orang Kristen percaya Yesus Kristus adalah penggenapan dari janji ini.

Bilangan 24:17  Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set. … Sebuah bintang akan datang dari Yakub.

Yesaya 11:1  Suatu tunas akan keluar daripada tunggul Isai suatu cabang daripada akarnya akan berbuah.

Yeremia 23:5-6  “Sesungguhnya, waktunya akan datang,” demikianlah firman TUHAN, “bahawa Aku akan menumbuhkan Tunas yang benar bagi Daud. Dia akan bertakhta sebagai raja dan bertindak bijaksana. Dia akan menegakkan keadilan dan pembenaran di negeri ini. Pada zamannya Yehuda akan diselamatkan dan Israel akan tinggal dengan aman. Inilah nama yang diberikan orang kepadanya, ‘TUHAN ialah sumber pembenaran kita.’”

Yesaya 7:14 Oleh sebab itu Tuhan sendiri akan memberikan tanda kepadamu: Sesungguhnya, seorang anak dara akan mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki. Dia akan menamainya Immanuel.

Mazmur 72:9-10 Orang-orang yang tinggal di padang gurun akan tunduk di hadapannya, dan musuh-musuhnya menjilat debu tanah. Raja-raja dari Tarsis dan dari pulau-pulau akan membawa persembahan kepadanya. Raja-raja dari Syeba dan Seba mengantarkan upeti kepadanya.

Matius 1:21 Maria akan melahirkan seorang anak laki-laki. Anak itu harus engkau beri nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

Lukas 1:31
Dan lihatlah, engkau akan mengandung di dalam rahimmu, dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan engkau akan menyebut Nama-Nya YESUS.

Agama  Kristen adalah agama terbesar di dunia, dengan sekitar 2,3 miliar pengikut atau 38,33% dari sekitar 6 miluar penduduk bumi pada 2015.

Kekristenan tetap beragam secara budaya di cabang Barat dan Timur. Juga beragam dalam doktrin atau pegangan pengajaran tentang pembenaran dan sifat keselamatan, eklesiologi (gereja), pentahbisan (pemberian jabatan agama),  dan Kristologi. Kredo atau iman kepercayaan mereka umumnya berpegang pada kesamaan Yesus sebagai Anak Allah adalah logos atau firman yang berinkarnasi atau menjelma menjadi manusia, yang melayani, menderita, dan mati di kayu salib, tetapi bangkit dari kematian untuk keselamatan umat manusia, dan naik ke surga. Kredo ini merupakan intisari dari Injil, yang berarti “kabar baik”, di dalam Alkitab. Injil yang menggambarkan kehidupan dan ajaran Yesus adalah empat Injil kanonik dari Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dengan Perjanjian Lama Yahudi sebagai latar belakang Injil yang dihormati.

Kekristenan dimulai sebagai sekte Kuil Yudaik Kedua pada abad ke-1 di provinsi Romawi di Yudea. Para rasul Yesus dan pengikut mereka tersebar di sekitar Levant (pantai timur laut Mediterania), Eropa, Anatolia, Mesopotamia, Transcaucasia (pegunungan Kaukasus = berbahasa Rusia), Mesir, dan Ethiopia.

Pada awal pertumbuhan dan perkembangan Agama Kristen mereka menghadapi banyak hambatan dan penderitaan seperti sering dianiaya. Ini segera menarik orang-orang Jahudi dan bukan Jahudi yang takut akan Tuhan, yang menyebabkan penyimpangan dari kebiasaan Yahudi. Setelah Kejatuhan Yerusalem, 70 M mengakhiri Yudaisme berbasis bangunan yang disebut Rumah (Bait) Allah. Agama Kristen perlahan-lahan memisahkan diri dari Yudaisme. 

Kaisar Konstantin Agung mendekriminalisasi (mendekritkan keabsahan) Kekristenan di Kekaisaran Romawi dengan Dekrit Milan (313 M). Kemudian mengadakan Konsili Nicea (325 M) di mana Kekristenan Awal dikonsolidasikan menjadi apa yang kemudian menjadi Gereja Negara Kekaisaran Romawi (380 M). 

Sejarah awal persatuan gereja Kristen sebelum perpecahan besar kadang-kadang disebut sebagai “Gereja Besar”. Meskipun dinyatakan satu gereja besar, tetap ada perbedaan berupa sekte heterodoks (bidah, ajarannya tidak sesuai dengan kesepakatan atau standar keyakinan) yang ada pada waktu yang sama, termasuk Kristen Gnostik dan Kristen Yahudi. 

Gereja Timur (Syriac, Persian, Nestorian, Mesopotamia Utara) terpecah setelah Konsili Efesus (431 M). 

Ortodoksi Oriental (Armenia, Suriah, Aleksandria) pecah setelah Konsili Kalsedon (451 M) karena perbedaan Kristologi.

Gereja Ortodoks Timur (Constantinople/Istambul Turki, Eropa Timur, Junani, Kaukasus) dan Gereja Katolik (Roma) berpisah dalam Skisma Timur-Barat (1054 M), khususnya atas otoritas uskup Roma. 

Protestan terpecah dari Gereja Katolik  dalam berbagai denominasi (kebanyakan  Latin, meskipun minoritas dari Timur) di Era Reformasi (abad ke-16) atas sengketa teologis dan eklesiologis, yang paling dominan adalah masalah justifikasi dan keutamaan kepausan. 

Kristen memainkan peran penting dalam pembangunan  peradaban Barat, khususnya di Eropa dari akhir zaman kegelapan dan Abad Pertengahan.  Setelah Zaman Penemuan (abad ke-15 sampai dengan 17), Kekristenan menyebar ke Amerika, Oseania, sub-Sahara Afrika, dan seluruh dunia melalui pekerjaan misionaris.

Empat cabang terbesar agama Kristen adalah:

Gereja Katolik (1,3 miliar / 50,1%),

Protestan (920 juta / 36,7%),

Gereja Ortodoks Timur (230 juta) dan

Ortodoks Oriental (62 juta / Ortodoks gabungan 11,9%),

Banyak pihak tengah melakukan berbagai upaya menuju persatuan (ekumenisme), termasuk PGI di Indonesia. Meskipun terjadi penurunan kepatuhan di Barat, agama Kristen tetap menjadi agama dominan di wilayah tersebut, dengan sekitar 70% dari populasi mengidentifikasi sebagai Kristen. Kekristenan tumbuh di Afrika dan Asia, benua terpadat di dunia. Umat ​​Kristen tetap dianiaya di beberapa wilayah dunia, terutama di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Timur, dan Asia Selatan.

Agama Kristen di Indonesia

Ada sejumlah wilayah di Indonesia yang memiliki masyarat mayoritas Kristen. Secara keseluruhan, agama Kristen hanya menjadi agama minoritas di Indonesia. Umat Kristen memiliki posisi sosial politik yang agak lemah di Indonesia. Posisi sosial politik agak dominan di beberapa wilayah mayoritas Kristen (di wilayah-wilayah ini umat Muslim terkadang harus menghadapi tindakan-tindakan diskriminatif).

Posisi umum yang lemah ini membuat sebagian besar umat Kristen Indonesia menyadari posisinya sebagai minoritas. Karenanya mereka berusaha menjalin hubungan baik dengan umat Muslim. Meskipun begitu, mengenai rasa kebangsaan Indonesia, umat Kristen sama kuatnya dalam kebanggaan nasionalis seperti umat Muslim yang menjadi mayoritas. Umat Kristen juga sangat mendukung penjagaan persatuan Indonesia.

Dalam beberapa dekade terakhir, ada banyak catatan kasus mengenai serangan-serangan kelompok-kelompok radikal Muslim melawan gereja-gereja dan umat Kristen. Hal ini menimbulkan rasa takut di dalam komunitas Kristen Indonesia. Insiden-insiden ini terutama terjadi di pulau Jawa tempat umat Kristen menjadi minoritas. Sejarah bangsa Indonesia tidak terlepas dari penganiayaan oleh yang mayoritas terhadap minoritas, yang kuat terhadap yang lemah dalam berbagai aspek kehidupan. Penganiayaan gereja terjadi pada setiap masa kekuasaan Presiden seperti berikut:

Tahun 2011 hingga September: 33 gereja diganggu
Tahun 2010: 47 gereja diganggu
Tahun 2009: 8 gereja diganggu
Tahun 2008: 40 gereja diganggu
Tahun 2007: 100 gereja diganggung

Masa Presiden Gereja Diganggu:
Agustus 1945 sd 17 Maret 1967, Soekarno: 2 gereja dibakar
17 Maret 1967 sd 23 Mei 1998, Soeharto: 456 gereja
23 Mei 1998 sd 20 Oktober 1999, BJ Habibie: 156 gereja
20 Oktober 1999 sd 23 Juli 2001, Abdurahman Wahid: 232 gereja
23 Juli 2001 sd 4 Mei 2004, Megawati Soekarnoputri: 92 gereja
4 Mei 2004 sd September 2011, Susilo Bambang Yudhoyono: 312 gereja

Sumber: FKKJ

Sayangnya, situasi ini sepertinya akan terus berlanjut. Namun, serangan-serangan ini bisa dijelaskan sebagai ekspresi ketakutan dan frustasi dari para pelakunya. Indonesia (dianggap oleh para pelaku) telah mengalami proses ‘Kristenisasi’ setelah masa kemerdekaan.

Sebetulnya, akar masalah ini ada di dalam sejarah yang mencatat bahwa kelompok elit Kristen yang cukup besar (yang diperlengkapi dengan pendidikan dan perekonomian yang lebih baik) diperlakukan lebih baik oleh Belanda pada era kolonial. Setelah kemerdekaan Indonesia, kelompok elit Kristen menjadi kekuatan yang berpengaruh dalam perpolitikan (termasuk di dalam militer) dan perekonomian Indonesia baik pada masa pemerintahan Soekarno maupun Suharto (pada pertengahan awal rezimnya).

Alasan utama dari situasi paradoks ini adalah karena umat Kristen – sebagai kelompok minoritas – tidak merupakan ancaman besar. Pada masa Soekarno, tahun 1950an dan 1960an terjadi pertarungan kekuasaan antara kelompok nasionalis, komunis, dan golongon Islam.

Pada masa Suharto mengambil alih kekuasaan pada tahun 1966 (dan kelompok komunis dihapuskan), tetap perlu upaya besar dari Pemerintah untuk mengurangi peran politik Islam di dalam masyarakat Indonesia. Di dekade-dekade kekacauan dan ketidakpercayaan, umat Kristen dianggap sebagai sekutu (karena tidak memiliki agenda tersembunyi) dalam menghadapi kekuatan-kekuatan tandingan di dalam masyarakat.

Kondisi ini berubah di akhir 1980an dan 1990an ketika tidak hanya kelompok Islam aliran keras yang menolak Pemerintah tetapi juga kelompok Islam moderat mulai mengkritik Pemerintah dan menuntut demokrasi. Untuk meraih lebih banyak dukungan populer, Suharto (seorang Muslim tradisional yang tidak terlalu religius) memutuskan menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih pro-Muslim. Suharto menempatkan lebih banyak orang Islam di posisi pucuk pemerintahan (termasuk di militer). Ini menyebabkan penurunan pengaruh umat Kristen dalam politik nasional. Kristen menjadi minoritas.


Di masyarakat Indonesia, umat Muslim dan Kristen hidup dalam keharmonisan sosial. Antara 1997 sampai 2004 (pada saat dan setelah kejatuhan Suharto) sejumlah wilayah di Indonesia diserang oleh insiden-insiden kekerasan mengerikan yang diberi label ‘konflik agama’. Namun, salah apabila menganggap konflik-konflik ini hanya masalah agama semata. Kejatuhan Suharto membuka kompetisi sengit untuk mendapatkan kekuasaan-kekuasaan politik, ekonomi, dan sosial di daerah-daerah Indonesia; dan juga di antara kelompok-kelompok beragama sama.

Dikombinasikan dengan pemerintahan pusat yang lemah dan tidak terorganisir (termasuk militer nasional) karena Krisis Keuangan Asia, konflik-konflik ini mendapat kesempatan untuk membesar dan menjadi semakin lama periodenya. Ada juga laporan-laporan yang mengklaim militer Indonesia justru mendorong berlanjutnya konflik-konflik ini untuk menciptakan kekacauan di dalam negeri supaya bisa mendapatkan lebih banyak kekuatan politik.

Orang-orang Kristen di era kolonial Belanda punya akses yang lebih baik kepada institusi pendidikan. Dari sekolah, mereka mengenal huruf latin yang membuat mereka bisa dipekerjakan orang-orang Belanda dan menyerap banyak buah kemajuan kebudayaan Barat. Kebanyakan berasal dari Minahasa, Ambon, Batak, juga Timor.

Sebagai bagian dari anak bangsa terjajah, orang-orang Kristen, baik Protestan maupun Katolik, juga banyak yang terlibat dalam pergerakan nasional. Namun kiprah mereka dalam pergerakan sering diabaikan karena cap Kristen sebagai agama (yang dibawa) penjajah. Mudah untuk mengatakan orang-orang Kristen sebagai antek Belanda karena cap sebagai agama penjajah itu. Padahal dinamikanya tidaklah hitam putih.

Sebagaimana orang bumiputera yang tak sedikit berpihak pada kolonialisme, begitu juga orang-orang yang beragama Kristen. Akan tetapi, pengalaman pahit sebagai anak bangsa jajahan juga melahirkan manusia-manusia yang berkomitmen kuat untuk merealisasikan kemerdekaan dengan pelbagai cara dan jalan: dari yang kooperatif maupun yang radikal.

Toedoeng Goenong Moelia, tokoh Kristen asal Batak bersikap kritis kepada pemerintah kolonial sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Di masa Gubernur Jenderal De Jonge, Moelia menyebut, “Gubernur Jenderal tidak mampu memobilisasi kaum intelektual Indonesia yang koperatif sekalipun. Dia mengubah Hindia menjadi hampir sebuah negara polisi. Dia menindas kaum miskin dengan pajak dan membuat mereka menanggung biaya proteksi bisnis besar di masa depresi ekonomi.” Selain Goenoeng Moelia, dari kalangan Katolik ada Ignatius Kasimo.

Kasimo sebagai anggota Volksraad dari wakil orang-orang Katolik, terlibat bersama Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Baik Toedoeng Goenong Moelia maupun Kasimo termasuk dalam kaum nasionalis koperatif pada akhir periode penjajahan (Kolonial Belanda). Dibanding Goenoeng Moelia, sepupunya yang masih beragama Islam, bisa lebih intens mengarungi arus pergerakan nasional. Si sepupu, Amir Sjarifoeddin, “adalah salah satu sosok yang keras dalam sejarah nasionalis Indonesia”.  Amir Sjarifoediin, yang kelak menjadi Perdana Menteri pada 1947, adalah salah satu anggota Jong Batak ketika menjadi mahasiswa Recht Hoge School (sekolah hukum) di Betawi, ikut serta dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II. Belakangan ia bergabung dengan mahasiswa dan pemuda Islam Sumatra di Jong Sumatranen Bond. Amir dibaptis sebagai Kristen di Gereja HKBP di Kernolong, Betawi, pada 1931.

Pada masa pendudukan Jepang, Amir tidak menghentikan aktivisme pergerakan. Ia banyak bergerak di bawah tanah, membangun sel-sel perlawanan, di tengah kepungan mata-mata Jepang. Amir sempat tertangkap dan bahkan dihukum mati. Lobi para pemimpin Indonesia yang saat itu bekerja sama dengan Jepang, termasuk Sukarno dan Hatta, membuat Amir selamat dari eksekusi.

Salah seorang tokoh penting lain yang bergabung di sana adalah seorang dokter Ambon bernama Johannes Leimena. Seperti Amir, Leimana yang bergabung dalam Jong Ambon juga masuk dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II tahun 1928. Ketika itu Leimana adalah mahasiswa kedokteran STOVIA. Leimana bukan satu-satunya pemuda Maluku berlatar budaya Kristen yang masuk dalam kancah pergerakan nasional.

Alexander Jacob Patty, yang lebih senior dari Leimana, pernah kuliah kedokteran di NIAS (meski tak jadi dokter seperti Leimana). Jacob Patty dikeluarkan dari sekolah kedokteran karena berpolitik. Ia dikenal sebagai pendiri Sarekat Ambon pada 1920. Patty berusaha menggalang orang-orang Ambon dalam pergerakan nasional. Ia dibuang ke Boven Digoel, lalu ke Australia, dan pulang ke Tanah Air setelah Indonesia merdeka.

Johannes Latuharhary, yang baru pulang ketika Kongres Pemuda II. Ia ikut pergerakan setelah lulus sebagai Meester in Rechten dari Universitas Leiden, dan kemudian bekerja di Pengadilan Surabaya. Ia ikut memimpin Sarekat Ambon. Setelah jadi hakim dan menjadi ketua pengadilan negeri di Jawa Timur, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya yang nyaman demi bisa lebih aktif di pergerakan nasional.


Dari Minahasa, orang Kristen lain yang punya nama harum adalah Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangie atau Sam Ratulangie. Kawanua Minahasa ini ikut pergerakan nasional sejak muda. Bersama Husni Thamrin, Ratulangie menjadi anggota Volksraad yang getol menentang kebijakan pemerintah kolonial yang merugikan rakyat bumiputera.

Selain Ratulangie, setidaknya ada perempuan yang begitu peduli pada pendidikan perempuan di Minahasa bernama Maria Walanda Maramis. Perempuan bernama lengkap Maria Josephine Catherine Maramis ini sudah diakui jasanya sebagai pahlawan nasional, seperti Ratulangie. Ia pendiri organisasi bernama Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (Pikat). Pikat telah mendorong kesadaran kaum perempuan di Minahasa dan Sulawesi pada umumnya untuk berorganisasi.

Setelah 1920, jumlah perkumpulan perempuan semakin banyak. Organisasi politik pun memberi perhatian lebih dengan menyokong pembentukan organisasi sayap yang khusus bergerak di bidang pemberdayaan perempuan.

Thomas Najoan, tokoh buruh dari sayap kiri dan ikut mendirikan PKI. Sutan Sjahrir menilai bahwa kebaikan dan kemanusiaan Najoan adalah karena ia seorang Kristen yang baik. Najoan, dengan “imannya” yang anti-kolonialisme, berkali-kali mencoba kabur dari Digoel yang ganas. Ia tak sudi tunduk dengan iming-iming Belanda agar mau bekerja sama. Najoan seorang manusia yang baik, berbudi luhur, dan berpendidikan. Rasa humanitasnya yang besar berasal dari etika agama Kristen. Ia seorang Manado dan berasal dari keluarga Kristen.

Arnold Mononutu menjadi cermin dari sikap seorang nasionalis yang keras kepala. Bagi Ahmad Syafii Maarif, Mononutu adalah sosok unik. Ia Kristen tapi bukan bagian dari Parkindo (Partai Kristen Indonesia). Ia kader Partai Nasional Indonesia yang didirikan Sukarno. Mononutu telah melawan Belanda dengan begitu heroik dan penuh pengorbanan di masa mudanya sejak bersekolah di Belanda. Ia membuang masa depan hidupnya yang mapan. Bung Hatta memberi kesaksian Arnold Mononutu: “Orangtua anggota (Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda) banyak yang diancam oleh pemerintah jajahan. Mereka yang menjadi pegawai negeri disuruh memilih antara anaknya tetap menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atau mereka sendiri keluar dari jabatan negara. Antara lain yang kena ancam ialah ayah Arnold Mononutu. Ayahnya menjadi komisi pada Kantor Residen di Manado. Ia disuruh memilih keluar dari Perhimpunan Indonesia atau, apabila ia tetap menjadi anggota, mulai bulan berikutnya tidak akan mendapat kiriman belanja lagi dari rumah. Mononutu membalas surat ayahnya bahwa ia menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atas keyakinannya dan ia tidak dapat lagi mengundurkan diri. Ia memaafkan ayahnya apabila memutuskan kiriman uang untuk belanjanya.” Setelah kiriman uangnya diputus, Mononutu pulang dan terlibat dalam pergerakan. Di masa tuanya ia adalah pembela Republik yang gigih di Indonesia Timur.

Franz Magnis Suseno merupakan tokoh intelektual yang sudah malang melintang dalam perjalanan kebangsaan Indonesia. Selain aktif di bidang akademik, Franz Magnis Suseno atau akrab disapa dengan Romo Magnis merupakan seorang pastor Katolik. Meskipun seorang pemuka agama, tetapi Romo Magnis memiliki pandangan kebangsaan yang mendalam. Hal itu sudah terpatri dalam dirinya sejak muda.

Pada tahun 1961, di usia 25 tahun, Magnis yang saat itu masih Warga Negara Jerman, datang ke Indonesia untuk belajar teologi dan budaya Jawa. Perjalanan spritual dan kultur yang ia dapatkan membuatnya jatuh cinta pada Indonesia. Kecintaannya pada Indonesia membuatnya berniat untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Usahanya untuk menjadi WNI akhirnya terwujud pada tahun 1977.

Kecintaannya tersebut membuatnya aktif dalam perjalanan kebangsaan. Salah satu sumbangsihnya dalam budaya Indonesia adalah dengan menulis buku berjudul Etika Kebangsaan Etika Kemanusiaan.  Ia juga aktif di bidang pendidikan sebagai Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Sumbangsih Romo Magnis tersebut kemudian membuatnya dianugerahi Bintang Mahaputra Utama oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2015.

Johannes Leimena merupakan salah satu tokoh Kristen asal Indonesia yang memiliki sumbangsih dalam perjalanan bangsa Indonesia. Tidak hanya dalam bidang agama, ia juga aktif dalam bidang pergerakan mahasiswa era pra kemerdekaan melalui Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Johannes mampu mentransformasi GMKI dari gerakan keagamaan di kalangan kampus menjadi organisasi yang memiliki pandangan keindonesiaan yang selaras dalam pandangan keimanan Kristen.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Johannes membantu jalannya pemerintahan pusat dengan menempati sejumlah posisi menteri, seperti menteri kesehatan, menteri sosial, wakil perdana menteri ketika masa Republik Indonesia Serikat, menteri koordinator kompartemen distribusi, dan terakhir menteri perguruan tinggi dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Johannes Leimena sebagai pahlawan nasional  melalui Keputusan Presiden No 52 TK/2010.

Wilhelm Johannis Rumambi atau W.J. Rumambi merupakan tokoh asal Minahasa, Sulawesi Utara yang aktif dalam pergerakan keagamaan di Indonesia. Sebagai alumni Sekolah Tinggi Teologia Jakarta pada tahun 1940, W.J Rumambi sempat menjadi pengurus Gereja Masehi Injili di Minahasa.

Aktivitas W.J. Rumambi dalam perjalanan bangsa dimulai pasca partai yang ia wakili, Partai Kristen Indonesia keluar menjadi salah satu pemenang dalam Pemilu tahun 1955. Ia mewakili partainya dalam sidang-sidang Dewan Konstituante di Bandung, Jawa Barat. Sumbangsih terbesar W.J. Rumambi terhadap perjalanan bangsa Indonesia adalah saat ia menjabat sebagai Menteri Penerangan Republik Indonesia dalam Kabinet Dwikora III.

Amir Sjarifoeddin merupakan salah satu tokoh nasional yang memiliki sumbangsih dalam perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak muda, Amir sudah mendapatkan pendidikan filsafat. Ia sempat bersekolah di Haarlem, Belanda sebelum memperoleh gelar sarjana hukum di Batavia (sekarang Jakarta).  Pada tahun 1931, Amir memutuskan berpindah keyakinan menjadi Kristen Protestan yang disahkan oleh gereja Huria Kristen Batak Protestan di Batavia. Amir juga aktif dalam pergerakan GMKI di era pendudukan Jepang.

Perjuangan Amir dalam kemerdekaan Republik Indonesia adalah ketika ia mampu melakukan propaganda massa untuk melawan pendudukan Jepang di seluruh wilayah Nusantara. Kemampuan analisis dan pendekatan massa  yang dimilikinya tersebut membuatnya dipercaya Presiden Soekarno menempati beberapa jabatan menteri di awal-awal masa pemerintahannya, antara lain menteri penerangan dan menteri pertahanan.

Yosepha Alomang merupakan pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) asal Papua yang memperjuangkan kelestarian alam dan lingkungannya dari eksploitasi alam yang dilakukan Freeport kepada masyarakat yang terdampak. Masa kecil Yosepha yang hidup tanpa ayah dan ibu membuatnya berjuang untuk mempertahankan hidupnya dengan berbagai cara. Memasuki tahun 1970-an, Yosepha mendedikasikan dirinya sebagai bidan dengan bantuan gereja katolik.

Yosepha memulai awal mula perjuangan penegakan HAM nya saat anak sulungnya yang baru berumur 3 tahun meninggal karena kelaparan. Ia memutuskan melakukan perlawanan kepada Freeport karena merasa perusahaan tambang emas terbesar di dunia tersebut tidak memberikan tanggung jawab kepada warga Amungme sebagai masyarakat sekitar yang terdampak aktivitas tambang. Yosepha bersama warga Amungme melakukan perlawanan dengan memotong saluran pipa Freeport. Ia bersama warga harus keluar masuk hutan untuk menyelamatkan diri dari aparat militer yang menjaga Freeport.

Usaha Yosepha dan warga tidak sia-sia. Freeport akhirnya memutuskan untuk memberikan 248.000 dollar Amerika Serikat kepada Yosepha. Uang tersebut ia gunakan untuk membangun Kompleks Yosepha Alomang. Perjuangan Yosepha juga mendapat penghargaan dari beberapa lembaga, yakni Anugerah Lingkungan Hidup oleh Yap Thiam Hien Awards pada tahun 1999 oleh Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia Yap Thiam Hien dan Anugerah Lingkungan Hidup dari Goldman Environmental Foundation di tahun 2003.

Di masa kemerdekaan banyak tokoh Kristen yang mempersembahkan hidupnya mengisi kemerdekaan Indonesia dengan berbagai kegiatan pembangunan sesuai bidang keahlian dan bakat masing-masing. Namun, manusia yang masih dalam kegelapan selalu melakukan perbuatan jahat. Begitu juga bangsa Indonesia, terlepas dari berbagai cap dan sebutan baik yang disandangnya, tetap saja berbuat jahat kepada yang lain.


Apa yang terjadi dengan pengusiran terhadap kaum Syiah, Ahmadiyah, atau pembakaran gereja dan mesjid? Mengapa di Yogyakarta, pesantren tempat waria mendekatkan diri pada Tuhan diancam ditutup? Apa yang ada dalam pikiran warga tentang keberagaman dan keindonesiaan?

Baru-baru ini, ada temuan dari Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) tentang potensi radikalisme di Indonesia. Dalam penelitian yang dipimpin Bambang Pranowo, guru besar Sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, terungkap bahwa hampir 50 persen pelajar setuju tindakan kekerasan berdasarkan radikalisme.

Data itu juga menyebutkan 25 persen siswa dan 21 persen guru menyatakan Pancasila tak relevan lagi. Yang lebih mencengangkan, ada 84,8 persen siswa dan 76,2 persen guru setuju penerapan syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan demi solidaritas agama mencapai 52,3 persen siswa. Di antaranya, ada 14,2 persen yang membenarkan serangan bom.

Data ini menunjukkan dua hal.

Pertama, ada kesadaran dan keinginan sebagian orang di Indonesia untuk mengganti ideologi negara dari Pancasila menjadi syariat Islam.

Kedua, adalah tingginya potensi tindak kekerasan atas nama agama.


Wacana tentang penggantian dasar negara dari Pancasila kepada yang lain bukanlah barang baru. Gejala ini punya akar historis panjang. Sejak menjelang republik ini didirikan, sudah ada perdebatan apakah negara ini akan didasari syariat Islam atau tidak. Dalam dasar negara menurut Piagam Jakarta yang ditandatangani pada 22 Juni 1945, sila pertamanya memuat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Namun, setelah ada keberatan dari wakil-wakil agama Kristen, penggalan kalimat itu dihapus.

Setelah Orde Baru berkuasa, terjadi depolitisasi besar-besaran. Partai politik dan organisasi masyarakat diwajibkan berasaskan Pancasila saja. Oleh karenanya, saat reformasi bergulir dan keran kebebasan politik dibuka, Islam politik pun bersemi kembali. Ariel Heryanto, penulis buku State Terrorism and Political Identity in Indonesia (2006), mencatat bahwa re-Islamisasi itu sesungguhnya sudah terjadi sejak dekade 1990-an. Salah satu indikatornya adalah pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Penelitian LIPI pada 2011 juga menyebutkan bahwa kalangan anak muda Indonesia makin mengalami radikalisasi secara ideologis dan makin tak toleran, sementara perguruan tinggi banyak dikuasai oleh kelompok garis keras. Contohnya di Universitas Indonesia, Program Pasca Sarjana sempat terjadi penolakan oleh para mahasiswa di salah satu kelas kebijakan bisnis karena dosennya melakukan dakwah dan bukannya mengajarkan mata kuliah sesuai jadwal yang sudah dibuat oleh Program. Saya sebagai Ketua Kelas waktu itu menemui Ketua Program untuk penggantian dosen yang bersangkutan. Disepakati bahwa apapun yang dilakukan oleh dosen tersebut akan diabaikan dan tidak mempengaruhi nilai akademis mahasiswa. Menurut pengakuan Ketua Program, dosen yang bersangkutan sudah diperingatkan berkali-kali, dan menyebutnya alqaeda. Untuk pemberhentian dosen akan membutuhkan proses panjang. Jadi lebih baik diabaikan saja. Di sisi lain di komputer-komputer yang tersedia di kampus itu isinya hanya dua: dakwah islam dan pornography. Ini fakta pengalaman saya tahun 2005-2007.


Untuk melihat gambaran bagaimana radikalisme menyusup ke dalam alam pikir pemuda, kita bisa menyimak Jihad Selfie, film dokumenter yang dibuat oleh Noor Huda Ismail. Di dalam film ini, tergambar sosok anak muda berusia 17 tahun yang tertarik dengan ide kekerasan atas nama agama. Film itu menunjukan bahwa pola rekruitmen ISIS menyasar anak-anak muda, dan pemuda tadi adalah salah satunya. Dalam rekaman itu beberapa anak muda menyatakan diri bergabung dengan ISIS. Ironisnya, pembaiatan dilakukan di masjid di dekat Kementerian Pertahanan.

Jika menilik data Pew Research Centre, gambaran yang ditunjukkan oleh film dokumenter itu amat relevan. Menurut data Pew, setidaknya ada 4 persen penduduk Indonesia yang mendukung ISIS. Jika data itu sahih, maka berarti ada setidaknya 10 juta orang Indonesia yang bersimpati terhadap kelompok pelaku kekerasan tersebut.

Dalam penelitian lain yang dilakukan LIPI di UGM, UI, IPB, Unair, dan Undip pada 2011, didapat kesimpulan bahwa ada peningkatan pemahaman konservatif atau fundamentalisme keagamaan. Gejala itu terjadi khususnya di kalangan mahasiswa kampus-kampus umum atau sekuler, yang tidak berlandaskan agama.

Selain di universitas, radikalisasi juga terjadi di pesantren-pesantren. Dalam pantauan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), setidaknya ada 19 pondok pesantren yang terindikasi menyebarkan kegiatan radikalisme. Pondok-pondok pesantren itu tersebar mulai dari Lampung, Serang, Jakarta, Ciamis, Cilacap, Magetan, Lamongan, Cilacap, Solo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Makassar, hingga Poso.

Terkait fenomena ini, peneliti LIPI, Endang Turmudi, menyatakan bahwa radikalisasi perlu diwaspadai. Meskipun tak semua mengerucut pada aksi teror, radikalisme berbahaya karena menjadi hal yang mendasari tindakan kekerasan. Oleh karenanya, pemerintah dan masyarakat harus waspada.

Endang juga mengajak masyarakat dan pemerintah agar melakukan pencegahan radikalisme. Deradikalisasi itu bisa dilakukan dengan mengkampanyekan kewaspadaan masyarakat, dekonstruksi ideologi, delegitimasi, serta membangun simpati masyarakat. Meningkatkan kewaspadaan masyarakat bisa dilakukan dengan memberi informasi bahwa radikalisme sedang meluas. Selain itu, dekonstruksi ideologi dapat dilakukan dengan bantuan para ulama.


Para ulama juga harus tegas melegitimasi bahwa terorisme bertentangan dengan Islam. Ketika ada teroris sudah taubat, maka langkah terakhir adalah membangun simpati masyarakat untuk mau menerima mantan teroris yang bertobat sebagai bagian dari mereka.


Kelompok radikal yang membenarkan kekerasan ini di Indonesia memang sudah banyak wujudnya. Dalam catatan The Wahid Institute, sepanjang 2015 setidaknya ada 190 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) terjadi di Indonesia. Angka itu meningkat 23 persen dibanding tahun 2014 sebesar 158 peristiwa. Namun, aktor pelanggaran tersebut sebagian besar adalah negara, yaitu 52% atau sebanyak 130 tindakan. Sementara 48% sisanya atau 89 tindakan dilakukan oleh non-negara.


Selain perluasan kewenangan aparat negara seperti dalam rencana revisi UU Terorisme, dari data itu tergambar juga kewajiban negara yang lain. Di luar tuntutan untuk melakukan deradikalisasi, deideologisasi serta meningkatkan kewaspadaan masyarakat, aparat negara sendiri semestinya tidak membiarkan apalagi terlibat dalam pelanggaran kebebasan beragama itu. Kalau itu terjadi bagaimana peran agama?

Semua agama di dunia termasuk Kristen belum mampu menunjukkan apa yang diharapkan oleh Yesus: damai sejahtera. Perlu kajian ulang dan pembangunan tata kehidupan baru yang sesuai jati diri agama. Agama Kristen dikenal sebagai pengemban kasih. Tetapi praktek kasih yang dilakukan masih terbatas pada pencitraan dan pembenaran keyakinan masing-masing. Agama  bukan jawaban atas permasalahan yang dihadapi dunia. Kita harus menemukan yang lain.

Bersambung: KEKRISTENAN SEBAGAI GEREJA

Bersambung: KEKRISTENAN SEBAGAI GEREJA

TUMBUH KEMBANG GEREJA DI INDONESIA

TUMBUH KEMBANG GEREJA DI INDONESIA

Gereja di Indonesia dibagi menjadi dua bagian, yaitu Gereja Katolik dan Gereja Kristen. Itulah mengapa ada dua Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik di Kementerian Agama Republik Indonesia. Gereja Kristen di Indonesia yang berlanjut sampai saat ini didirikan pada abad ke-12. Orang-orang Kristen Mesir menyatakan bahwa beberapa Gereja Kristen didirikan di Barus pada abad ke-7, daerah pantai barat Sumatera Utara, yang sering menjadi tempat perdagangan. Barus dikunjungi oleh pedagang India dan karena itu dikaitkan dengan Saint Thomas Christian di India. Sering juga disebut sebagai Gereja Nestorian, gereja paling besar di dunia sebelum berkembangnya Gereja Roma Katolik. Gereja Katolik juga mulai muncul pada awal abad ke-14 melalui Misi Katolik Roma ke Indonesia di bawah arahan Mattiussi, yang mengunjungi Sumatra, Jawa, dan Banjarmasin.

Tumbuh Kembang Gereja Mula-mula di Indonesia

Sejarah Gereja Kristen di Indonesia dimulai ketika Portugis tiba di Kesultanan Malaka, sekarang dikenal sebagai Negara Malaysia, pada 1509 untuk explorasi produk setempat yang mereka butuhkan. Pada awalnya, hubungan mereka berjalan baik. Kemudian Portugis menaklukkan Goa. Beberapa konflik antara Muslim dan Kristen terjadi. Muslim di Malaka berpikir bahwa kedatangan orang-orang Kristen Portugis hanya akan menimbulkan masalah bagi mereka. Penaklukan Malaka, dianggap sebagai titik balik dan membawa semua Muslim Malaka ke perasaan menentang orang-orang Kristen Portugis. Kaum Muslim di Aceh dan Kekaisaran Ottoman juga menentang. Portugis berhasil membangun beberapa gereja di Malaka.

Di pihak Katolik, Mattiussi, seorang biarawan Italia, menyatakan bahwa ia telah ditugaskan oleh Paus untuk berlayar dari Padua ke Sumatra. Akhirnya tiba di Jawa dan Banjarmasin. Misi ini dimulai pada 1318 dan berakhir dengan perjalanan darat melalui Cina, Vietnam, dan Eropa pada 1330. Dalam catatannya, ia juga menulis sebuah kerajaan Jawa yang memiliki gaya Buddha Hindu, seperti di Majapahit. Misi tersebut dianggap sebagai misi perintis, karena Gereja Katolik dapat menerima informasi tentang keadaan Asia mengenai misi yang pada saat itu tidak dipengaruhi oleh agama Katolik.

Ketika Malaka diduduki oleh Portugis pada 1511, misionaris Katolik tiba di daerah itu. Salah satu tokoh tumbuh kembang paling terkenal dan penting dalam sejarah gereja di Indonesia adalah Francis Xavier.

Ketika Portugis diusir dari Ternate pada 1574, banyak umat Katolik di daerah itu dibunuh atau masuk Islam. Pada 1605, umat Katolik yang tersisa sekali lagi dipaksa untuk mengadopsi doktrin baru, yaitu Protestan. Baru pada tahun 1808, di bawah kepemimpinan Daendels, umat Katolik diberi kebebasan untuk mengikuti agama mereka sendiri.

Sejarah gereja Kristen berkembang ketika I Wayan Mastra yang lahir di Bali menjadi Kristen pada tahun 1972. Dia menjadi Kristen setelah mengunjungi sebuah sekolah Kristen di pulau Jawa. Kemudian ia menjadi ketua GKPB, Gereja Kristen Protestan Bali. Ia memulai proses transformasi budaya. Mendorong gereja-gereja Kristen di Bali lebih terbuka terhadap budaya Bali setelah Gereja Katolik di Bali melakukannya.

Sejarah gereja di Indonesia, khususnya Gereja Katolik, mengalami perubahan lain ketika pada tahun 1896 seorang pendeta Belanda bernama Frans van Lith datang ke Muntilan di Jawa Tengah. Apapun yang dia coba tidak berhasil dengan baik pada awalnya. Akhirnya pada tahun 1904, empat pemimpin kota Calibawang datang ke rumahnya dan meminta ajaran tentang agama yang dibawanya. Pada 15 Desember tahun yang sama 178 orang Jawa dibaptis di daerah Semagun. Selain itu, Van Lith mendirikan sekolah untuk guru di Muntilan. Sekolah itu disebut  Normaalschule pada 1900. Diubah namanya menjadi Kweekschule pada 1904. Pada tahun 1911, Van Lith mendirikan kembali Seminari Sekunder. Ia berhasil mencetak tokoh-tokoh penting dalam sejarah Katolik Indonesia, antara lain FX Satiman SJ, Albertus Soegijapranata SJ dan Adrianus Djajasepoetra SJ.

Gereja Kristen tidak berhenti menyebarkan ajarannya. Pada 1960-an, banyak orang Komunis dan Cina beralih ke agama Kristen karena bahasa anti-Komunis dan anti-Konfusianisme. Pada waktu itu, banyak sekolah Kristen didirikan untuk mengajar agama. Sejauh ini, gereja Kristen masih berusaha tumbuh kembang lebih cepat dari sebelumnya.

Uskup pertama di Gereja Katolik Indonesia adalah Albertus Soegijapranata SJ, yang diangkat pada tahun 1940. Delapan tahun kemudian, pada 20 Desember, dua pengikut bernama Sandjaja dan Hermanus Bouwens terbunuh di sebuah desa bernama Kembaran. Sandjaja akhirnya dianggap sebagai martir gereja Katolik di Indonesia. Beberapa pahlawan Indonesia yang terkenal juga adalah orang Katolik seperti Agustinus Adisoetjipto, Ignatius Slamet Riyadi dan Yos Soedarso. Fakta ini juga membuat sejarah Gereja di Indonesia, khususnya Gereja Katolik, tumbuh sangat cepat. Namun demikian, ada pemberontakan terhadap umat Katolik dan Kristen pada 1990-an dan awal 2000-an. Untunglah, Gus Dur Wahid, pemimpin Nahdatul Ulama, mampu menekan antipati yang ada di antara partai-partai dari agama yang berbeda.

Tumbuh Kembang Gereja Tradisional

Umat Kristiani dari Gereja Tradisional di Indonesia belum mengerti makna Amanat Agung. Itu terjadi karena gereja tidak mengajarkan sejarah gereja. Sejarah gereja Indonesia tidak bisa dilepas dari zaman penjajahan. Para penjajah seperti Portugis dan Belanda mencari keuntungannya di tanah air  sekaligus membawa Injil ke negara ini. Menaati Amanat Agung tidak menjadi target utama ‘Vereinigte Ostindische Compagnie’ (VOC). Mereka datang untuk berdagang dan menjadi kaya. Mereka tidak peduli dengan kesejahteraan penduduk jajahannya, yang disebut warga bumi putera, istilah kerennya pribumi.


Memang ada penginjilan terhadap orang pribumi dan kebaktian dalam bahasa Melayu, tetapi gereja dan kehidupan rohani dikuasai orang Belanda. Kebanyakan anggota gereja, secara khusus orang Indonesia asli, belum memahami makna Injil. Mereka menjadi orang Kristen oleh karena ingin untung atau menyenangkan hati atasan mereka. Sering orang Kristen pribumi hanya pasif di gereja (disebut aliran pasifisme) dan merasa puas, jika sudah dibaptis. Itu sebabnya kebanyakan jemaat lokal kurang mandiri dan terpelajar dalam hal agama.

Selain itu para hamba Tuhan yang hampir semua berasal dari Belanda kurang menguasai bahasa Melayu. Mereka kurang berkualitas dalam pemuridan, sehingga warga jemaat tidak diajar dengan baik. Agama Kristen menjadi “agama Belanda.” Itu sebabnya selama zaman VOC kira-kira 250 tahun sejarah gereja merupakan pra-sejarah gereja Indonesia. Gereja Pra-sejarah kita sebut gereja tradisional hasil sending dan penginjilan penjajah yang mendirikan gereja untuk setiap suku yang merupakan bagian dari strategi penguasaan dalam politik adu domba (devide et emperea, artinya dipecah belah supaya mudah dikuasai). Gereja mulai tumbuh kembang setelah kedatangan para perintis Gereja Pentakosta, pada abad ke-20 mulai bangkit dan menjadi mandiri.

Pada zaman Daendels (Belanda) dan Raffles (Inggris) awal abad ke-19, rakyat Indonesia bebas untuk memilih agama. Pada zaman ini badan misi dari Amerika dan terutama dari Eropa datang ke Indonesia untuk memberitakan Injil kepada orang pribumi. 

Dunia Barat pada waktu itu mengalami kebangunan-kebangunan rohani besar-besaran. Mereka dipenuhi Roh Kudus sehingga mengalami kerinduan untuk menanam gereja di antara orang yang masih belum terjangkau oleh Injil, termasuk suku-suku di Indonesia. Gereja yang didirikan oleh mereka tidak lagi gereja Belanda. Mereka melakukan penginjilan yang bersifat interdenominasi. Para misionaris ini sebagian diutus untuk menyelamatkan gereja VOC yang sudah berdiri di Indonesia. 

Contohnya Jozef Kam, rasul Ambon, menjadi pelopor dan tidak berhenti memperjuangkan tenaga baru bagi gereja yang sedang secara rohani mati dan hampir tenggelam. Sering guru-guru Injil menolong agar gereja tetap bisa hidup dan berdiri dengan mengumandangkan pengakuan Iman Rasuli. 

Sejak abad ke-7 agama Kristen menyebar di Nusantara, melalui Gereja Assiria (Gereja Timur). Penginjil dari salah satu Gereja Kekristenan tertua – yang berpusat di Parthia (Perbatasan Irak dan Iran di bagian timur) – membangun Gereja Pancur di Deli Serdang dan Barus, Tapanuli Tengah pada tahun 645.

Disusul misi Katolik Roma. Pertama tiba pada tahun 1511 di tanah Aceh, dari Ordo Karmel. Pada  1534 tiba di kepulauan Maluku bersama kapal-kapal Portugis yang memiliki misi penjelajahan samudera.

Sejarah panjang agama Kristen di Indonesia, mewarnai pula kehidupan bangsa Indonesia. Di antara penganut Kristen yang saleh itu, terdapat nama-nama yang membantu kemerdekaan Indonesia. Mereka para Tokoh Perjuangan dan Pahlawan Nasional seperti Robert Wolter Monginsidi, Sam Ratulangi, Agustinus Adisoetjipto, Yos Sudarso, dan masih banyak nama lagi.

Gereja Lokal bersejarah yang juga berarsitektur indah di berbagai kota di Indonesia, yang termasuk gereja tradisional adalah:

Gereja Katedral, Jakarta

Gereja Katedral Jakarta bernama resmi Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neogotik dari Eropa. Pada tahun 1890, gereja ini pernah roboh dan dibangun kembali. Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pro-vikaris, Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya. Diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, S.J., Vikaris Apostolik Jakarta. 

Gereja Katedral Santo Petrus, Bandung

Dikenal juga dengan nama Gereja Katedral Bandung. Dirancang oleh Charles Proper Wolff Schoemaker dengan gaya arsitektur neogotik akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m2 dan luas bangunan sebesar 785 m2. Pada 16 Juni 1895, gereja ini dinamai St. Franciscus Regis. Namun seiring berkembangnya kota Bandung yang pada 1906 berstatus gemeente (setingkat kotamadya), Gereja St. Franciscus Regis dipugar sepanjang tahun 1921. Katedral ini lalu diberkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr. Edmundus Luypen, S.J.

Gereja Sion, Jakarta

Berlokasi di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya. Gereja Sion merupakan Gereja Portugis yang juga dikenal dengan nama Portugeesche Buitenkerk. Gereja dengan gaya arsitektur klasik yang megah ini selesai dibangun pada 1695 selama dua tahun. Gereja itu dibangun kembali oleh pemerintah Belanda. Peletakan batu pertama pembangunan Gereja Sion dilaksanakan pada 1693, oleh Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693. Peresmian gereja ini dilakukan pada 23 Oktober 1695 oleh Pendeta Theodorus Zas. Kisah pemberkatan dan pembangunan ini masih tertulis rapi pada dinding gereja hingga saat ini dalam bahasa Belanda.

Sebagai gereja tertua di Jakarta yang masih berfungsi sebagai gereja hingga saat ini, Gereja Sion sempat dipugar pada 1920 dan 1978. 

Gereja Fidelis Sejiram, Seberuang, Kalimantan Barat

Misi gereja juga masuk hingga ke pedalaman Kalimantan. Salah satu gereja tertua di Indonesia, ini berada di desa kecil pinggiran Sungai Seberuang, tepatnya di Desa Sejiram di Kalimantan Barat. Dibangun pada 1892, menjadikan Gereja Fidelis Sejiram ini sebagai gereja tertua di Kalimantan Barat. Nilai sejarah dan kontribusi perkembangan gereja ini membuatnya menjadi bangunan sejarah yang dilindungi pemerintah. Berawal dari diutusnya Pastur Looymans untuk menyebarkan ajaran Katolik bagi masyarakat Dayak. Saat itu dimulailah penyebaran ajaran Katolik di Kalimantan. Awalnya pada 1982, dibantu masyarakat Dayak lokal, Pastur Looymans membangun pondok sebelum berkembang menjadi sebuah gereja, sekolah, dan juga asrama untuk para siswa. Dalam menjalankan misi ini, Pastur Looymans dibantu Pastur Mulder. Salah satu ciri khas dari gereja ini adalah patung ayam yang bertengger pada bagian atas yang dipasang semasa pemerintahan kolonial Belanda.

Gereja Santa Maria de Fatima, Jakarta

Gereja Santa Maria de Fatima, Jakarta, berlokasi di kawasan pecinan Glodok, Jakarta Barat. Gereja ini unik. Arsitekturnya mirip dengan kuil ataupun klenteng. Gereja ini dibangun oleh seorang kapitan keturunan Tionghoa bermarga Tjioe pada 1954. Tjioe mengadopsi gaya arsitektur khas Tionghoa yang menyerupai kelenteng. Karena nilai sejarah dan juga arsitekturnya, bangunan gereja Santa Maria de Fatima ini ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya.

Gereja Blenduk, Semarang

Gereja Blenduk disebut pula GPIB Immanuel. Gereja itu dibangun warga Belanda yang tinggal di Semarang pada 1753. Nama Blenduk merupakan pemberian nama dari warga Semarang.  Nama blenduk merujuk kubah gereja, yang berbentuk setengah lingkaran. Kubah Gereja Blenduk besar berlapis perunggu. Di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Gereja ini sempat direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde. Mereka menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Hingga saat ini gereja Blenduk masih beroperasi sebagai gereja.

Candi Hati Kudus Yesus, Yogyakarta

Boleh dikata gereja bernama Candi Hati Kudus Yesus. Ini merupakan simbol akulturasi kebudayaan Jawa Hindu dan ajaran Kristen. Sekilas, gereja ini mirip dengan candi-candi Hindu. Penggambaran Yesus di gereja ini, dekat dengan penggambaran keanggunan raja Jawa. Gereja dengan arsitektur yang indah ini, didirikan pada 1930 oleh keluarga Schutzer, keluarga Belanda yang tinggal di Yogyakarta.

Gereja Ayam, Jakarta

Gereja ayam adalah salah satu gereja tua ikonik di Jakarta. Disebut Gereja Ayam disebabkan penunjuk arah mata angin yang berada di atap gereja berbentuk ayam. Gereja Ayam dibangun antara 1913 – 1915 oleh Ed Cuypers dan Hulswit di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Keduanya, membangun Gereja Ayam dengan perpaduan arsitektur Italia dan Portugis.

Gereja Immanuel, Jakarta

Gereja tertua di Indonesia lainnya adalah Gereja Immanuel, yang berlokasi di seberang Stasiun Gambir. Gereja Immanuel dibangun selama empat tahun dimulai sejak 1845. Gereja umat Protestan itu memiliki arsitektur yang indah. Dengan kubah raksasa, gedung ini diperkokoh dengan pilar-pilar raksasa yang megah.

Katedral Bogor, Bogor, Jawa Barat

Cikal bakal Gereja Katedral Bogor atau Gereja Katedral Santa Perawan Maria, dimulai pada 1881, saat  Mgr. AC. Claessens membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas. Sekarang meliputi kompleks Gereja, Pastoran, Seminari, Sekolah, dan Bruderan Budi Mulia. Semula tempat itu digunakan sebagai tempat peristirahatan dan Misa Kudus para tamu dari Jakarta. Pada tahun 1886 MYD. Claessen memulai karya pastoralnya untuk mendirikan Panti Asuhan untuk anak-anak. Saat itu bangunan rumah Panti Asuhan tersebut baru bisa menampung 6 orang anak. Usaha pastoral itu kemudian berkembang menjadi Yayasan Vincentius pada tahun 1887. Pada tahun 1888 mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1889 Pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menyatakan bahwa Bogor menjadi Stasi misi tetap Batavia. Tahun 1896 (setahun setelah Mgr. AC. Claessen meninggal), MYD. Claessens mulai membangun sebuah gedung Gereja yang megah di atas tanah yang didiaminya. Gereja itu yang hingga sekarang kita kenal dengan Gereja Katedral.

Gereja Merah, Kediri

Bergaya arsitektur Gotik. GPIB Imannuel ini didirikan pada 1904 dengan warna putih gading sebelum dicat menjadi merah pada 2005. Seketika gereja ini jadi lebih dikenal karena warnanya yang merah sebagai Gereja Merah. Gereja di kota Kediri ini juga masih menyimpan Injil berbahasa Belanda yang dibuat pada 1867.

Gereja Kepanjen, Surabaya

Gereja tertua selanjutnya berada di Kota Pahlawan Surabaya. Gereja yang didirikan pada 1815 ini memiliki nama Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria. Dikenal juga dengan nama Gereja Kepanjen. Eksterior Gereja Kepanjen bergaya gotik dengan interior berupa dinding bata merah yang terekspos. Gereja ini kian indah dengan hiasan kaca patri yang berada di dalam gereja

G3: Gold, Glory, Dan Gospel

Pencarian rempah-rempah beriringan jalan dengan keinginan menyebarkan agama Kristen.

APRIL 1511. Setelah membaca surat dari Rui de Araujo, satu dari 19 orang Portugis yang ditahan di Malaka, Alfonso de Albuquerque, gubernur Portugis kedua di India, mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar dan berlayar dengan belasan kapal menuju Malaka. Dalam waktu singkat, dia berhasil menaklukkan Malaka, pelabuhan perdagangan penting kala itu.

Dari Malaka, Albuquerque mengirim ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah. Mereka tiba di Banda, menuju Maluku, dan akhirnya Ternate. Di Ternate, Portugis mendapat izin membangun benteng. Di Maluku, Portugis memantapkan kedudukan sekaligus menyebarkan agama Katolik. Sekelompok pendeta Katolik yang datang bersama Antonio Galvao, kemudian jadi pemimpin Portugis di Maluku, memulai kerja misionaris mereka.

Setelah menguasai Malaka, Portugis bisa memonopoli perdagangan dan menyebarkan agama Katolik secara lebih teratur di wilayah timur: Ambon dan Halmahera, Ternate dan Tidore. Salah satu zandeling Katolik di kawasan itu adalah Franciscus Xaverius dari Ordo Yesuit, pastor dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis –kelak dianggap sebagai pelopor penyebaran Katolik di Indonesia.

Monopoli menimbulkan perlawanan dari kerajaan-kerajaan lokal, terutama Aceh, yang membuat misi tak bisa menyebar ke wilayah barat. Misi itu menciptakan rintangan bagi dirinya sendiri.  Ketika hegemoni Portugis dan Spanyol di kawasan itu berakhir, awal abad ke-17, gereja Katolik pun kehilangan pelindung dan wilayah.

Kedatangan Portugis ke wilayah Timur tak lepas dari mandat Paus Alexander VI yang melalui Perjanjian Tordesillas membagi belahan dunia di luar daratan Eropa. Sisi lainnya, Barat, diserahkan kepada Spanyol. Kedua negara ini bertemu di Maluku dan menyelesaikan persoalan lewat Perjanjian Saragossa sehingga masing-masing bisa tetap meraup rempah-rempah.

Portugis semula merahasiakannya. Tetapi jalan menuju kepulauan rempah-rempah akhirnya tersingkap berkat buku Itinerario karya Jan Huygen van Linshoten, seorang pengelana dan pedagang Belanda, pada 1595. Sebuah perusahaan Belanda, Compagnie van Verre, membiayai ekspedisi ke Nusantara yang dipimpin Cornelis de Houtman. Pada 1596, mereka mendarat di Pelabuhan Banten. Kunjungan pertama tak berhasil. Dikirimlah lagi ekspedisi dagang yang dipimpin Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Kali ini mereka mendapat simpati penguasa Banten. Mereka kembali ke negerinya dengan muatan penuh, sementara kapal lainnya meneruskan perjalanannya ke Maluku. Setelah terbentuk Kongsi Dagang Belanda (VOC), mereka menancapkan monopoli dagang, bahkan kekuasaan, di Nusantara.

VOC mendukung Protestan dan mengambil-alih jemaah Katolik di kawasan timur Indonesia. Hanya di Flores Katolik terus berkembang. Protestan sendiri, yang menjadi anak emas selama masa VOC, mengalami masa subur.

Kedatangan Portugis dan Belanda ke Nusantara bukan semata terdorong pencarian rempah-rempah tapi juga kejayaan dan keinginan menyebarkan agama Kristen –dikenal dengan gold, glory, gospel.

Anggapan bahwa Kristen tiba bersama kedatangan orang-orang Eropa ke Nusantara tiba-tiba mendapat sanggahan baru. Pada 1969, J. Bakker SJ menulis di majalah Basis bahwa agama Katolik sudah ada pada abad ke-7 M dan berakar di Sumatra Utara lalu menyebar ke daerah lain, termasuk Jawa. Dengan menggunakan sumber-sumber Islam, dia meyakini pula bahwa Katolik datang dari India Selatan.

Bermula dari Rasul Thomas yang mewartakan Injil hingga ke India Selatan. Katolik berkembang di India Selatan dan lewat perdagangan menyebar ke Sumatra Utara. Gereja Kristen Katolik mulai ditanam di daerah Tapanuli sebelum tahun 600 oleh saudagar dari India yang menamakan diri Thomas Christians.

Jan Baker mendasarkan teorinya pada tulisan ilmuwan Islam bernama Shaykh Abu Salih al-Armini, yang menulis semacam buku ensiklopedi berjudul Tadhakkur fiha Akhbar min al-Kana’is wa’l-Adyar min Nawahin Misri w’al Iqtha’aihu Buku ini berisi daftar gereja dan pertapaan di Mesir dan wilayah Timur lainnya. Dalam bukunya, Abu Salih menyebut di Fansur, tempat asal kamper, terdapat sekelompok Kristen Nestorian dan sebuah gereja yang dipersembahkan kepada Maria.

Di antara sumber-sumbernya, Abu Salih menggunakan Kitab Nazm al-Jawhar karya Sa’id bin al Batriq yang berasal dari tahun 910 dan mengisahkan sejumlah peristiwa dari abad ke-7. Menurut Bakker, ‘Fansur’ itu sama dengan ‘Pansur’, dekat Baros di Tapanuli. Dia juga menulis penyebutan Kristen Nestorian dari Abu Salih keliru dan “meluruskannya” sebagai Katolik.

AJ Butler MA FSA saat memberikan catatan terhadap terjemahan BTA Evetts atas karya Abu Salih ke dalam bahasa Inggris, berjudul The Churches and Monasteries of Egypt Attributed to Abu Sahlih, The Armenian, menjelaskan bahwa kata Fahsur memang tertulis dalam manuskrip aslinya. Namun, kata ini seharusnya ditulis Mansur, sebuah negara di zaman kuno yang terdapat di barat laut India, terletak di sekitar Sungai Indus. Mansur merupakan negara utama yang terkenal di antara orang-orang Arab dalam hal komoditas kamper.

Adolf Heuken SJ dalam tulisan “Christianity in Pre-Colonial Indonesia” juga mendukung pendapat Butler. “Kecuali catatan singkat yang diberikan Abu Salih, tak ada informasi lebih lanjut tentang Kristen di Fansur/Barus,” tulis Heuken, termuat di A History of Christianity in Indonesia karya Jan Sihar Aritonang dan Karel A. Steenbrink.

Di luar perdebatan itu, Barus sendiri merupakan tempat yang menarik untuk diteliti. Ia dianggap salah satu kota kuno yang terkenal di Asia sejak sekitar abad ke-6. Pada 1995, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient melakukan penelitian arkeologi untuk menggali situs Lobu Tua di Barus. Hasilnya, “pada zaman Lobu Tua, Barus muncul sebagai sebuah tempat perdagangan asing yang mungkin didirikan pada pertengahan abad ke-9 M oleh pedagang dari India Selatan atau Sri Lanka. Dalam waktu singkat, mereka didatangi pedagang-pedagang dari Timur Tengah, yang juga mencari kamper,” tulis Claude Guillot dkk. dalam Barus: Seribu Tahun yang Lalu, yang merupakan hasil penelitian itu.

Terkait kemungkinan adanya sekelompok masyarakat Nestorian di Barus, Claude Guillot dkk menyebutkan perlu bukti arkeologis setelah situs Barus yang mendahului Lobu Tua berhasil ditemukan. “Jika ternyata benar, maka didapatkan bukti bahwa satu jaringan yang sebagian beragama Nestorian menghubungkan Baru dengan Teluk Persia lewat Sri Lanka dan pantai Malabar, khususnya Quilon.”

Sekalipun VOC bangkrut, dan kerajaan Belanda menerapkan pemisahan antara gereja dan negara, pemerintah Hindia Belanda tetap memberikan peran besar dalam perkembangan Protestan. Atas inisiatif pemerintah kolonial, orang-orang Protestan digabung dalam satu organisasi Gereja Protestan di Hindia Belanda. Pemerintah mensubsidi gereja dan menggaji para pendeta. Demi kepentingan politik, pemerintah mengizinkan penginjilan ke daerah-daerah.

Pada 1800 rohaniawan Katolik Roma datang kembali secara resmi ke Jawa. Delapan tahun kemudian, rohaniawan Katolik dari Negeri Belanda juga datang. Adanya “zending ganda” sempat menjadi sumber konflik di Majelis Rendah Belanda sehingga ditetapkan pembagian wilayah kerja. “Sesudah secara definitif peraturan tentang izin masuk para misionaris ke Hindia Belanda ditetapkan, maka dengan berangsur-angsur misi pun dapat dikembangkan lagi. Sejak tahun 1859 kaum Yesuit dari Negeri Belanda dilibatkan dalam kegiatan itu,” tulis Jan Bank.

Kesempatan ini tak disia-siakan berbagai badan zending, baik Protestan maupun Katolik. Menurut Th van den End dan Aritonang dalam “1800-2005: a National Overview”, antara tahun 1800-1900 ada sekira 15 badan zending yang bekerja di Hindia Belanda. Mereka mendirikan sekolah-sekolah dan rumah sakit sebagai sarana penginjilan. Mereka juga menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah.

Sejak kedatangannya, teologi yang berkembang di Nusantara masih didominasi teologi Barat. Pada abad ke-19 mulailah muncul para pemikir teologi, yang disebut prototeolog. Prototeolog  menggabungkan kekristenan dengan budaya lokal seperti Paulus Tosari dan Sadrach. Kemudian makin menguat setelah berdirinya seminari dan sekolah tinggi teologi.

Pada abad ke-20, para penginjil Katolik dan Protestan mulai mengubah paradigma mengenai adat dan kepercayaan lokal agar penginjilan lebih bisa diterima masyarakat.

Tumbuh Kembang Gereja Abad 20

Gereja Tradisional

Pada tanggal 6-13 November 1949 diadakan: ‘Konferensi Persiapan Dewan Gereja-gereja di Indonesia.” Sebelum Perang Dunia II telah diupayakan mendirikan suatu Dewan yang membawahi pekerjaan Zending. Namun karena pecahnya PD II maksud tersebut diundur. Setelah PD II berdirilah tiga buah Dewan Daerah. Dewan Permusyawaratan Gereja-gereja di Indonesia, berpusat di Yogyakarta (Mei 1946). Majelis Usaha bersama Gereja-gereja di indonesia bagian Timur  berpusat di Makasar (9 Maret 1947). Majelis Gereja-gereja bagian Sumatera (awal tahun 1949), di Medan.

Ketiga dewan daerah ini didirikan dengan maksud membentuk satu Dewan Gereja-gereja di Indonesia, yang melingkupi ketiga dewan tersebut. Pada tanggal 21-28 Mei 1950 diadakan Konferensi Pembentukan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), bertempat di Sekolah Theologia Tinggi (sekarang Sekolah Tinggi Teologi dan Filsafat Jakarta). Hadir dalam konferensi tersebut:

  1. HKBP, Huria Kristen Batak Protestan
  2. GBKP, Gereja Batak Karo Protestan
  3. Gereja Methodist Sumatera
  4. BNKP, Banua Niha Keriso Protestan
  5. Gereja Kalimantan Evengelis
  6. GPIB, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat
  7. Gereformeerde Kerken in Indonesia
  8. GKP, Gereja Kristen Pasundan
  9. Gereja Kristen Sekitar Muria
  10. Gereja Kristen Jawa Tengah
  11. Gereja Kristen Djawi Wetan
  12. Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee/Khoe hwee Jawa Barat
  13. Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee/Khoe hwee Jawa Tengah
  14. Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee/Khoe hwee Jawa Timur
  15. Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee/Khoe hwee Jakarta
  16. Gereja Kristen Protestan di Bali
  17. Gereja Kristen Sumba
  18. Gereja Masehi Injili Timur
  19. Gereja Masehi Injili Sangihe & Talaud
  20. Gereja Masehi Injili Minahasa
  21. Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow
  22. GKST, Gereja Kristen Sulawesi Tengah
  23. GKTR, Gereja Kristen Toraja Rantepao
  24. GKTM, Gereja Kristen Toraja Makale
  25. GKST,
  26. GKSS, Gereja Kristen Sulawesi Selatan Makassar
  27. GMIH, Gereja Masehi Injili Halmahera
  28. Gereja Protestan Maluku
  29. Gereja Masehi Injili Irian
  30. Gereja Protestan di Indonesia

Salah satu agenda dalam konferensi tersebut adalah pembahasan tentang Anggaran Dasar DGI. Pada tanggal 25 Mei 1950, Anggaran Dasar DGI disetujui oleh peserta konferensi dan tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal berdirinya Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) dalam sebuah “Manifes Pembentoekan DGI”:

“Kami anggota-anggota Konferensi Pembentoekan Dewan Geredja-geredja di Indonesia, mengoemoemkan dengan ini, bahwa sekarang Dewan geredja-geredja di Indonesia telah diperdirikan, sebagai tempat permoesjawaratan dan oesaha bersama dari Geredja-geredja di Indonesia, seperti termaktoeb dalam Anggaran Dasar Dewan geredja-geredja di Indonesia, yang soedah ditetapkan oleh Sidang pada tanggal 25 Mei 1950. Kami pertjaja, bahwa dewan Geredja-geredja di Indonesia adalah karoenia Allah bagi kami di Indonesia sebagai soeatoe tanda keesaan Kristen jang benar menoedjoe pada pembentoekan satoe Geredja di Indonesia menoeroet amanat Jesoes Kristoes, Toehan dan Kepala Geredja, kepada oematNja, oentoek kemoeliaan nama Toehan dalam doenia ini”.

Demikianlah DGI telah menjadi wadah berhimpun Gereja-gereja di Indonesia. Anggotanya pun semakin bertambah dari waktu ke waktu. Dengan makin berkembangnya jumlah anggota, maka makin menunjukkan semangat kebersamaan untuk menyatu dalam gerakan oikoumene di Indonesia. Dalam wadah PGI, gereja-gereja di Indonesia yang memiliki keragaman latar belakang teologis, denominasi, suku, ras, tradisi budaya dan tradisi gerejawi, tidak lagi dilihat dalam kerangka perbedaan yang memisahkan, melainkan diterima sebagai harta yang berharga dalam memperkaya kehidupan gereja-gereja sebagai Tubuh Kristus.

Seiring dengan perkembangan dan semangat kebersamaan itu pulalah yang turut mendasari perubahan nama “Dewan Gereja-gereja di Indonesia” menjadi “Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.” Perubahan ini diputuskan pada Sidang Raya X di Ambon tahun 1984. Perubahan nama itu terjadi atas pertimbangan: “bahwa persekutuan lebih bersifat gerejawi dibanding dengan perkataan dewan, sebab dewan lebih mengesankan kepelbagaian dalam kebersamaan antara gereja-gereja anggota, sedangkan persekutuan lebih menunjukkan keterikatan lahir-batin antara gereja-gereja dalam proses menuju keesaan”.

Pergantian nama itu mengandung perubahan makna. Persekutuan merupakan istilah Alkitab yang menyentuh segi eksistensial, internal dan spiritual dari kebersamaan umat Kristiani yang satu. Sesuai dengan pengakuan PGI bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia serta Kepala Gereja, sumber Kebenaran dan Hidup, yang menghimpun dan menumbuhkan gereja sesuai dengan Firman Allah, maka sejak berdirinya PGI, gereja-gereja berkomitmen untuk menyatakan satu gereja yang esa di Indonesia.

Keesaan itu ditunjukkan melalui kebersamaan dalam kesaksian dan pelayanan, persekutuan, saling menolong dan membantu. PGI tidaklah bermaksud untuk menyeragamkan gereja-gereja di Indonesia. PGI juga bukanlah hendak menjadi suatu super church yang mendominasi gereja-gereja anggota. Keesaan yang dimaksud adalah keesaan dalam tindakan. Keesaan yang makin lama makin bertumbuh dan berkembang ketika melakukan kegiatan-kegiatan bersama dalam visi dan misi bersama.

Sampai pada tahun 2009, PGI telah menghimpun 88 gereja anggota dan lebih dari 15 juta anggota jemaat yang tersebar dari Merauke sampai Sabang dan dari Rote sampai Talaud. Keanggotaan PGI mewakili 80 persen umat Kristen di Indonesia. Dengan lambang “oikoumene” gereja-gereja anggota PGI optimistis berkarya dan melayani di Indonesia dan dunia.

PGI merekatkan hubungan di antara gereja-gereja anggotanya. PGI juga terpanggil untuk bekerjasama dan membangun kemitraan dengan gereja-gereja dan lembaga oikoumene lainnya, dan antaragama, baik tingkat nasional maupun internasional. Hubungan kemitraan ini dimaksudkan untuk menciptakan kerukunan umat beragama serta kesejahteraan manusia di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.

Gereja Pentakosta

William Henry Offiler lahir pada tahun 1875 di Nottingham, Inggris. Beliau adalah pendiri gereja Bethel Temple, Seattle, Amerika Serikat,  yang sekarang dikenal dengan nama Bethel Christian Ministries. Pelayanan ini dimulai dari Pine Street Pentecostal Mission yang terletak di pusat kota Seattle antara Second dan Pine pada sekitar tahun 1910 an. Disinilah tempat cikal bakal missi Pentakosta ke Indonesia.


W.H. Offiler dibaptis ketika berusia 16 tahun dan menempuh pendidikan di sebuah missi di Sudan, Afrika Tengah. Di awal tahun 1890 ia pindah ke Canada, setelah itu ke Amerika, dan pada tanggal 10 Agustus 1899 tiba di Spokane, Washington.


Tanggal 16 Nopember 1900 Rev.Offiler menikah dengan Gertrude Riley. Mereka dikaruniai 3 orang anak yaitu Willem, Harriet, dan Edith. Pada tahun 1914, Rev.Offiler pindah ke Glacier National Park, Montana. Disini ia bekerja sebagai pengawas pada perusahaan pemasang pipa pemanas. Panggilan Tuhan datang melalui penglihatan pada W.H.Offiler dan istrinya. Mereka menyerahkan hidup sepenuhnya untuk melayani Tuhan. W.H.Offiler sekeluarga berangkat menuju Seattle.


Di Pine Street Mission, Rev.Offiler kemudian diangkat menjadi gembala. Tahun 1919 dibangunlah sebuah gedung baru di Seventh Avenue dan Oliver Street. Di tempat inilah diadakan ibadah yang kemudian melahirkan missionaris-missionaris yang dikirim ke luar negeri. Mereka antara lain Richard Dick Van Klaverans dan Cornelius E. Groesbeek yang membawa api pentakosta ke Indonesia.


Kemudian pada awal musim semi tahun 1920 dimulailah pembangunan sebuah gedung gereja yang lebih luas lagi di Third Avenue dan Bell Street.


Setelah 23 tahun mereka menempati gedung gereja tersebut, kemudian Tuhan memberi sebuah tempat di Crystal Pool, sebuah gedung di sudut Second Avenue dan Lenora Street. Gedung yang megah, besar dan sudah lama kosong ini diubah menjadi gedung gereja Bethel Temple yang ditempati sejak tahun 1944.


Rev.W.H.Offiler menggembalakan jemaat ini selama 34 tahun. Beliau digantikan oleh Rev.William West Patterson. Rev.W.H.Offiler kemudian berdiam di Bethel Evangeli Park, Mirror Lake, Federal Way, Washington dan meninggal pada 29 September 1957.


Pada tanggal 4 Januari 1921, Richard Dick Van Klaverans dan Cornelius Groesbeek beserta keluarga berangkat dari Seattle ke Indonesia. Mereka naik kapal laut Suamaru ke Yokohama, Osaka, singgah di China, lalu ke Pulau Jawa. Tanggal 23 Pebruari 1921, mereka tiba di Batavia (Jakarta). Dari Jakarta melalui Mojokerto, Surabaya, Banyuwangi dengan menumpang kapal Varkenboot mereka tiba di Singaraja, Bali pada bulan Maret 1921. Pemerintah Belanda melarang hamba Tuhan ini menetap dan menginjil di Bali dengan alasan takut merusak kebudayaan asli penduduk Bali. Oleh sebab itulah menjelang Natal tahun 1922, kedua keluarga ini berangkat ke Surabaya. Keluarga van Klaverans menuju ke Batavia.


Di Surabaya, Rev.Cornelius E.Groesbeek berkenalan dengan Ny.Wijnen yang mempunyai seorang keponakan yang bekerja di BPM Cepu (Shell), yaitu F.G.Van Gessel. Bulan Januari 1923 dimulailah kebaktian Pentakosta yang pertama di Deterdink Boulevard, Cepu. Pada 30 Maret 1923 diadakan baptisan air pertama di Pasar Sore Cepu bagi 13 orang. Baptisan ini dilakukan oleh Rev. Cornelius E.Groesbeek dan dibantu oleh Rev. Johan Thiessen, seorang missionari dari Belanda. Nama-nama yang dibaptis adalah Jan Jeckel, Ny Jeckel, F. G van Gesel, Ny van Gesel, Ch C De Vriew, Frits Salem Lumoindong, Tn Win Vincentie, Ny Vincentie, Agust Kops, Corie Eiderbrink, Anton Leterman, Sambow Ignatius Paulus Lumoindong, Ny SIP Lumoindong Vincentie.


Antara tahun 1923-1928 jemaat di Cepu menghasilkan tidak kurang dari 16 hamba Tuhan yang menjadi pioner-pioner Gereja Pentakosta di Indonesia. Mereka menyebar ke Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Pada tanggal 19 Maret 1923 berdirilah Vereeniging De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie yang berkedudukan di Bandung dengan Ketua: Pdt. D.H.W.Weenink Van Loon.


Pada tanggal 30 Maret 1923, badan tersebut mendapat SK Gubernur Hindia Belanda dengan Badan Hukum No. 2924, tertanggal 4 Juni 1924 di Cipanas, Jawa Barat. Diakui sebagai Kerkgenootscap (Badan Gereja) dengan Beslit No. 33, Staatblad No. 368. Perkembangan selanjutnya, gerakan ini dengan cepat menyebar dari Surabaya ke seluruh Jawa, Sumatera Utara, Minahasa, Maluku, Kalimantan dan Irian.


Tahun 1931, Zs.M.A.Alt keluar dari ‘Pinkster Gemeente’ dan mendirikan Pinkster Zending. Tahun 1932, Pdt. Johan Thiesen keluar dari ‘Pinkster Gemeente’ dan mendirikan Pinkster Beweging yang kemudian dikenal dengan nama Gereja Gerakan Pentakosta. Pada tahun 1934, istri dari Rev.Groesbeek meninggal dunia, dikuburkan di Surabaya.

Perkembangan jemaat di berbagai tempat menuntut tenaga- tenaga terlatih yang sanggup memenuhi tantangan zaman. Tahun 1935 lahirlah inisiatif untuk mengadakan Lembaga Pendidikan Alkitab. Sekolah Alkitab pertama gereja Pentakosta dibuka oleh penginjil William West Patterson di Surabaya, Jawa Timur. Januari 1935 yang diberi nama Nederlandsche Indie Bybel Institut (NIBI) bertempat di JI. Embong Malang 63. Dibantu oleh Pdt. F.G.Van Gessel, Rev. Johnson, Pdt.H.N Runkat, Pdt.W.Mamahit. Pecahnya Perang Dunia II, Rev.W.W.Patterson harus kembali ke Amerika dan Nederlandsche Indie Bybel Institut ditutup.


Perkembangan ajaran Pentakosta berkembang begitu pesatnya. Pemerintah Hindia Belanda akhirnya harus memberi pengakuan kepada gerakan Pentakosta ini. Dalam Beslit Gubernur Jenderal nomor 29 tanggal 24 Juni 1937 menjadi \”De Pinkstergemeente in Nederlandsch Oost Indie\”. Kemudian dengan Beslit nomor 33 pada tanggal 4 Juni 1937 diumumkan dalam Staatblad nomor 368 diakui sebagai \”Kerkgenootschap\” (Badan Gereja) dengan nama \”De Pinksterkerk in Nederlandsch Oost Indie\”. Dengan pecahnya Perang Dunia II dan beralihnya kepengurusan gereja ke tangan putra-putra Indonesia, maka pada tahun 1942 nama gereja pun mulai disebut menjadi \”Gereja Pentakosta di Indonesia\”.


Di kota minyak Cepu pada tahun 1923 F.G Van Gessel pegawai BPM bertobat dan dipenuhi Roh Kudus. Kemudian disusul banyak putera – puteri Indonesia yang kemudian menjadi pionir-pionir pergerakan Pentakosta di seluruh Indonesia.


Karena kemajuan yang pesat, maka pada tanggal 4 Juni 1924 Pemerintah Hindia Belanda mengakui eksistensi “De Pinkster Gemeente in Nederlansch Indie” sebagai sebuah “Vereeniging” (perkumpulan) yang sah. Oleh kuasa Roh Kudus serta semangat pelayanan yang tinggi, maka jemaat-jemaat baru mulai bertumbuh dimana-mana. Tanggal 4 Juni 1937, pemerintah meningkatkan pengakuannya kepada pergerakan Pentakosta menjadi “Kerkgenootschap” (persekutuan gereja) berdasarkan Staatblad 1927 nomor 156 dan 523, dengan Beslit Pemerintah No.33 tanggal 4 Juni 1937 Staadblad nomor 768 nama “pinkster Gemente” berubah menjadi “Pinksterkerk in Nederlansch Indie”. Pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942, nama Belanda itu diubah menjadi “Gereja Pentakosta di Indonesia”. Ketika itu Ketua Badan Pengoeroes Oemoem  Majelis Pusat) adalah Pdt. H.N Runkat.


Selain perkembangan perlu juga dicatat beberapa perpecahan yang kemudian melahirkan gereja-gereja baru dimana para pendirinya berasal dari orang-orang GPdI.

  • Pdt. Ho Liong Seng (DR.H.L Senduk) pendiri gereja GBI.
  • Pdt. Van Gessel pada tahun 1950 berpisah dengan GPdI dan mendirikan GBIS.
  • Pdt. Ishak Lew pada tahun 1959 keluar dan mendirikan GPPS.
  • 1936 Missionaris R.M. Devin dan R. Busby keluar dan membentuk Assemblies of God.
  • 1946 Pdt. Tan Hok Tjoan berpisah dan membentuk Gereja Isa Almasih dan lain-lain sebagainya.

Peranan para pioner pun patut dikenang. Perjuangan mereka pohon GPdI telah bertumbuh dengan lebat. Mereka antara lain :

  • Pdt. H.N. Runkat yang merambah ladang di Pulau Jawa, (Jakarta, Jabar, Jateng, dll).
  • Tahun 1929 Pdt. Yulianus Repi dan Pdt. A. Tambuwun disusul oleh Pdt. A. Yokom, Pdt. Lumenta, Pdt. Runtuwailan menggempur Sulawesi Utara.
  • Tahun 1939, dari Sulut / Ternante Pdt. E. Lesnussa ke Makasar dan sekitarnya.
  • Tahun 1926 Pdt. Nanlohy menjangkau kepulauan Maluku (Amahasa) yang kemudian disusul oleh Pdt. Yoop Siloey, dll.
  • Tahun 1928 Pdt. S.I.P Lumoindong ke D.I Yogyakarta.
  • Tahun 1933 Pdt. A.E. Siwi menabur ke pulau Sumatera (Sumsel, Lampung, Sumbar dan kemudian tahun 1939 ke Sumut).
  • Tahun 1932 Pdt. RM Soeprapto mulai membantu pelayanan di Blitar kemudian Singosari dsk. Tahun 1937 ke Sitiarjo Malang Selatan.
  • Tahun 1935 Pdt. Siloey dkk, merintis pelayanan ke Kupang NTT.
  • Tahun 1930 Pdt. De Boer disusul Pdt. E. Pattyradjawane dan A.F Wessel ke Kalimantan Timur.
  • Tahun 1940 Pdt. JMP Batubara menebas ladang Kalimantan Barat (Pontianak)
  • Pdt. Yonathan Itar pelopor Injil Pentakosta di Irian Jaya, dan lain-lain.

Oleh pengorbanan mereka GPdI bertumbuh dengan pesat.


Tumbuh Kembang Gereja Abad 21

Pada abad keduapuluh satu ini, gerakan Kharismatik telah menjadi donominasi terbesar ketiga di dalam dunia kekristenan. Penyebarannya juga semakin hari semakin nyata di banyak Negara, sebagaimana juga terjadi di Negara Indonesia. Gerakan Kharismatik masuk ke Indonesia sekitar tahun 1960-an. Menimbulkan pengaruh yang sangat besar bagi kekristenan di Indonesia.

Gerakan Kharismatik pada awalnya mendapat celaan dan serangan dari denominasi gereja yang lebih dulu eksis di Indonesia. Gereja yang mencela kita sebut gereja tradisional (gereja tradisional menyelenggarakan ibadah didasarkan tradisi, tidak inovatif, kurang kreatif). Celaan itu akhirnya berangsur-angsur menghilang, setidaknya berkurang.

Pengaruh yang diakibatkan penyebaran gerakan Kharismatik ini sangat nyata terlihat di dalam dunia kekristenan di Indonesia. Berpengaruh dari segi semangat kerohanian, tata cara berjemaat dan juga peran wanita dan pria di dalam kebaktian, serta sifat serakah (mammonisme). Semua hal ini dapat dikatakan dipengaruhi oleh gerakan Kharismatik.

Pada tahun 1995, dari 1,9 milyar “orang Kristen,” 460 juta diantaranya (24%) dapat dianggap beraliran Pentakosta atau Kharismatik. Statistik ini menunjukkan betapa hebatnya gerakan Kharismatik berkembang di seluruh dunia dan juga secara khusus di Indonesia. Oleh karena itu, setiap orang percaya harus memberikan perhatian yang serius terhadap gerakan Kharismatik ini. Perlu dikaji untuk mengetahui seberapa besar ia telah mempengaruhi kekristenan, apakah berdampak positip atau bahkan negatip.

Gerakan Kharismatik (sering juga disebut sebagai pembaharuan Kharismatik; Charismatic Renewal) dikenal juga dengan nama gerakan Pentakosta baru (Neo-pentakostal). Seringkali gerakan ini diidentikkan dengan gereja-gereja pentakosta.  Kata “Kharismatik” berasal dari bahasa Yunani χάρις (charis) yang berarti kasih karunia, pemberian, hadiah, tindakan khusus.  Dalam prakteknya, gerakan Kharismatik selalu menonjolkan praktek-praktek karunia Roh, misalnya: bahasa lidah, bernubuat, atau melakukan mujizat. Gerakan Kharismatik mengklaim dirinya sebagai gerakan pembaharu kekristenan yang menghidupkan kembali jabatan rasul dan nabi. Dengan demikian, gerakan Kharismatik masih percaya pewahyuan (wahyu yang bersifat perkataan, sering disebut rhema). Di sisi lain mengakui bahwa wahyu tertulis telah kanon, yaitu Alkitab satu-satunya firman Tuhan.

Teolog Kharismatik dan Pentakosta menganggap diri mereka tidak sama, walaupun di dalam prakteknya mereka agak sulit dibedakan. Secara umum doktrin dan pengajaran mereka sama. Hal yang paling menonjol adalah dalam penekanan terhadap karunia-karunia Roh. Perbedaan doktrin di antara kelompok Kharismatik atau Pentakosta tidak signifikan.

Gerakan Kharismatik mulai masuk ke Indonesia pada bagian kedua tahun 1960-an melalui penginjil-penginjil dari Amerika Serikat dan Eropa. Pengaruhnya baru menonjol pada dasawarsa berikutnya. Gereja-gereja yang ada (tradisional) kurang tanggap terhadap kebutuhan rohani warga jemaat yang terkait dengan perkembangan masyarakat. Dasawarsa pertama setelah G30S/PKI (1965) ditandai dengan pembangunan nasional oleh pemerintah Orde Baru yang memberi tekanan pada pembangunan ekonomi (yang didukung dana oil boom). Pembangunan ini melahirkan kejutan. Khususnya di kota-kota besar, diperumit oleh kontrol politik yang ketat dari pihak militer dan oleh ketegangan yang tersembunyi antar penganut agama-agama yang berbeda, khususnya antara agama Islam dan Kristen. Ada ketakutan, kekhawatiran, kebingungan dan kekosongan rohani. Orang mencari kepastian, rasa aman dan pegangan hidup. Tetapi pelayanan gereja tradisioal berlangsung secara statis seperti sediakala. Gereja tradisional kurang penggembalaan, kurang memenuhi kebutuha hidup nyata jemaat. Khotbah-khotbahnya hambar di dalam kebaktian yang tidak menyapa hati jemaat. Rohani jemaat menjadi kering dan akhirnya mati.

Banyak faktor-faktor yang terkait dengan kegagalan gereja-gereja tradisional ini. Antara lain kurangnya jumlah (dan mutu) tenaga-tenaga pelayan gereja, dan tiadanya keterkaitan antara pemahaman Injil dengan masalah-masalah yang dihadapi warga gereja dalam masyarakat.

Gerakan Kharismatik yang tampil dalam kelompok-kelompok baik doa maupun sel (komsel, conventicles) mengisi kekosongan itu. Mereka menghadirkan kekristenan dalam format iman yang bernyala-nyala, tuntutan moral yang serius, persaudaraan yang hangat, dan “karunia-karunia” yang nyata. Para aktivis kelompok-kelompok doa itu rajin mendalami Alkitab dengan menonjlkan penguasaan Alkitab (terlepas dari kebenaran penafsirannya), persekutuan yang hangat dengan kosakata Kristen yang khas, nyanyian-nyanyian yang menggugah, saling mendoakan atas persoalan pribadi, penonjolan kesalehan formal serta praktek “karunia-karunia Roh,” khususnya karunia berbahasa lidah dan penyembuhan Ilahi.

Banyak warga jemaat, khususnya golongan menengah dan para pemuda serta mahasiswa di kota-kota besar terjaring ke dalam kelompok ini. Kemudian juga meluas ke daerah pedalaman. Di antara mereka ada yang memiliki masalah pribadi yang berat. Ada pula yang karena merasa tersisih dalam jemaatnya dan menemukan tempat baru dalam persekutuan kaum Kharismatik.

Maraknya gerakan Kharismatik, sebagaimana lazimnya kalau ada gerakan sempalan dalam sejarah gereja, membuat para pemimpin gereja yang sudah ada lebih dulu naik pitam. Kebanyakan mereka bereaksi negatip dan menuduh gerakan Kharismatik itu sebagai kegiatan yang menyesatkan. Sejumlah gereja menyatakan perang terhadap gerakan Kharismatik. Mereka menerbitkan surat-surat penggembalaan dan melarang para pejabat atau warganya aktif dalam kelompok-kelompok doa.  Bahkan ada gereja yang mengucilkan warganya yang terlibat. Ada pula yang dengan bijaksana menyambut tantangan gerakan itu dengan berusaha melakukan pelayanan yang lebih intensif. Misalnya menyelenggarakan tata ibadah minggu keempat setiap bulan dengan nuansa khusus karismatis.

Gerakan Kharismatik menjadi persoalan serius bagi gereja-gereja tradisional. Warga yang tertarik  meninggalkan kegiatan rutin gerejanya, dan ada yang dibaptis ulang. Gerakan Kharismatik memang dimanfaatkan gereja tertentu untuk memperbanyak anggotanya dengan ‘merebut’ warga dari gereja-gereja lain. Gereja tradisional menyebutnya pencurian domba, atau mengail ikan di kolam orang lain. Banyak juga warga yang enggan melepaskan diri dari keanggotaan formal di gerejanya. Mereka berdalih hanya memperdalam penghayatan iman dalam kelompok-kelompok doa. Jadi mereka, warga jemaat, mengkoleksi gereja. Ada yang menyebutnya jajan, ada yang menyebutnya gereja jalan-jalan, gjj.

Gerakan Kharismatik akhirnya melembaga dengan kaum Injili. Dengan gereja-gereja Pentakosta dan menjadi kelompok tandingan terhadap gereja-gereja yang umumnya beraliran oikumenis. Gerakan Kharismatik terus berlangsung dan semakin hari pengaruhnya semakin kuat. Berkolaborasi dengan kelompok injili dan bergabung dengan gerakan oikumenis.

Setidaknya ada empat poin besar yang dipengaruhi oleh gerakan Kharismatik, yaitu:

a. Terhadap dasar iman (kanonitas Alkitab)

Karunia-karunia Rohani adalah hal yang sangat khas di dalam gerakan Kharismatik. Seseorang akan merasa belum sah menjadi seorang Kharismatik jikalau tidak mengakui atau merasakan karunia-karunia yang mereka suarakan. Walupun mayoritas (atau bahkan semua) pengikut gerakan Kharismatik mempercayai bahwa Wahyu Allah secara tertulis telah selesai (kanon) setelah kitab Wahyu 22:21, tetapi mereka masih percaya wahyu yang berupa mimpi atau penglihatan masih berjalan terus. Sepintas kelihatannya hal ini tidak masalah, namun jika sungguh-sungguh direnungkan dengan cermat, maka akan jelas terlihat bahwa konsep ini bertentangan satu sama lain. Itu kalau ingin dipertentangkan. Lihatlah penjelasan berikut.

Apabila seseorang percaya bahwa wahyu tertulis dari Allah telah selesai setelah kitab Wahyu 22:21 ditulis, maka seharusnya wahyu yang berupa mimpi atau penglihatan tidak boleh ada lagi. Rasul Paulus, di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus berkata: “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. 1 Korintus 13:8-10. Perikop ini mengajarkan bahwa nubuat, “bahasa roh”  dan pengetahuan akan lenyap pada suatu waktu, yaitu ketika yang sempurna tiba. Kunci untuk memahami ayat ini adalah apa yang dimaksud dengan “yang sempurna” dan kapan yang “sempurna” tersebut akan tiba?

Dari segi konteks, dapat diperhatikan bahwa setelah yang sempurna ini tiba, maka masih tinggal iman, pengharapan dan kasih (ayat 13). Dengan demikian, frasa yang “sempurna” tidak boleh dihubungkan kepada pribadi Yesus Kristus, sebab penafsiran yang demikian tidak sesuai dengan konteks ayat ini. Surat Ibrani 11:1 berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Jadi, iman tidak diperlukan lagi jika suatu hari kelak Anak manusia telah datang, atau bersama-sama dengan para saleh-Nya di Sorga, sebab Yesus Kristus bukan lagi pribadi yang tidak kelihatan melainkan telah nyata di hadapan anak-anakNya. Jadi, “yang sempurna” ini haruslah sesuatu yang ada di dunia ini sebelum Yesus datang ke dunia.

Penyelidikan ke hingga ke bahasa aslinya akan sangat membantu untuk mengungkapkan apa yang dimaksudkan oleh Paulus tentang “yang sempurna” tersebut. Di dalam bahasa aslinya, kata yang “sempurna” disebut τὸ τέλειον. Kata ini adalah kata sifat, dan dalam kalimat ini dipakai sebagai subtantif (kata benda). Kata ini memiliki gender netral, sehingga pantas dimengerti sebagai “benda yang teleios.” Jadi, jika yang sempurna tersebut adalah sebuh benda. Tafsiran yang lebih dapat dipertanggungjawabkan adalah kata yang “sempurna” tersebut mengacu kepada Alkitab. Itu kalau tafsiran itu benar. Tetapi siapa yang bisa membuktikan itu benar? Kembali ke iman? Di Indonesia dikenal Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia. Tetapi di sunia begitu banyak versi bible, yang memuat kata atau frasa yang berbeda-beda antara satu versi dengan versi yang lainnya. Apakah keberagaman versi ini dapat disebut sempurna?

Jadi, dengan mengatakan bahwa nubuat, dan karunia melakukan mujizat masih ada sampai hari ini, maka itu berarti gerakan Kharismatik telah melakukan serangan terhadap dasar iman Kristen. Alkitab telah menyatakan karunia-karunia tersebut akan berhenti setelah semua kitab di dalam Alkitab selesai ditulis. Paragraph ini tentu menjadi topic perdebatan yang tidak akan pernah dapat diselesaikan, karena perdebatan mengarah kepada pembuktian empiris. Bukti empiris itu yang tidak akan pernah dapat dihadirkan.

Pengaruh yang ditimbulkan oleh gerakan Kharismatik ini membuat banyak orang Kristen mempercayai mimpi, bisikan dan nubuatan-nubuatan yang mereka lakukan. Orang Kristen menjadi terbiasa mendengar bahkan “mengalami” perjumpaan dengan Tuhan, sehingga akan sangat mudah kelak untuk menerima sembarang saudara untuk berbakti bersama. Bahkan Antikristus dengan mujizat dhasyatnya pun kelak mungkin akan diakui sebagai saudara. Fakta paling nyata adalah para anggota jemaat menjadi seperti domba yang kelu yang siap dibawa kepembantaian dan dibantai sendiri oleh gembalanya.

Gerakan Kharismatik tentunya harus merenungkan kembali pernyataan Yesus Kristus yang ditulis di dalam Matius 7:21-23 ini, yang berbunyi: Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Konsep Kharismatik yang mengusung perubahan dengan menghidupkan kembali suasana nabi dan rasul, bahkan lima jabatan gerejawi adalah suatu bentuk serangan terhadap keyakinan tradisional atas penafsiran mereka atas Alkitab. Apakah keyakinan penafsiran seperti yang diterapkan oleh gereja tradisional dapat dipertanggungjawabkan dalam arti menghasilkan buah yang diharapkan oleh Tuhan Yesus?

Tindakan dan keyakinan penafsiran yang dilakukan karismatis perlu diperhadapkan dengan gereja tradisional, sehingga pandangan dan penafsiran yang berbeda yang demikian harus dikritisi secara tegas, dengan teguran yang lemah lembut dan penuh kesabaran. Terutama mengkaji ulang sejarah mujizat dan kesembuhan serta karunia yang dibanggakan ternyata ada pada non Gereja dan non Kristen, tetapi tidak masuk akal karena tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tidak dapat direplikasi dan dimanfaatkan saat dibutuhkan. Sifat karunia itu terlalu spekulatif bukan sesuatu yang pasti dan amin. Contohnya: dengan obat medis penyakit secara umum sudah dapat disembuhkan, tetapi dengan doa belum tentu sembuh.

b. Terhadap tata cara berjemaat

Bagian lainnya yang dipengaruhi oleh gerakan Kharismatik ini bagi gereja-gereja di Indonesia adalah mengenai tata cara di dalam berjemaat. Ajaran Alkitab mengatakan supaya acara pertemuan jemaat harus berlangsung dengan sopan dan teratur (1 Korintus 14:14). Apakah ukuran sopan dan teratur yang berlaku untuk semua orang? Kehadiran gerakan Kharismatik di Indonesia telah melakukan revolusi besar-besaran di bagian ini. Hal yang menyebabkannya adalah gerakan Kharisatik mengadopsi musik duniawi ke dalam gereja. Lagu-lagu contemporary Christian music (CCM) marak dikumandangkan di dalam kebaktian-kebaktian Kharismatik. Ragam musik yang terkandung di dalam lagu-lagu CCM adalah beraliran rock, jazz, pop, dll. Genre music ini membangkitkan emosional jemaat. Akhirnya membuat mereka untuk menangis, bangkit melompat-lompat dan sebagainya yang menjadikan acara berjemaat di dalam gereja tidak kondusif hingga seperti sebuah pertunjukan konser rock. Ini lebih menonjolkan perasaan dan mematikan logika. Perasaan sering menipu manusia.

Kelompok gereja yang setia memakai lagu himne terkadang merasa tidak kuat menghadapi arus modernisasi dari gerakan kharismatik ini. Tidak jarang terlihat gereja-gereja protestan juga terseret dalam kompromi ini. Tindakan kompromi ini diawali dari para pemuda-pemudi di dalam gereja, hingga suatu hari kelak secara total akan menyetujui aliran musik ini. Pertanyaannya adalah apakah Tuhan menyukai ccm atau himne atau keduanya atau tidak satupun?

c. Terhadap peran wanita dan pria di dalam jemaat

Dalam hal peran pria dan wanita dalam jemaat, sangat jelas dikatakan di dalam Alkitab bahwa wanita tidak diperkenankan untuk menjadi gembala jemaat (1 Timotius 3:1-7), bahkan dengan lebih tegas dikatakan perempuan tidak boleh mengajar dan memerintah laki-laki (1 Timotius 2;12). Tentu hal ini dimaksudkan oleh Allah adalah di dalam pertemuan jemaat. Sebagai alasan teologi, Paulus mengatakan karena Adamlah yang pertama diciptakan dan perempuanlah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa (ayat 13-15). Paulus menentang kepemimpinan perempuan dalam jemaat, tetapi Yesus tidak. Empat Maria dan Yohana, Suzana dan Salome adalah tujuh perempuan yang memimpin pengadaan akomodasi perjalanan rombongan Yesus. Maria Magdalena adalah orang pertama yang bertemu Yesus setelah kebangkitanNya dari kematian. Dalam pelayanan Yesus di bumi perempuan mendapat tempat secara khusus, bahkan urapan persiapan penguburannya dilakukan oleh perempuan. Paulus sendiri dalam pelayanannya teryata menyebutkan banyak wanita.

Di dalam gerakan Kharismatik, aturan ini tidak berlaku! Siapapun yang mendapat “Karunia Roh” pantas memimpin. Sehingga penafsiran gereja tradisional tentang ajaran Alkitab ditentang dengan sangat fatal. Oleh karena gerakan Kharismatik semakin populer di Indonesia, dan semakin banyak wanita yang aktif dalam pelayanan gereja-gereja (baik Kharismatik maupun Injili dan Protestan), maka perlahan-lahan konsep ini juga akhirnya diterima. Artinya seiring waktu penafsiran gereja tradisional tentang kepemimpinan wanita mulai berubah.

Jadi pengaruh yang kuat dari gerakan Kharismatik telah membuat gereja-gereja lain menyerah dan meninggalkan ajaran-ajaran yang lebih benar menurut mereka (keyakinan buta). Gereja Kharismatik telah berhasil membuat hambar “garam” dari gereja protestan yang dulunya masih memilihi rasa “asin,” dan sangat mungkin suatu hari kelak “garam” tersebut akan benar-benar hambar dan dibuang serta diinjak-injak orang. Protestan yang sudah tua dan segera mati.

 
Gerakan Kharismatik sudah sangat mempengaruhi kekristenan di Indonesia dalam banyak hal. Kekristenan di Indonesia yang dulunya dianggap “dingin” dalam aktivitas kerohanian, sekarang telah “dibakar” semangatnya oleh para pengikut gerakan Kharismatik.  Kharismatik mendobrak semangat kerohanian orang Kristen di Indonesia, yang secara kasat mata terlihat baik dan rohani. Ada beberapa hal buruk bagi gereja tradisional yang terjadi akibat masuknya gerakan Kharismatik di Indonesia, antara lain dalam aspek keyakinan karena penafsiran terhadap kanonitas Alkitab, tata cara berjemaat dan peran pria dan wanita di dalam kebaktian. Paradox praktek alkitab semakin nyata, membawa kebingungan dan potensi konflik, terutama bagi para pemimpin gereja yang merasa dan menganggap keyakinan ajarannya sudah benar sendiri.

Dari segi kanonitas Alkitab, gerakan Kharismatik melemahkan keyakinan penafsiran gereja tradisioal tentang kanon Alkitab, sebab masih mengakui wahyu Allah jalan terus hingga hari ini. Pertunjukan spektakuler (kesembuhan) dianggap hal yang positip oleh gereja karismatis, padahal sebenarnya menurut gereja tradisional hanya tipu muslihat Iblis untuk membuka jalannya terhadap penerimaan si Antikristus.

Dalam hal tata cara berjemaat, gerakan Kharismatik memasukkan musik duniawi ke dalam gereja, sehingga terkadang antara gereja dan bioskop atau konser musik hampir tidak bisa dibedakan. Menurut keyakinan gereja tradisional, kebaktian berjemaat menjadi kurang teratur oleh karena pengaruh musik ini yang menuntut gerakan-gerakan sensual dan brutal.

Bagian ketiga adalah tentang peran wanita dalam berjemaat. Wanita diperbolehkan menjadi pengajar (gembala), yang sangat bertentangan dengan keyakinan gereja tradisional dalam memilih dan menafsirkan Alkitab (1 Timotius 3:1-7). Hingga akhirnya gereja-gereja Protestan dan Injili ikut terpengaruh. Harus disadari evolusi dan revolusi melanda semua hal di bumi, begitu juga keyakinan penafsiran gereja tradisional terhadap alkitab.

d. terhadap pengembangan budaya mamonisme

Praktik teologi kemakmuran di seluruh dunia pada awal abad kedua puluh satu menyatu dengan gerakan pentekosta karismatis. Pentakostalisme dan Katolikisme karismatik menjamur di seluruh dunia selama lima dekade terakhir.  “Injil kesehatan dan kekayaan” telah terbukti begitu menarik bagi jutaan orang Kristen di seluruh dunia.

Banyak teolog Kristen yang membahas pesan kemakmuran berkaitan dengan apakah itu merupakan kontekstualisasi yang sah dari Injil. Jika tidak, apakah itu merupakan akomodasi sinkretis terhadap doktrin asing dan komitmen etis yang bertentangan dengan Injil Kristus? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memerlukan penegasan teologis, yang, seperti kebanyakan kasus penegasan, harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh kasih, dengan mengingat kemungkinan bahwa gerakan-gerakan baru dapat muncul di antara gereja-gereja yang menawarkan cara baru untuk mengontekstualisasikan Injil sambil tetap pada dasarnya tetap benar. Kemungkinan seperti itu adalah fokus utama dari evaluasi teologis dari pesan kemakmuran.

Pertanyaan yang menarik dan penting untuk memahami persimpangan kemakmuran, teologi, dan ekonomi. Menerapkan analisis canggih dari teologi, studi biblika, etika, studi budaya, antropologi, dan sosiologi agama, mereka bersama-sama memberikan berbagai sudut pandang tentang Pentakostalisme dan gagasan serta praktik teologi kemakmuran. Ada poin ketegangan dan kemungkinan kontradiksi dalam bidang ini;  mewakili perspektif yang berbeda.

Implikasi sosial ekonomi dari Injil kemakmuran nyata dalam kehidupan Kristen Pentakosta / karismatik. Gambaran yang kuat tentang ajaran kemakmuran, ada pada yang kadang-kadang disebut Injil “kesehatan dan kekayaan”.

Injil kemakmuran bukanlah fenomena baru. Salah satu pendahulunya yang paling langsung di Amerika Utara, dan tentu saja aliran silsilahnya yang paling berpengaruh, dapat ditelusuri melalui pembaruan karismatik dan gerakan kebangkitan Hujan Akhir pada pertengahan abad kedua puluh kembali ke ajaran penulis populer seperti antara lain Essek W. Kenyon. Khususnya dalam tradisi yang luas ini, kemakmuran dianggap tidak hanya dalam istilah finansial tetapi juga dalam hubungannya dengan kesehatan tubuh (karena itu disebut “kesehatan dan kekayaan”). Ajaran Kenyon, seperti yang dimediasi oleh tokoh-tokoh Hujan Akhir seperti William Marion Branham dan para pemimpin karismatik seperti Oral Roberts, Kathryn Kuhlman, Kenneth Hagin, dan Kenneth Copeland, di antara banyak lainnya, tidak hanya menginformasikan ruang lingkup praktik diskursif yang memicu penyebaran pesan kemakmuran di seluruh ” global” pada generasi terakhir, tetapi mereka juga telah memotivasi banyak penilaian kritis dari teologi kemakmuran.

Tugas paling eksistensial yang dihadapi orang di seluruh dunia adalah pembangunan ekonomi. Bagi umat Kristen, hal ini menimbulkan pertanyaan mendesak: apa pemahaman dan ajaran gereja tentang kesulitan ekonomi itu? Aspek-aspek ajaran sosial dari gereja-gereja Pentakosta yang berkaitan dengan kemakmuran ekonomi nasional belum terbukti. Ada lima identifikasi paradigma teologis dasar yang membingkai wacana tentang perkembangan ekonomi di antara para pendeta Pentakosta. Ini adalah perjanjian, spiritualitas, kepemimpinan, nasionalis dan pembangunan.

Daya tahan dan daya adaptasi keyakinan agama serta interaksi dinamisnya dengan kekuatan kuat lain di dunia yang mengglobal ini mulai menarik perhatian para peneliti. Di antara mereka adalah mereka yang tertarik untuk memahami faktor-faktor sosial, ekonomi dan politik yang mendorong atau menghambat pembangunan di masyarakat yang sedang berkembang. Satu fokus khusus dari penelitian semacam ini adalah pertumbuhan spektakuler gereja-gereja Kristen Pentakosta di masyarakat sedang berkembang.

Pada abad kedua puluh satu, negara-negara di dunia sedang berkembang masih menghadapi tantangan untuk mengelola kemajuan dan melindungi masyarakat dari sistem yang tidak adil. Namun jalan menuju kehidupan yang lebih baik yang dicita-citakan oleh bangsa terus melibatkan dimensi ekonomi, politik, dan sosial budaya. Maklum, para ahli teori ekonomi telah menggunakan pertimbangan ekonomi dalam upaya mereka untuk menjelaskan perkembangan atau ketiadaannya dari masa kolonial hingga sistem kapitalis global saat ini. Jawaban untuk Masalah ekonomi pada akhirnya terletak pada rakyatnya, bahkan di tengah keadaan yang mengerikan. Nilai-nilai budaya suatu bangsa tidak dapat diubah, juga tidak melekat pada satu ras, pada satu kelompok agama, atau pada satu kelas sosial. Untungnya, adat istiadat, kepercayaan, dan sikap yang bermasalah dapat berubah melalui transformasi struktur sosial-ekonomi, melalui peran utama lembaga politik dan peradilan, dengan program pendidikan yang dirancang untuk tujuan tersebut, dan dengan indoktrinasi gereja.

Setiap musim panas, ribuan orang Kristen evangelis melakukan perjalanan ke Fort Worth, Texas, untuk menghadiri Konvensi Orang Percaya Barat Daya, yang diselenggarakan oleh Kenneth dan Gloria Copeland. Konvensi tersebut adalah salah satu dari beberapa kampanye gaya kebangunan rohani yang diselenggarakan di Amerika Utara dan Eropa oleh Kenneth Copeland Ministries (KCM), bisa dibilang pelayanan Word of Faith utama di Amerika. Kenneth Copeland adalah pengkhotbah terkaya di dunia menurut berbagai sumber. Pertemuan khusus ini adalah yang terbesar karena terdiri dari mereka yang dianggap banyak orang sebagai Lima Besar Tokoh Kata-kata Keyakinan: Jerry Savelle, Jesse Duplantis, dan Creflo Dollar sebagai tambahan dari Copelands (Kenneth dan Gloria). Dari pagi hingga jam tayang utama malam, kelima penginjil ini bergiliran, naik ke panggung di Fort Worth Convention Center. Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan nomenklatur Word of Faith, gerakan neocharismatic ini lebih dikenal karena teologi yang didukungnya, Injil kemakmuran kesehatan ilahi dan kekayaan materi. Mitra pelayanan — orang-orang yang berkomitmen untuk mendukung pelayanan Copeland melalui doa dan dukungan keuangan — serta pemirsa tetap melepas pekerjaan, mengatur liburan, dan bahkan mengoordinasikan reuni keluarga untuk menantang panas dan kelembapan di kawasan itu untuk mendengar kata positif kemakmuran dari seseorang penginjil televisi favorit mereka.

Orientasi agama tidak datang ke dunia dalam bentuk penuh, juga tidak dikembangkan terlepas dari struktur ekonomi dan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, “Word of Faith” atau “teologi kemakmuran” memiliki dimensi historis. Secara khusus, teologi kemakmuran berkembang di tengah globalisasi kapitalisme modern yang progresif. Sejalan dengan itu, manusia tidak dapat mengabaikan efek struktur sosial yang lebih luas. Perkembangan masyarakat makro membentuk kontur mikrointim dari subjektivitas manusia (karena sejarah berdampak pada pembentukan “diri” kita). Dengan menghubungkan kedua wawasan ini, teologi kemakmuran bergema dengan orang-orang saat ini karena pengaruh kapitalisme global pada kehidupan sehari-hari. Secara khusus, keyakinan yang menguatkan individu — keyakinan yang secara positif memberi imbalan  atas prestasi, keunggulan, dan kemasyhuran individu — diperlukan karena kelangsungan tempat kerja dalam konteks ekonomi saat ini membutuhkan promosi diri yang agresif. Hubungan antara teologi kemakmuran dan tuntutan kontemporer atas diri modern mengarahkan pelayanannya kepada para pekerja di industri modern.

Sejak berdirinya Republik Rakyat Cina pada tahun 1949 dan penarikan misionaris asing berikutnya, Kekristenan Protestan telah sepenuhnya dipribumikan di Tiongkok dengan merajut dirinya ke dalam bentuk-bentuk ritual, kumpulan asumsi budaya, dan jalinan hubungan kekuasaan yang berasal dari realitas lokal langsung. Dengan tidak adanya otoritas interpretatif pusat, kelompok-kelompok gereja yang independen secara organisasi sering kali terbagi menurut garis pedesaan / perkotaan, oleh perbedaan teologis, dan karena hubungan yang berbeda dengan aparat negara. Pentakostalisme telah menjadi yang paling aktif dan dinamis dari semua kelompok Kristen Tionghoa di luar sistem gereja yang dikontrol secara resmi, sebagian karena kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan keadaan lokal dan penekanannya pada pengalaman keagamaan langsung masyarakat. Dalam beberapa dekade terakhir perkembangan ekonomi yang dramatis, pertumbuhan sektor Pentakosta Kristen Tionghoa tampaknya semakin menonjol di wilayah tertentu. Ini ada hubungannya dengan perluasan pesat ruang gereja kota baru yang diinformasikan oleh gerakan injil kemakmuran yang sedang berkembang. Dinamika sosial-ekonomi kebangkitan Kristen perkotaan di Cina pasca-Mao dengan fokus pada kebangkitan Injil kemakmuran di wilayah pesisir yang maju.

Istilah ekonomi “neoliberal” dan “neoklasik” sering digunakan secara bergantian dalam jargon ekonomi kontemporer. Secara historis, mereka telah muncul sebagai pengidentifikasi kontekstualisasi teori ekonomi klasik Adam Smith dalam kondisi abad kesembilan belas dan kedua puluh. Oleh karena itu, tidak ada yang benar-benar “neo” dalam neoliberalisme ekonomi. Pada akhir abad kesembilan belas pernyataan Smith tentang “tangan tak terlihat” telah dilucuti dari implikasi metafisik dan telah menjadi “tangan pasar” impersonal yang mampu “memobilisasi bahkan naluri manusia yang paling dasar seperti kerakusan, keserakahan, dan untuk kekayaan dan kekuasaan untuk kepentingan semua.

Mammonisme selalu bersemayam dalam naluri manusia yang paling dasar seperti kerakusan, keserakahan, dan untuk kekayaan dan kekuasaan untuk kepentingan semua. Ini adalah kedagingan dan duniawi. Sistem ekonomi kapitalisme adalah alat utama mammon menyeret dan memenjarakan setiap manusia di bumi ini. Apakah sistem ekonomi Alkitabiah sulit dipahami gereja sehingga membiarkan warga gerejanya pergi ke tempat lain untuk memenuhi kebutuhan mereka? Mengapakah Yesus tidak memberikan pengajaran langsung bagaimana supaya kaya secara material (harta benda) di bumi ini? Mengapa Paulus mengajarkan asal sudah ada makanan dan pakaian sudah cukup? Tetapi Paulus tegas mengatakan kalau orang tidak bekerja jangan dikasih makan!

Pelayanan holistik gereja adalah jawaban Alkitabiah untuk menghadapi abad 21 dan seterusnya terutama di Indonesia. Holistik berarti menggabungkan aspek-aspek yang berbeda sehingga mereka bekerja sama, membawa ‘keutuhan’ tentang pembangunan dalam masyarakat dan komunitas. Di mana gereja cocok. Ketika orang Kristen dan gereja melakukan perubahan holistik, hasilnya dapat membawa transformasi yang luar biasa dalam kehidupan orang-orang. Holistik artinya utuh, satu, kudus. Esa, Allah itu Kudus, Esa. Itulah holistik.

Alkitab yang memuat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu satu, esa, kudus, utuh, holistik. Pelajari secara holistik dan pahami secara holistik kemudian praktekkan secara holistik lalu ajarkan secara holistik. Hindari mengambil sepotong-sepotong, apalagi hanya satu ayat. Kalau alktab sudah menyatu dengan diri kita, kita juga menyatu dengan Tuhan. Kalau kita menyatu dengan Tuhan, otomatis kita kudus, sehingga segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi kita yang dikenan Tuhan. Tidak ada tradisional atau pentakosta atau karismatik…yang ada hanya Yesus untuk kemuliaan Bapa dalam pimpinan Roh Kudus. amin

…bersambung…

TUMBUH KEMBANG GEREJA ASIA

TUMBUH KEMBANG GEREJA DI ASIA

Asia adalah tempat kelahiran para nabi dan orang suci besar. Asia adalah tempat suci untuk ziarah dari seluruh dunia. Ya, di atas tanah Asia telah berkembang dan memakmurkan orang-orang yang kakinya harus bersujud. Agama-agama besar yang telah memberikan kehidupan dan keselamatan kepada milyaran orang berutang asal mereka di Asia.

Tetapi Asia bukan hanya tanah suci… Di satu tempat ini Anda dapat menghitung semua nabi terkemuka dan semua jenius religius besar di dunia. Tidak ada nabi besar yang lahir di luar perbatasan Asia.

Israel adalah bagian dari Asia Barat.

Dalam sejarah paling awal, pusat Kristen pertama, Yerusalem, Antiokhia & Efesus berada di Asia. Bangunan gereja pertama yang diketahui ada di Asia. Terjemahan Perjanjian Baru pertama ada di Asia. Raja Kristen pertama; penyair Kristen pertama; negara Kristen pertama semuanya ada di Asia.

Sejarah agama Kristen di Asia sama tuanya dengan sejarah agama Kristen itu sendiri. Tetapi sementara banyak yang telah diceritakan tentang Kekristenan saat ia pergi ke Barat dari Yerusalem ke Antiokhia dan kemudian ke Efesus, Roma dan dunia Barat, tidak cukup banyak yang diceritakan tentang bagaimana Kekristenan pergi ke Timur dari Yerusalem ke Antiokhia dan kemudian ke Edessa, ke Ctesiphon, ke Madras, India, ke Nishipur, Iran, ke Merv, Turkmenistan, ke Herat, Afghanistan, ke Karakorum, Mongolia, ke Beijing, Cina dan ke ratusan kota dan kota di antaranya dan terutama di sepanjang Jalur Sutra selama 1000 tahun pertama sejarah gereja.

Tradisi dari Assyria adalah 12 orang majus (terdaftar dengan nama dan dengan nama ayah mereka) datang dari kota modern Edessa ke Betlehem untuk melihat Yesus. Ketika mereka kembali ke Syria mereka membawa kisah Yesus bersama mereka.

Pergilah ke seluruh dunia dan beritakan Injil kepada setiap makhluk.

Markus 16:15

Tetapi kamu akan menerima kuasa ketika Roh Kudus telah turun ke atas kamu; dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi.

Kisah 1: 8

Pada abad pertama, jumlah orang Yahudi yang tinggal di dunia Persia, kebanyakan di atau dekat Babilonia, diperkirakan mencapai 1 juta orang.

Salah satu tradisi tertua dan terkuat adalah bahwa pada tahun 52 M (antara perjalanan misionaris kedua dan ketiga Paulus) rasul Thomas membawa Injil ke India dan bahkan Cina.

Pada masa itu semua mereka … para rasul berada di Yerusalem… dan mereka membagi wilayah dunia, bahwa setiap dari mereka harus pergi ke wilayah yang jatuh ke tangan-Nya dan ke negara di mana Tuhan mengutus dia.

Oleh karena itu, menurut undian, India jatuh kepada Yudas Thomas, yang juga merupakan saudara kembarnya. Tetapi dia tidak mau pergi. Dia mengatakan bahwa karena kelemahan daging dia tidak dapat bepergian. “Aku adalah orang Ibrani; bagaimana aku bisa pergi di antara orang India dan memberitakan kebenaran?”

Ketika Thomas berpikir demikian dan berbicara, Juruselamat menampakkan diri kepadanya pada malam hari dan berkata kepadanya: “Jangan takut, Thomas, pergilah ke India dan beritakanlah firman di sana, karena Roh-Ku menyertai engkau”.

Tetapi dia tidak mau menurut, dengan mengatakan: “Ke mana pun Tuhan ingin, kirim saya, tetapi ke tempat lain, karena kepada orang India saya tidak akan pergi”.

Sementara Thomas berbicara dan berpikir demikian, datang seorang pedagang yang berasal dari India bernama Abbanes, secara khusus diutus oleh Raja Gundaphorus.

Di sana seorang pedagang tertentu datang dari India bernama Abbanes, diutus dari Raja Gundaphorus, dan mendapat perintah darinya untuk membeli seorang tukang kayu dan membawanya kepadanya.

Sebelumnya Tuhan berbicara dengaan Raja Gundaphorus. Tuhan melihat dia berjalan di pasar pada siang hari dan berkata kepadanya: “Maukah Anda membeli seorang tukang kayu?” Dia berkata kepadanya: “Ya”. Tuhan berkata kepadanya: “Aku memiliki seorang budak yang menjadi tukang kayu dan Aku ingin menjualnya.”

Sambil berkata demikian, Tuhan menunjukkan kepadanya Thomas dari jauh. Raja  Gundaphorus setuju dengannya untuk harga tiga litrae perak tanpa cap, kemudian menulis akta penjualan, dan mengatakan:

“Aku, Yesus, putra Joseph si tukang kayu, mengakui bahwa Aku telah menjual budakku, bernama Thomas Yudas, kepadamu, Abbanes, seorang pedagang Gundaphorus, raja orang Indian.”

Ketika akta itu selesai, Juruselamat membawa Yudas Thomas dan membawanya pergi ke Abbanes sang pedagang. Ketika Abbanes melihatnya, dia berkata kepadanya: “Apakah ini tuanmu?” Sang rasul berkata: “Ya, Dia adalah Tuhanku”.

Dia berkata: “Saya telah membeli Anda darinya”. Rasul itu tetap tenang.

Pada hari setelah rasul bangun pagi, setelah berdoa dan memohon kepada Tuhan dia berkata: “Aku akan pergi kemanapun yang Engkau inginkan, Tuhan Yesus: KehendakMu jadilah”. Kemudian dia pergi ke Abbanes si pedagang, tidak membawa apa-apa kecuali hanya harganya.

Karena Tuhan telah memberikannya kepadanya, Ia mengatakan: “Biarlah hargamu juga bersamamu, bersama dengan anugerahKu, ke mana pun kamu pergi”. Rasul menemukan Abbanes membawa tasnya ke atas kapal. Jadi dia juga mulai membawanya ke atas kapal. 

Ketika mereka berada di kapal dan diturunkan, Abbanes bertanya kepada rasul itu: “Keahlian apa yang kamu punya?” Dia berkata: “Untuk pekerjaan kayu aku bisa membuat bajak dan kuk dan bor (untuk digunakan ditarik oleh lembu). Untuk pekerjaan perahu dan dayung, untuk membangun perahu dan tiang dan katrol. Untuk pekerjaan batu aku bisa membuat tiang-tiang & bait Allah dan bangunan istana dan pengadilan untuk raja-raja.

Abbanes si pedagang berkata kepadanya: “Ya, itulah jenis pekerja yang kita butuhkan”. Mereka kemudian mulai berlayar ke kampung halaman. Mereka mendapatkan angin yang menguntungkan, dan berlayar dengan sangat baik sampai mereka mencapai Andrapolis (dalam bahasa Yunani juga disebut Sandaruk), sebuah kota kerajaan.

GEREJA DI ANTIOCH

Fokus dari Kekristenan Barat berpindah dari Antiokhia ke Efesus dan kemudian ke Roma.

Menurut tradisi ketika Yesus memberkati seorang anak kecil dan mengangkatnya duduk di pangkuan-Nya dalam Matius 18, anak  itu kemudian adalah dikenal dengan nama Ignatius yang menjadi Uskup ketiga di Antiokhia.

Konsili Nicea dihadiri oleh 318 pemimpin gereja dan hanya 8 dari Barat. Kebanyakan berasal dari Timur.

Menurut Eusebius, Abgar V, Raja Edessa mengirim seorang seniman ke Yerusalem untuk melukiskan gambar Yesus untuknya.

Armenia adalah negara pertama yang secara resmi disebut sebagai negara Kristen.

ANTIOCH – EDESSA – ARBELA (Antakya – Urfa – Erbil) adalah pusat tumbuh kembang Gereja di Asia.

Bangunan Kristen tertua berasal dari tahun 232 M dan berada di Dura-Europos.

TINDAKAN ST MARI

Dia dikirim dari Edessa ke ‘daerah-daerah di Timur.’ Dia menjadi putus asa dan memohon gereja di rumah untuk membebaskannya dari misinya dan mengizinkan dia untuk kembali.

Tetapi gereja memerintahkan dia untuk bertahan. Dengan begitu patuh tetapi dengan enggan dia menempatkan dirinya pada evangelisasi Persia.

Jadi dia menempatkan dirinya pada serangkaian perjalanan misionaris yang sulit yang membawanya hampir ke India. Di sana dia mengatakan bahwa ‘ketika dia mencium bau Rasul Thomas, dia merasa akhirnya dia telah melakukan tugasnya dan telah bertindak cukup jauh.’

Orang pertama yang diketahui membawa struktur ke Gereja Timur adalah Papa bar Aggai.

Pada tahun 500-an M Ctesiphon adalah kota terbesar di dunia.

Terkadang sekolah Nisibis / Edessa disebut sebagai universitas tertua di dunia dengan sekolah teologi, filsafat & kedokterannya.

PERANG ROMAWI-PERSIA

Dari 200-an SM sampai 600-an M, Eropa dan Roma memperebutkan Asia.

Shapur I menang atas Kaisar Romawi Valerian, Naqsh-e Rostam, Iran.

KEKRISTENAN DI BAWAH KONSTANTIN

Konstantinus memberikan kebebasan kepada orang Kristen di Barat tetapi karena mereka memerangi Persia atas nama Kristus, orang Kristen di Timur sangat menderita.

Katolik & Nestorian berdebat di Asia Tengah 1290AD

THEODORE OF MOPSUESTIA

Theodore menjelaskan Kitab Suci di semua gereja di Timur.

KONSILI EFESUS (431)

Nestorius dikenal sebagai bidat yang percaya bahwa Yesus memiliki dua kodrat di dalam diri-Nya. Gereja Nestorian adalah yang pertama tiba di wilayah (sekarang dikenal Indonesia) pada abad VII di Pansur, Barus, Tapanuli Tengah.

GEREJA NESTORIAN

Istilah “Nestorian” digunakan untuk menggambarkan agama dan minoritas linguistik yang berbahasa Syria. Kaum Nestorian terutama bermarkas di tempat yang sekarang disebut Irak dan Turki selatan. Mereka memiliki sekolah yang bagus di Edessa (sekarang Urfa di Turki Tengah-Selatan). Pengikut awal mereka termasuk Armenia, Assyria, Kurdi, Persia, dan Arab. Setelah mereka menjadi Kristen, mereka disebut “Suriah Timur” untuk membedakan mereka dari “Suriah Barat” – Monofisit atau Yakobit.

Saat ini (tahun 2018) ada sekitar 400.000 Nestorian yang tinggal di sekitar Orumiyeh di sekitar Danau Urmiah di barat laut Iran. Mereka juga tinggal di dataran Azerbaijan, pegunungan Kurdistan di Turki Timur dan di dataran sekitar Mosul di Irak utara. Mereka sering tinggal di dekat Kurdi, yang memiliki hubungan variabel dengan mereka selama berabad-abad.

Kekristenan Nestorian saat ini sebagian besar telah punah tetapi pada suatu waktu itu adalah sekte Kristen yang cukup kuat dan menjadi pusat kontroversi doktrinal yang penting. Kaum Nestorian menekankan dualitas antara manusia dan ilahi. Mereka dianggap sebagai bidah oleh sekte lain karena keyakinan mereka bahwa ada dua pribadi yang terpisah dalam inkarnasi Kristus dan penyangkalan mereka bahwa Kristus ada dalam satu pribadi baik Allah maupun manusia. Mereka melanjutkan dengan berargumen bahwa Maria adalah ibu Allah (konsep yang menghujat banyak orang Kristen) atau ibu dari manusia Yesus; tapi dia tidak bisa mendapatkan keduanya.

“Istilah ‘Nestorian’ merujuk pada doktrin Kristologis mereka yang menekankan realitas sifat manusiawi Yesus dan yang membedakannya dari keilahiannya. Kata ‘Nestorian’ berasal dari Nestorius (c.381-451), Patriark Konstantinopel yang mengucapkan doktrin ini. Nestorius berpendapat bahwa kodrat manusiawi dan ilahi Kristus itu berbeda.

Keyakinan Nestorius bahwa kodrat manusiawi dan kodrat ilahi Kristus berbeda menyebabkan lawan-lawannya secara keliru menuduhnya percaya bahwa Kristus memiliki dua kepribadian. Kontroversi muncul atas penolakan Nestorius terhadap ungkapan ‘Maria Bunda Allah’. Kata dalam bahasa Yunani adalah Theotokos, yang berarti ‘Pemberi Kelahiran bagi Tuhan’. Nestorius merasa ini tidak pantas karena Maria adalah ibu dari kodrat manusiawi dan tubuh fisik Kristus tetapi bukan keilahian-Nya. Nestorius mengajarkan bahwa Maria harus disebut ‘ibu Kristus’ atau ‘ibu Allah, ibu Kristus’ tetapi tidak pernah hanya ‘Bunda Allah’. 

Nestorian adalah orang pertama yang mengadopsi agama Kristen. Mereka melakukannya setelah St Thomas mengunjungi Asyur dalam beberapa tahun setelah kematian Kristus. Kekristenan pada abad pertama M menyebar ke Barat dan ke Timur… melalui hubungan dengan komunitas Yahudi yang sudah ada yang tersebar di tanah di luar Israel. Setelah pertumbuhan yang terus-menerus, populasi orang Kristen di Timur Palestina ditambah lagi oleh orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani dan Siria yang dipindahkan ke Timur sebagai akibat dari invasi sukses Persia ke wilayah Romawi Timur pada pertengahan abad ketiga. Ketika Gereja di Barat menjadi lebih terjalin dengan politik kekaisaran setelah pertobatan Konstantin, gereja-gereja timur, banyak di antaranya didirikan di luar perbatasan Romawi, menjadi lebih otonom dari Barat. Pada tahun 424, sinode para uskup timur menyatakan takhta mereka “secara administratif” tidak bergantung pada Gereja Barat.

Agama Kristen Nestorian dinamai Nestorius, Uskup Konstantinopel dari tahun 428 hingga 431 M. Berasal dari Persia, ia menjadi seorang biarawan dan tinggal di sebuah biara di Euprepius dekat Antiokhia. Keterampilannya sebagai pembicara membantunya mendapatkan pengangkatannya menjadi Uskup. Dia adalah seorang uskup aktivis yang melancarkan kampanye melawan bidah dan menyebarkan kepercayaan yang kemudian dikaitkan dengan agama Kristen Nestorian. Usahanya membuatnya dicemooh oleh para uskup kuat lainnya yang menyatakan Nestorious sebagai bidah.

Orang yang benar-benar mendefinisikan Kekristenan Nestorian adalah Theodore (meninggal tahun 431), Uskup Mopsuestia di Colicia dan murid Diodorus, Uskup Tarsus. Theodore menekankan kemanusiaan Yesus dan menyatakan bahwa Ia memperoleh keadaannya yang tidak berdosa dengan bersatu dengan Pribadi Firman Tuhan. Dia terima sebagai penghargaan karena mencapai keadaan tanpa dosa. Firman, dia bersikeras, tinggal di dalam manusia Kristus. Oleh karena itu, kaum Nestorian menolak penyatuan Tuhan dan manusia dan Maria dianggap sebagai ibu dari seorang laki-laki, bukan Tuhan.

Doktrin Theodore dipengaruhi oleh para sarjana Kristen abad ke-4 dari Antiokhia, yang menekankan kemanusiaan Kristus dan ketidaksempurnaan yang melekat padanya. Baru setelah Nestorius datang ke Konstantinopel, ajaran Theodore menjadi populer dan dengan demikian dinamai menurut Nestorious. Di Konsili Konstantinopel pada tahun 553, doktrin Theodore secara resmi dikutuk.

Pada abad ke-3 hingga ke-12, Dewan-Dewan Besar dipanggil untuk membahas masalah-masalah teologis dan doktrinal Kristen. Konsili Efesus pada tahun 431 dipanggil sebagian untuk membahas kebijakan Nestorian dan membahas masalah apakah Kristus itu dualis (manusiawi dan ilahi) atau tunggal (dua dalam satu). Keyakinan Nestorian hilang. Di dewan tersebut beberapa sekte dipaksa untuk berpisah dari gereja Kristen. Setelah itu para Nestorian dianiaya dan diasingkan. Nestorius dibuang ke Mesir, di mana dia meninggal di pengasingan. Kaum Nestorian secara resmi dikeluarkan dari gereja Ortodoks-Katolik setelah penaklukan Muslim pada abad ke-7.

 “Identifikasi” Nestorian “dari Gereja-Gereja Timur tumbuh dari perselisihan teologis dan politik abad keempat dan kelima. Salah satu perselisihan ini adalah tentang terminologi yang tepat untuk Maria, ibu Yesus, yang pada gilirannya merupakan hasil perselisihan tentang sifat Yesus sendiri. Dalam sekolah interpretasi filosofis gereja mula-mula sering dikaitkan dengan pusat-pusat geografis. Antiokhia di Siria dan gereja-gereja di Timur cenderung memandang Yesus sebagai memiliki dua kodrat yang berbeda, satu sepenuhnya ilahi dan yang lainnya sepenuhnya manusia, yang berpuncak pada pribadi Yesus (demikian istilah diofisitisme dari kata Yunani untuk “dua” dan “alam”. “). 

Jadi, kata mereka, Maria harus disebut sebagai “pembawa Kristus”. Penafsiran yang berlawanan ditawarkan oleh sekolah Kristen yang terkait dengan Aleksandria di Mesir, yang bersikeras bahwa Kristus hanya memiliki satu natur: sepenuhnya ilahi (monofisitisme), dan dengan demikian Maria harus disebut “bunda Allah”. 

“Ketika seorang Uskup Suriah bernama Nestorius diangkat ke posisi bergengsi dan berpengaruh Patriark Konstantinopel pada tahun 428, dia terus menyebarkan posisi Antiokhia (diofisit) alaminya. Akan tetapi, perlawanan sengit datang dari Cyril, uskup Aleksandria, yang melalui pengaruh politik dengan saudara perempuan Kaisar dapat membuat Nestorius dicopot dari jabatannya dan memproklamasikan posisi diofisit sebagai bidah di Konsili Efesus pada tahun 431.

Gereja-Gereja Timur menolak untuk menghadiri Dewan. Menolak otoritas Cyril dan posisi monofisit. Mereka semakin menjauhkan diri dari Gereja Barat. Mereka melanjutkan untuk mendirikan sebuah kursi Episkopal baru di ibukota Persia Sassania di Chestiphon. Dengan demikian menjadi lebih terkait dengan dunia Persia di Timur sementara Gereja Barat tetap terkait dengan Bizantium. Pada Konsili Kalsedon pada tahun 451, Gereja Barat mengusulkan semacam kompromi. Tindakan tersebut tidak cukup untuk menyatukan kembali perpecahan. Sebuah Sinode Para Uskup Timur pada tahun 486 menyatakan identitas Nestorian Gereja Timur dan menjunjung tinggi posisi diofisit mereka.

Orang Nestorian tinggal dalam jumlah besar di Persia dan Irak setelah mereka dianiaya di Kristen Barat. Sekitar waktu penaklukan Muslim di awal abad ke-7, mereka mulai melakukan perjalanan ke arah timur melalui Jalur Sutra ke Turkestan, India, Mongolia, dan Sri Lanka. Mereka telah merambah jauh ke Cina, di mana sebuah gereja Nestorian didirikan pada tahun 638, di Changsan (Xian). 

Ke mana pun pergi, orang Nestoria terus menggunakan bahasa Siria. Diperkirakan bahwa sekitar akhir milenium pertama Masehi ada lebih banyak orang Nestorian daripada gabungan Katolik dan Ortodoks. Di antara orang Asia yang menjadi Kristen Nestorian adalah saudara ipar Kublai Khan. Orang Nestorian makmur di Kekaisaran Mongol tetapi hampir dimusnahkan oleh Tamerlane. 

Gereja Nestorian yang masih hidup semakin dilemahkan oleh pergulatan internal pada abad ke-15. Sebagian disebabkan karena patriark diharuskan membujang. Keponakan atau pamannya umumnya menggantikannya. Praktik ini  berhadapan dengan kanon Nestorian yang membatasi suksesi turun-temurun.

Mulai abad ke-19, banyak orang Nestorian di Turki, Suriah dan Irak yang dibangkitkan kembali oleh misionaris Protestan Eropa dan Amerika. Menyebabkan penganiayaan oleh tetangga Muslim mereka. Orang Nestorian dibantai pada tahun 1843. Setelah ini banyak yang bermigrasi ke daerah Danau Urmia di Iran. Kehadiran mereka lebih mudah ditoleransi. Banyak dari mereka yang tetap memeluk agama Protestan.

Bagi umat Kristiani yang tinggal di Persia, penganiayaan terjadi sesekali. Biasanya diakibatkan oleh hubungan penguasa tertentu dengan para pendeta Zoroaster asli. Zoroaster sering berjuang untuk meningkatkan kepercayaan asli mereka atas agama non-tradisional seperti Yudaisme, Buddhisme, Kristen dan Manikheisme. Sebagian besar waktu Nestorian hidup damai di bawah penguasa yang menyukai keragaman agama di dalam wilayah mereka. Kadang-kadang, orang Nestorian bahkan bertugas di militer Persia melawan Bizantium Kristen Barat. 

Dari Persia, gereja Nestorian terus berkembang ke arah Timur di sepanjang Jalur Sutra. Terletak di persimpangan Asia, wilayah Sogdiana (sekarang Uzbekistan dan Tajikistan) adalah pusat utama perdagangan dan pertukaran budaya yang menyatukan para pedagang dari hampir semua wilayah Asia. Melalui ikatan komersial lama mereka dengan pedagang Persia, Sogdians mulai beralih ke Kristen Nestorian dan memainkan peran kunci dalam transmisi timur. Seringkali multibahasa, pedagang Sogdiana melayani sebagai penerjemah teks Nestorian yang cakap. 

Di Lembah Tarim – tempat terkenal dari beragam kepercayaan agama – sebuah cache teks Nestorian yang diterjemahkan dari Syriac (bahasa resmi gereja Nestorian) ke bahasa Sogdian ditemukan pada awal abad ke-20. Meskipun terjemahan, beberapa teks ini sebelumnya tidak dikenal. Pada 650 seorang Uskup Agung sudah ada di Samarkand dan bahkan lebih jauh ke timur di Kashgar. Pedagang Sogdiana, bersama misionaris Suriah, juga berkontribusi pada konversi suku-suku Turki nomaden yang tinggal di padang rumput Asia Tengah. Kepercayaan Nestorian pada periode Mongol (abad ke-13), yang bercampur dengan praktik keagamaan pribumi, dianggap cukup makmur di antara para pengembara. 

Keberhasilan Nestorian di Tiongkok beragam. Sebuah monumen yang didirikan pada tahun 781 di ibu kota Tang, Chang’an (Xian), menceritakan kisah misionaris Suriah dan Persia yang membawa iman ke Tiongkok pada abad ketujuh. Sebagian besar penguasa Tang awal, yang berasal dari semi-asing, mempromosikan keragaman agama di Tiongkok. Mereka lakukan untuk membantu melegitimasi pemerintahan mereka. Oleh karena itu menyambut orang-orang Nestorian di samping agama-agama non-Tiongkok lainnya seperti Buddha. Setelah bertemu dengan Kaisar Tang Tai Zong (memerintah 626-649), misionaris Suriah Alopen diizinkan untuk mendirikan sebuah biara di Chang’an. Dia diminta untuk menerjemahkan Kitab Suci Kristen ke dalam bahasa Mandarin. Namun, penganiayaan terhadap kepercayaan non-Tionghoa di kemudian hari menyebabkan hilangnya orang Nestorian secara virtual di Tiongkok pada abad kesepuluh.

Cailac, Qayaligh, dekat Kapal yang sekarang di Kazakhstan, sekitar tiga liga darinya ditemukan sebuah desa yang seluruhnya adalah orang Nestorian. Di gereja mereka, bernyanyi dengan gembira dan dengan suara paling keras: “Salep, regina!”  Hidup campuran di antara “Mongol dan Tartar” meskipun berstatus asing (tanquam advene), adalah Nestorian dan Saracen (Muslim) sampai ke Cathay. Di lima belas kota Cathay ada orang Nestorian. Mereka memiliki Tahta Uskup di kota yang disebut Segin [= Hsi-king], tetapi sisanya mereka murni penyembah berhala. Para pendeta berhala bangsa-bangsa yang dibicarakan semuanya mengenakan kerudung lebar berwarna kunyit. 

Beberapa pertapa yang tinggal di hutan dan pegunungan dan menjalani kehidupan yang luar biasa petapa. Orang Nestorian di sana tidak tahu apa-apa. Mereka mengatakan kantor mereka, dan memiliki kitab suci dalam bahasa Suriah, tetapi mereka tidak tahu bahasanya. Mereka bernyanyi seperti biksu di antara kita yang tidak tahu tata bahasa, dan mereka benar-benar bejat. Pertama-tama mereka adalah perampas dan pemabuk; bahkan beberapa di antara mereka yang tinggal bersama Tartar memiliki beberapa istri seperti mereka. 

Ketika mereka memasuki gereja, mereka membasuh bagian bawah mereka seperti Saracen (Muslim). Mereka makan daging pada hari Jumat, dan pesta mereka pada hari itu dengan gaya Saracen. Uskup jarang mengunjungi bagian ini, hampir tidak sekali dalam lima puluh tahun. Ketika dia melakukannya, mereka memiliki semua anak laki-laki, bahkan mereka yang masih dalam buaian, imam yang ditahbiskan. Jadi hampir semua laki-laki di antara mereka adalah imam. Kemudian mereka menikah, yang jelas bertentangan dengan ketetapan para Bapa, dan mereka fanatik. Ketika istri pertama meninggal para pendeta ini mengambil yang lain. 

Mereka semua simoniacs, karena mereka tidak memberikan sakramen gratis. Mereka lebih memperhatikan istri dan anak-anak mereka. Akibatnya mereka lebih tertarik pada peningkatan kekayaan mereka daripada iman. Mereka yang mendidik beberapa putra bangsawan Mongol, meskipun mereka mengajari mereka Injil dan artikel-artikel iman, melalui kehidupan jahat mereka dan cinta kasih mereka menjauhkan mereka dari iman Kristen. Kehidupan yang Mongol sendiri dan Tuin [= Budha, dari Cina T’ao-yen: ” jalan manusia.”] Istilah ini secara tepat hanya mengacu pada pendeta.

Sebelum Minggu Septuagesima, orang Nestorian berpuasa tiga hari, yang mereka sebut puasa Yunus, yang dia khotbahkan kepada orang Niniv. Kemudian juga orang Hermen (Armenia) berpuasa selama lima hari, yang mereka sebut puasa Santo Serkis, yang merupakan salah satu orang suci terbesar di antara mereka. Menurut orang Yunani adalah teladan bagi orang-orang kudus. Orang Nestorian memulai puasa pada hari ketiga minggu itu, dan mengakhirinya pada hari kelima. Pada hari keenam mereka makan daging. Pada saat itu Rektor, yaitu Sekretaris Agung Istana, memberi mereka hadiah daging pada hari keenam. Mereka memberkatinya dengan kemegahan yang luar biasa, seperti domba Pascal yang diberkati. Dia sendiri, bagaimanapun, tidak makan (daging pada hari Jumat).

Pada oktaf Epiphany [13 Januari], semua imam Nestorian berkumpul sebelum fajar di kapel, memukul papan, dan dengan khusyuk menyanyikan Matins. Kemudian mereka mengenakan jubah gereja mereka, dan menyiapkan pedupaan dan dupa. Ketika mereka menunggu di pelataran gereja, istri pertama, yang disebut Cotota Cater (katering sama dengan “nyonya,” Cotota adalah nama yang tepat), memasuki kapel bersama beberapa wanita lain, dan putra sulungnya disebut Baltu, dan beberapa anak lainnya. Mereka bersujud, dahi ke tanah, menurut gaya Nestorian. Setelah itu mereka menyentuh semua gambar dengan tangan kanan mereka. Selalu mencium tangan mereka setelah menyentuhnya. Setelah ini mereka memberikan tangan kanan mereka kepada semua pengamat di gereja. 

Ini adalah kebiasaan orang Nestorian memasuki gereja. Kemudian para pendeta bernyanyi banyak. Meletakkan dupa di tangan wanita itu. Dia menaruhnya di atas api, dan kemudian mereka membuatnya menyala. Setelah itu ketika hari sudah cerah, dia mulai melepas penutup kepalanya, yang disebut bocca. Kepalanya yang telanjang, lalu mangkuk perak dibawa masuk. Mereka tidak merayakan misa di tenda, tetapi di gereja permanen. Pada Paskah (12 April), mereka membaptis dan menguduskan fonta dengan upacara besar.

Ketika datang Quinquagesima (22 Februari), yaitu ketika semua orang Kristen Timur berpantang daging, nyonya besar Cotata dan rombongannya berpuasa minggu itu. Dia emberikan makanan kepada para pendeta dan umat Kristen lainnya. Di antaranya banyak orang berkumpul di sana pada minggu pertama untuk mendengarkan kebaktian. Dia memberi masing-masing sebuah tunik dan celana panjang samite abu-abu, dilapisi dengan gumpalan sutra. 

Setelah minggu pertama puasa, wanita itu memberikan makanan serta madu. Orang Nestorian tidak makan ikan selama masa Prapaskah, begitu juga dengan orang Hermen (Armenia).

Berikut contoh cara Raja Mongol menguji kebenaran agama.

Penguasa Mongol mengatakan bahwa orang Kristen, Saracen (Muslim) dan Tuin (Buddha). Masing-masing mengatakan bahwa doktrinnya adalah yang terbaik, dan tulisannya – yaitu, buku – yang paling benar. Jadi dia berharap semua bertemu bersama, dan membuat perbandingan, masing-masing menuliskan ajarannya, sehingga dia sendiri dapat bisa mengetahui kebenaran. Kitab Suci kita memberitahu kita, hamba Tuhan seharusnya tidak membantah, tetapi harus menunjukkan kelembutan kepada semua; jadi saya siap, tanpa perselisihan atau pertengkaran, untuk memberi alasan untuk iman dan harapan orang Kristen, dengan kemampuan terbaik saya. Kemudian diberitahukan kepada Nestorian bahwa mereka harus melihat pada diri mereka sendiri, dan menuliskan apa yang ingin mereka katakan, dan juga kepada Saracen (Muslim), dan dengan cara yang sama kepada Tuin (Budha). 

Mongke Khan ingin tahu mengapa Misionaris datang. “Ini adalah kewajiban iman kita untuk memberitakan Injil kepada semua orang. Jadi ketika saya mendengar tentang ketenaran orang Mongol, saya berkeinginan untuk datang kepada mereka; dan sementara keinginan ini ada pada saya, kami mendengar bahwa Sartach adalah seorang Kristen. Jadi saya mengarahkan langkah saya ke arahnya. Dan raja raja Prancis mengiriminya sepucuk surat yang berisi kata-kata ramah, dan antara lain dia menjadi saksi tentang pria seperti apa kami ini, dan meminta agar dia akan memungkinkan kita untuk tetap berada di antara orang-orang Mongol. Kemudian dia (yaitu, Sartach) mengirim kami ke Batu, dan Batu mengirim kami ke Mongke Khan; jadi kami telah memohon padanya, dan sekali lagi memohon padanya, untuk mengizinkan kami tetap tinggal.

Malam Pentakosta tiba (30 Mei). Kaum Nestorian telah menulis seluruh kronik dari penciptaan dunia sampai Sengsara Kristus. Mereka melampaui hasrat, mereka telah menyentuh Kenaikan dan kebangkitan orang mati dan pada penghakiman. Di dalamnya ada beberapa pernyataan yang dapat dicela. Ada sekte di sana yang mengatakan bahwa roh apa pun (anima) dan jiwa atau kekuatan apa pun yang ada di dalam sesuatu, adalah Tuhan dari hal itu, dan bahwa Tuhan ada bukan sebaliknya. Kemudian orang Nestorian tidak dapat membuktikan apa pun, tetapi hanya untuk mengatakan apa yang dikatakan Alkitab.  Mereka tidak percaya pada Kitab Suci; Anda memberi tahu saya satu hal, dan mereka menceritakan hal lain. 

Mongke Khan mengirim tiga sekretaris yang akan menjadi wasit, satu seorang Kristen, satu seorang Saracen, dan satu lagi seorang Tuin; dan diterbitkan dengan lantang: “Ini adalah perintah Mongke, dan janganlah ada yang berani mengatakan bahwa perintah Tuhan berbeda darinya. Dia memerintahkan agar tidak ada yang berani bertengkar atau menghina orang lain, atau membuat keributan yang dengannya ini bisnis akan diganggu, dengan hukuman kepalanya.

Orang Kristen menempatkan saya di tengah, memberi tahu Tuin (Buddha) untuk berbicara dengan saya. Kemudian mereka – dan ada sekelompok besar dari mereka – mulai menggerutu terhadap Mongke Khan, karena tidak ada Khan lain yang pernah mencoba membongkar rahasia mereka. Kemudian mereka menentang saya seorang yang datang dari Cathay, dan yang memiliki penerjemahnya. Dia mulai dengan berkata kepada saya: “Teman, jika Anda pikir Anda akan dibungkam (tidak mampu), carilah yang lebih terpelajar daripada diri Anda sendiri.”  Tuin  bertanya bagaimana dunia dibuat, atau apa yang terjadi dengan jiwa setelah kematian. Saya menjawabnya: “Teman, ini seharusnya bukan awal dari pembicaraan kita. Segala sesuatu berasal dari Tuhan. Dia adalah sumber dari segala sesuatu; jadi pertama-tama kita harus berbicara tentang Tuhan.

Pertanyaan-pertanyaan ini sebagai yang paling berat; karena mereka semua termasuk bidah Manichaean, bahwa separuh dari hal-hal itu jahat, dan separuh lainnya baik, dan bahwa ada dua prinsip (unsur). Mengenai jiwa, mereka percaya bahwa semua berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Pendeta terpelajar di antara Nestorian menanyai tentang jiwa hewan, apakah mereka dapat melarikan diri ke tempat mana pun, setelah kematian, mereka tidak akan dipaksa untuk bekerja. Sebagai konfirmasi lebih lanjut dari kesalahan ini, telah dibawa dari Cathay seorang anak laki-laki yang, dari ukuran tubuhnya, tidak lebih dari tiga tahun, tetapi yang mampu melakukan segala bentuk penalaran, dan yang berkata tentang dirinya sendiri bahwa dia telah berinkarnasi tiga kali; dia tahu bagaimana membaca dan menulis. 

Kami sangat percaya di dalam hati kami dan kami mengaku dengan mulut kami bahwa Tuhan itu, dan bahwa hanya ada satu Tuhan, satu dalam kesatuan yang sempurna. Apa yang Anda percayai? Dia berkata: “Orang bodoh mengatakan bahwa hanya ada satu Tuhan, tetapi orang bijak mengatakan bahwa ada banyak. Apakah tidak ada tuan yang hebat di negara Anda, dan bukankah Mongke Khan ini adalah tuan yang lebih agung? Jadi itu dari mereka, karena mereka adalah berbeda di berbagai wilayah.

Anda memilih contoh yang buruk, di mana tidak ada perbandingan antara manusia dan Tuhan. Setiap orang yang perkasa dapat menyebut dirinya tuhan di negaranya sendiri. Dari sifat apakah Tuhanmu, yang menurutmu tidak ada yang lain? Tuhan kita, selain yang tidak ada yang lain, adalah mahakuasa, dan oleh karena itu tidak memerlukan bantuan yang lain, sementara kita semua membutuhkan bantuan-Nya. Tidak demikian dengan manusia. Tidak ada manusia yang dapat melakukan segalanya. Begitu pula pasti ada beberapa tuan di dunia, karena tidak ada yang dapat melakukan semua hal. Demikian juga Dia mengetahui segala sesuatu, dan oleh karena itu tidak memerlukan penasihat, karena semua kebijaksanaan datang dari-Nya. Demikian pula, Dia adalah kebaikan tertinggi, dan tidak menginginkan barang-barang kita. Tapi kita hidup, bergerak, dan berada di dalam Dia. Itulah Tuhan kita.

“Tidak begitu,” jawabnya. “Meskipun ada satu (Tuhan) di langit yang berada di atas semua yang lain, dan yang asalnya kita masih bodoh, ada sepuluh lainnya di bawahnya, dan di bawah yang terakhir ini ada yang lebih rendah lainnya. Di bumi mereka tak terbatas jumlahnya.” Saya bertanya kepadanya tentang dewa tertinggi ini, apakah dia percaya dia mahakuasa, atau apakah (dia percaya ini) dari dewa lain. Takut untuk menjawab, dia bertanya: “Jika Tuhanmu seperti yang kamu katakan, mengapa dia membuat setengah dari hal-hal itu jahat?” “Itu tidak benar,” kataku. “Dia yang membuat kejahatan bukanlah Tuhan. Semua yang ada, itu baik.”

“Mendengar ini semua Tuin (Buddha) tercengang, dan mereka menuliskannya sebagai salah atau tidak mungkin. Lalu dia bertanya: “Lalu dari mana datangnya kejahatan?” “Anda mengajukan pertanyaan dengan buruk,” kataku. “Pertama-tama Anda harus menanyakan apa yang jahat, sebelum Anda bertanya dari mana asalnya. Tapi mari kita kembali ke pertanyaan pertama, apakah Anda percaya bahwa ada tuhan yang mahakuasa; setelah itu saya akan menjawab semua yang mungkin ingin Anda tanyakan kepada saya.”

“Dia duduk lama tanpa menjawab, sehingga menjadi perlu bagi sekretaris yang mendengarkan di pihak Khan untuk menyuruhnya menjawab. Akhirnya dia menjawab bahwa tidak ada tuhan yang mahakuasa. Dengan itu para Saracen (Muslim) tertawa terbahak-bahak. Ketika keheningan dipulihkan, saya berkata: “Maka tidak ada satu dewa pun yang dapat menyelamatkan Anda dari setiap bahaya, karena saat-saat mungkin muncul di mana dia tidak memiliki kekuatan. Selain itu, tidak ada yang bisa melayani dua tuan: bagaimana Anda bisa melayani begitu banyak dewa dalam surga dan bumi?” Penonton menyuruhnya untuk menjawab, tetapi dia tetap tidak bisa berkata-kata. 

Ketika saya ingin menjelaskan kesatuan esensi ilahi dan Tritunggal kepada seluruh hadirin, orang-orang Nestorian di negara itu berkata kepada saya bahwa itu sudah cukup, karena mereka ingin berbicara. Saya menyerah kepada mereka, tetapi ketika mereka ingin berdebat dengan Saracen (Muslim), mereka [orang Saracen (Muslim)] menjawab mereka: “Kami mengakui agamamu adalah benar, dan bahwa segala sesuatu yang ada di dalam Injil adalah benar: jadi kami tidak ingin berdebat dengan kamu.” Dan mereka mengaku bahwa dalam semua doa mereka memohon kepada Tuhan untuk mengabulkan mereka mati sebagai orang Kristen mati. 

Ada hadir di sana seorang pendeta tua Iugur (Uighur), yang mengatakan ada satu tuhan, meskipun mereka membuat berhala. Mereka (yaitu, kaum Nestorian) berbicara panjang lebar dengannya, mengatakan kepadanya tentang segala hal sampai kedatangan Kristus dalam penghakiman, dan dengan perbandingan yang mendemonstrasikan Tritunggal kepadanya dan Saracen (Muslim). Mereka semua mendengarkan tanpa membuat kontradiksi, tetapi tidak ada yang berkata: “Saya percaya; saya ingin menjadi seorang Kristen.” Setelah ini selesai, orang Nestorian serta Saracen (Muslim) bernyanyi dengan suara nyaring; sementara Tuin (Buddha) tetap diam, dan setelah itu mereka semua minum sepuasnya.

MAR AWGIN

Kata Mar adalah kata dalam bahasa Syria untuk “tuan” atau “Tuan”. Bagi orang Kristen: Yesus adalah Tuhan, artinya Raja.

Gereja Timur menyebut pemimpin mereka rabban, mirip dengan rabbi.

Raja Shapur II meminta Mar Awgin untuk membangun gereja dan biara di seluruh Persia.

Mar Awgin mengutus 70 murid sebagai misionaris.

Lulusan sekolah Gereja Timur ini adalah pria & wanita yang beriman, perkasa dalam Kitab Suci, tekun dalam doa, lembut dan rendah hati dalam sikap, dan penuh kasih kepada Tuhan dan umat manusia. Mereka menopang diri mereka sendiri dengan kerja tangan mereka atau hidup dari akar dan buah-buahan atau di atas rumput di ladang. Tampaknya mereka menganggap tidak ada masalah yang terlalu besar. Tidak ada kesulitan yang terlalu parah, selama mereka dapat berbagi dalam menyebarkan pesan Injil keselamatan penuh bagi seluruh umat manusia.

Perusahaan Misionaris Nestorian

Kisah Gereja yang Terbakar

Pusat yang luar biasa untuk gereja misionaris yang memasuki tugas besarnya membawa Injil ke Timur Jauh.

Kristen telah menjadi, di samping Zoroastrianisme, kekuatan agama terkuat kedua di Kekaisaran [Persia].

JALUR SUTRA

Tulang punggung pertumbuhan Kristen dan tumbuh kembang Gereja adalah Jalur Sutra. Bagdad ke Beijing dilapisi penuh dengan kapel Kristen.

NISHAPUR (Iran), MERV (Turkmenistan) dan HERAT (Afghanistan).

Merv pernah menjadi kota terbesar di dunia pada tahun 1100-an.

Misionaris Suriah

Selama patriarkat Mar Ishu Iahb II, 636, misionaris Suriah pergi ke Tiongkok, dan selama 150 tahun misi ini aktif… 109 misionaris Suriah telah bekerja di Tiongkok selama 150 tahun misi Tiongkok.

Mereka berangkat dari Beth Nahrin, tempat kelahiran Abraham, bapa dari semua orang percaya. Para misionaris melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Mereka memiliki sandal di kaki mereka, dan tongkat di tangan mereka. Mereka  membawa keranjang di punggung mereka. Di dalam keranjang itu ada Tulisan Suci dan Salib. Mereka mengambil jalan di sekitar Teluk Persia; pergi ke sungai dalam dan pegunungan tinggi, ribuan mil. Dalam perjalanan mereka bertemu banyak bangsa yang belum mengenal Tuhan dan mengkhotbahkan Injil Kristus kepada mereka.

NEGARA ADIDAYA PERSIA

Yang memerintah Gereja Timur adalah Kekaisaran Parthia (247 SM-224 M) & kemudian Kekaisaran Sassanid (224-651 M).

ORANG KRISTEN PERSIAN Beda dengan Katolik Roma

Katolik Roma vs Kristen Persia:

Ikon vs Tidak ada Ikon

Latin vs Siria

Imam  tidak menikah vs menikah

EKSPANSI DI ASIA TENGAH & TIMUR

Ke arah Timur dari Sekolah Tinggi Edessa (Urfa) utusan agama Kristen pergi. Mereka mendirikan tenda di kamp-kamp Tartar yang mengembara. Lama dari Tibet gemetar mendengar kata-kata mereka. Mereka berdiri di sawah di Punjab. Mereka mengajar para nelayan di tepi Laut Aral.

Kita disebut orang Kristen dengan satu nama Mesias. Mengenai kebiasaan kita, saudara-saudara kita menjauhkan diri dari segala sesuatu yang bertentangan dengan profesi mereka. Orang Kristen Parthia tidak mengambil 2 istri. Orang Kristen Yahudi tidak disunat. Saudari Baktria kami tidak mempraktekkan pergaulan bebas.

Orang Persia tidak membawa putri mereka menjadi istri. Media tidak meninggalkan kerabat mereka yang sekarat atau menguburkan mereka hidup-hidup. Umat Kristen di Edessa (Urfa) tidak membunuh istri atau saudara perempuan mereka yang melakukan percabulan, tetapi mengikat mereka pada penghakiman Tuhan. Umat Kristen di Hatra tidak merajam pencuri.

Pada tahun 800 Masehi, masih ada lebih banyak pengikut Kristus di Timur Damaskus daripada di sebelah Barat Damaskus.

Salah satu alasan pemerintah Persia mengatakan bahwa mereka memindahkan ibu kota mereka dari Ctesiphon ke Baghdad pada tahun 762 M adalah “karena hal itu akan membuat kami berhubungan dengan tanah sejauh China.”

Pada tahun 814 M, Baghdad dianggap adalah kota terbesar di dunia.

MONUMEN KRISTEN DI CINA

Pada zaman Bapa dari Para Bapa, Mar Ananjesu, para katolikos dan patriark, ketika Adam, imam, adalah vikaris, uskup dan paus, yaitu, Metropolitan Cina pada tahun 1092 era Yunani (781 M), Mar Jazedbuzid, imam dan korepiskopus dari Kumdan kota kerajaan… mendirikan lempengan marmer yang di atasnya bertuliskan penebusan Juruselamat kita dan pemberitaan leluhur kita kepada raja-raja Tiongkok.

Adam, diaken, putra Jazedbuzid korepiskopus; Mar Sergius, imam dan korepiscopus; Sabarjesu, imam; Jibril, imam dan diaken agung, pemimpin gereja di kota Kumdan dan Sarag.

Prasasti Nestorian (monumen) ada di Museum Beilin di Xian, Cina. Salinannya ada di Museum Vatikan di Roma, di kampus Universitas George Washington di Washington, DC, AS dan di Kuil Buddha Shingon di Gunung Koya di Jepang.

KAISAR HIUEN TSANG (745)

Agama kitab suci yang dikenal sebagai Persia awalnya berasal dari Tatsin (Kekaisaran Romawi) dan yang, disebarkan melalui khotbah dan tradisi, masuk ke Kerajaan Tengah dan telah lama dipraktikkan di dalamnya.

Negara Ta-ts’in disebut Li-chien (Li-kin) dan, karena terletak di sebelah timur pelabuhan laut, wilayahnya berjumlah beberapa ribu li … . Raja mereka selalu ingin mengirim kedutaan ke Cina, tetapi An-Shi (Parthia) ingin berdagang dengan mereka dengan sutra Cina, dan karena alasan inilah mereka terputus dari komunikasi.

Ini berlangsung sampai … (166 M) ketika raja Ta-ts’in, An-tun (Marcus Aurelius), mengirim seorang kedutaan yang, dari perbatasan Jih-nan (Annam) mempersembahkan gading, cula badak, dan kura-kura darat. Sejak saat tanggal itu hubungan langsung dengan negara ini tercipta.

Dua kuburan Kristen kuno ditemukan di Siberia selatan dan dekat kota Bishkek (Kyrgyzstan modern) pada tahun 1885.

Menurut Teshima, Ruang Kuliah asli Kuil Budha Koryuji yang didirikan pada tahun 603 M bukanlah Budha tetapi Kristen.

MENGAPA KEKRISTENAN MENURUN DI ASIA?

Peyebabnya:

1. PENYIKSAAN

2. PENIPUAN

3. MONGOL

4. TAMERLANE

Ini adalah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai perjanjian bagi mereka yang memeluk agama Kristen, dekat dan jauh, kami bersama mereka.

Sesungguhnya saya, para hamba, para pembantu, dan pengikut saya membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah warga negara saya; dan demi Tuhan! Saya menentang apa pun yang tidak menyenangkan mereka. Tidak ada paksaan untuk mereka.

Tidak ada hakim mereka yang akan diberhentikan dari pekerjaan mereka maupun biarawan mereka dari biara mereka. Tidak seorangpun boleh menghancurkan rumah agamanya, merusaknya, atau membawa apapun darinya ke rumah Muslim.

Jika ada yang mengambil salah satu dari ini, dia akan merusak perjanjian Tuhan dan tidak menaati Nabi-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutu saya dan memiliki piagam aman saya terhadap semua yang mereka benci.

Tidak ada seorangpun yang memaksa mereka untuk melakukan perjalanan atau memaksa mereka untuk berperang. Muslim harus berjuang untuk mereka. Jika seorang wanita Kristen menikah dengan seorang Muslim, itu tidak boleh dilakukan tanpa persetujuannya. Dia tidak dilarang mengunjungi gerejanya untuk berdoa. Gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dicegah untuk memperbaikinya maupun kesucian perjanjian mereka. Tidak ada satu bangsa (Muslim) yang tidak mematuhi perjanjian sampai Hari Akhir (akhir dunia).

Kota metropolitan Maru Alsciahegian di Chorasania memiliki metropolitan terakhir (uskup) pada akhir periode ini… Metropolitan terakhir (uskup) dari Dailam hidup pada masa patriark Mares II (987-999AD) – Metropolitan terakhir (uskup ) dari provinsi Bardaa hidup pada masa patriark Ebedjesu III. Pada saat yang sama hiduplah metropolitan terakhir (uskup) Raia dan Tabrestania. Pada 1073 M. tidak ada baik seorang metropolitan (uskup) atau uskup dalam dua keuskupan Achlat (di barat pantai Danau Arsissa) dan Marga.

KRISTUS & KRISHNA

  1. keduanya disebut ‘Anak Tuhan’ dan ‘Juruselamat’
  2. mengklaim ada di bumi sebelum lahir
  3. memiliki ayah manusia yang bekerja sebagai tukang kayu
  4. ditempatkan di palungan setelah lahir
  5. dikunjungi oleh para gembala dan orang bijak
  6. disebut ‘Singa dari suku …’
  7. mengaku tidak berdosa
  8. menyembuhkan penderita kusta, mengusir setan, membangkitkan orang mati
  9. menyuruh murid menyebarkan ajaran mereka
  10. turun ke neraka, bangkit dari kematian, naik ke surga.

EMPAT KHAN BESAR

  1. Jenghis Khan 1206-1227
  2. Ogotai Khan 1229-1241
  3. Guyuk Khan 1246-1248
  4. Mongu Khan 1251-1259

Guyuk Khan dipanggil “Seorang Kristen sejati pada zamannya.”

Mongu Khan disebut “pengikut dan pembela agama Yesus.”

JENGHIZ KHAN

Kebahagiaan terbesar yang bisa dimiliki pria adalah menghancurkan musuh-musuhnya, mencuri kekayaannya, menunggang kudanya, melihat orang-orang yang disayanginya mandi air mata, memeluk istri dan putri mereka di dada.

Menurut pengujian DNA, sekitar 16 juta atau satu dari setiap 200 pria Asia berasal dari Genghis Khan.

JENGHIZ mengalahkan BEIJING.

KARAKORUM

Orang-orang saya sebanyak pohon-pohon di hutan. Saya ingin mereka memakan daging yang lembut, tinggal di tenda-tenda yang indah, dan menggembalakan kuda mereka di tanah yang subur.

MONGOLS MENGHANCURKAN NISHAPUR

Kerajaannya adalah 4 kali ukuran Alexander Agung, dua kali ukuran Kekaisaran Romawi, 1,5 ukuran Amerika Serikat.

MONGOLS MENYERANG EROPA

KUBLAI KHAN

Kublai Khan adalah kedua paling terkenal di antara bangsa Mongol.

Kublai menaklukkan Korea pada tahun 1259.

Kubilai gagal merebut Jepang pada 1274 & 1281.

Kubilai memperkenalkan pemujaan leluhur ke Tiongkok.

GHAZAN KHAN menjadi ISLAM

Akhir dari Kerajaan Mongol datang karena cucu dari Genghis Khan mulai berkelahi satu sama lain.

PERJALANAN MARCO POLO

“Kirimkan saya 100 orang ahli dalam agama Anda dan saya akan dibaptis dan semua mata pelajaran saya akan belajar agama Kristen juga. Maka akan ada lebih banyak orang Kristen di Timur daripada di Barat. “

Kubilai Khan 1275

TAMER LANE

Saya pernah dipaksa untuk berlindung dari musuh saya di gedung yang hancur tempat saya duduk selama berjam-jam. Ingin mengalihkan pikiran saya dari kondisi saya yang tanpa harapan, saya memusatkan perhatian pada seekor semut …

Ia membawa sebutir jagung, lebih besar dari dirinya, ke atas tembok yang tinggi. 69 kali biji-bijian jatuh ke tanah, tetapi serangga itu bertahan pada percobaan ke-70. Pemandangan ini memberi saya keberanian saat ini. Saya tidak pernah melupakan pelajaran yang diberikannya.

Di bawah Tamerlane, setiap gereja yang dibangun di atas batu benar-benar rata dengan tanah (700 di antaranya).

Di bawah Tamerlane, jumlah orang Kristen Asia turun dari 21 juta menjadi 3,4 juta, sisa sekitar 16%. Benar-benar sadis dan mengerikan.

Tamerlane, atau Timur, salah satu tukang jagal paling brutal dalam sejarah, meninggal pada tanggal 18 Februari 1405. Timur Lenk (1336 – 18 Februari 1405) (Bahasa Turki Chagatai: تیمور Tēmōr, besi), juga dikenal sebagai Temur, Taimur, atau Timur i Leng, yang artinya Timur si Pincang, karena kakinya yang pincang adalah seorang penakluk dan penguasa islam sunni keturunan Turki-Mongol dari wilayah Asia Tengah, yang terkenal pada abad ke-14, terutama di Rusia selatan dan Persia.

Timur dilahirkan di Kesh (kini bernama Shahr-i-Sabz, ‘kota hijau’), yang terletak sekitar 50 mil di sebelah selatan kota Samarkand di Uzbekistan.

Ayahnya bernama Teragai yang merupakan ketua kaum Barlas. Ia adalah cicit dari Karachar Nevian (menteri dari Chagatai Khan, yaitu anak Jenghis Khan sekaligus komandan pasukan tempurnya), dan Karachar terkenal di antara kaumnya sebagai yang pertama memeluk agama Islam.  Teragai mungkin saja mewarisi pangkat yang tinggi di bidang ketentaraan; tetapi seperti ayahnya Burkul, ia menggemari kehidupan beragama dan belajar.

Di bawah bimbingan yang baik, Timur ketika berusia dua puluh tahun bukan saja mahir dalam kegiatan-kegiatan luar ruangan, tetapi juga mempunyai reputasi sebagai pembaca Al-Quran yang tekun. Pada masa itu, ia disebutkan telah menunjukkan sifat-sifat yang ramah dan mudah bersimpati.

Timur merupakan seorang muslim yang mengagumi tarekat Naqsabandiyah yang berkembang di wilayah Transoxiana. Di kota Tirmidz, Timur mendapat pendidikan agama islam dari Sayyid Baraka yang juga merupakan seorang ulama  dan Ahlul Bayt. Akan tetapi, ulama yang menjadi penasihat bidang keislaman dari Kekaisarannya kelak adalah Abdul Jabar Khwarazmi, yang merupakan seorang Sunni Mazhab Hanafi.

Timur menghabiskan waktunya selama 35 tahun dalam berbagai pertempuran dan ekspedisi. Didukung pasukan Turki yang loyalis dan para tokoh Muslim serta ulama, Timur pun melakukan perluasan kekuasaan. Dia melebarkan kekuasaannya ke wilayah Barat dan Baratlaut meliputi Mongol, Laut Kaspia, Ural, dan Volga. Ekspedisi yang dilakukannya ke wilayah selatan dan barat daya mampu menaklukkan setiap provinsi di Persia, termasuk Baghdad, Karballa, dan Irak Utara. Tak heran, bila banyak kota dan daerah yang dikuasai dinasti lain berhasil dikuasai Timur. Salah satu lawan yang paling berat bagi Timur adalah Tokhtamysh.

Timur tumbuh sebagai pemuda yang berbakat. Dunia militer merupakan pilihan hidupnya. Dia pun lalu bergabung sebagai tentara pada penguasa lokal, Amir Husein. Pada 1360 M, Timur telah menjadi seorang pemimpin militer termasyhur. Timur dikenal sebagai komandan yang gigih dalam mempertahankan wilayahnya dari ancaman Tughluq Timur Khan, penguasa Dinasti Chagatai. Ketangguhan dan kehebatannya membuat penguasa Dinasti Chagatai terkesan. Tuglaq lalu menawarkan sebuah jabatan kepada Timur menjadi pembantu utama (wazir) Gubernur Samarkand, Ilyas. Timur pun menerima tawaran itu. Bersama Amir Husein, Timur lalu melakukan pemberontakan dan mengalahkan pasukan Tuglaq Timur Khan hingga membuat Dinasti Chagatai terjungkal.

Pada bulan Januari, Scourge of God masuk angin. Salah satu tukang jagal paling brutal dalam sejarah, sekarang mungkin berusia tujuh puluhan, telah berangkat dengan 200.000 pasukan dari Samarqand, ibukotanya, untuk mencoba membuat perhitungan terakhir dengan Kekaisaran Cina, 3.000 mil jauhnya. Saat itu musim dingin yang membekukan, dengan negara yang bersalju tebal dan sungai membeku. Tentara berhenti di Otrar di tempat yang sekarang disebut Kazakhstan. Upaya para dokter untuk menyembuhkan majikan mereka, termasuk memasukkannya ke dalam es saat hawa dingin berubah menjadi demam, gagal dan menjadi jelas bahwa dia sedang sekarat. Akhirnya, dikelilingi oleh para wanita dan komandan seniornya, dengan suara yang lemah, hampir tak terdengar dia mengucapkan pidato yang fasih, memberitahu mereka untuk tidak menangis atau berlari kesana kemari merobek pakaian mereka tetapi berdoa kepada Tuhan agar mengasihani dia.

Dia meninggal sekitar pukul delapan malam, sementara angin sedingin es menderu-deru di sekitar istana dan tenda-tenda pasukannya di luar. Ekspedisi Tiongkok ditinggalkan dan tubuhnya dibawa kembali ke Samarqand untuk dimakamkan di bawah kubah makam Gur Amir di peti mati baja di bawah lempengan batu giok hitam sepanjang enam kaki, yang kemudian merupakan potongan batu terbesar di dunia. Sebuah prasasti mencatat: ‘Ini adalah tempat peristirahatan raja yang termasyhur dan penyayang, Sultan yang paling agung, pejuang yang paling perkasa, Tuan Timur, Penakluk Dunia.’

Di Eropa nama Timur iLeng, Timur yang Pincang menjadi Tamerlane atau Tamburlaine. Dia lumpuh, dia perkasa, dia tidak berbelas kasihan. Seperti yang dikatakan penulis biografinya Justin Marozzi, jutaan yang dibantai – ‘dikubur hidup-hidup, disemen ke dinding, dibantai di medan perang, diiris menjadi dua di pinggang, diinjak-injak sampai mati oleh kuda, dipenggal, digantung’ – yang lain mungkin akan memiliki pendapat yang berbeda. Dari keturunan Mongol dari tempat yang sekarang bernama Uzbekistan, ia mulai sebagai pencuri domba dan bandit. Terluka dalam pertempuran kecil yang membuatnya lumpuh di kaki kanannya dan tidak dapat mengangkat lengan kanannya. Pada tahun 1941, makamnya dibuka oleh seorang arkeolog Soviet, Mikhail Gerasimov, yang mengkonfirmasi luka-luka tersebut.

Membangun kekuatan beberapa ratus penunggang kuda, Timur mengambil layanan di bawah kepala suku Mongol yang menyerang, merebut Samarqand, mengambil seorang istri keturunan dari Genghis Khan dan melanjutkan karir penaklukan yang menakjubkan sampai dia memerintah dari Damaskus ke Delhi. Tentara yang terorganisir secara efisien di bawah standar ekor kudanya menempuh jarak yang sangat jauh. Dia menghancurkan Golden Horde, menaklukkan Persia dan Mesopotamia, menginvasi Rusia, Georgia, India, Syria dan Turki. Ribuan wanita dibawa sebagai budak. 

Di Baghdad, 90.000 penduduknya dipenggal kepalanya sehingga dia bisa membangun menara dengan tengkorak mereka. Di Sivas di Turki, di mana dia menjanjikan tidak ada pertumpahan darah sebagai imbalan untuk penyerahan diri, dia memiliki 3.000 tahanan yang dikubur hidup-hidup dan menunjukkan bahwa dia telah menepati surat sumpahnya. Kekejamannya dimaksudkan untuk menyerangkan teror ke hati lawan, dan kota-kota yang segera menyerah terkadang diselamatkan dari satu karung. 

Dia adalah seorang Muslim dan dia membenarkan kampanyenya melawan Kristen dan Hindu sebagai menyebarkan iman yang benar. Ketika dia menyerang dan membantai sesama Muslim, seperti yang sangat sering dia lakukan, mereka selalu digambarkan sebagai ‘Muslim yang buruk’. 

Timur adalah pelindung seni dan pembelajaran dan dia mengubah Samarqand menjadi kota yang sangat indah. Kerajaannya, yang tidak pernah lebih dari ekspresi dominasi pribadinya, tidak selamat dari kematiannya. 

Setelah 1500 tahun Kristen di Asia, hanya dua kelompok kecil yang tersisa… di India dan di pegunungan Kurdistan.

ANJIRO, XAVIER & KAGOSHIMA

Saya bertanya kepadanya “apakah jika saya kembali bersamanya ke negaranya, orang Jepang akan menjadi Kristen?” Dia berkata “mereka tidak akan melakukannya sampai mereka mengajukan banyak pertanyaan” kepada saya dan “melihat dari cara saya menjawab seberapa banyak yang saya tahu”.

Yang terpenting, mereka ingin melihat apakah saya mempraktikkan apa yang saya khotbahkan dan percayai … kemudian, setelah menonton saya selama 6 bulan, raja, bangsawan, dan semua orang lain yang bijaksana akan menjadi Kristen, ‘untuk Jepang’, katanya, “sepenuhnya dipandu oleh hukum nalar”.

Pada tahun 1597 di Nagasaki 26 orang Kristen Jepang dan misionaris asing (termasuk tiga anak laki-laki) diikat di salib, ditombak dan dibiarkan digantung selama 9 bulan.

Pada tahun 1866, 30.000 “orang Kristen tersembunyi” (kakure krishitan) keluar dan hampir setengahnya bergabung dengan Gereja Katolik lagi.

ALASAN PERTUMBUHAN PROTESTAN DI JEPANG (1889)

  1. Pengutamaan (prioritas) bidang pendidikan
  2. Kualitas dan semangat para pemimpin
  3. Menerjemahkan Bible ke dalam bahasa Jepang.

KONTROVERSI RITUS

Jesuit meniru orang Tionghoa dan mengizinkan mereka untuk membungkuk dan / atau menyembah di kuburan leluhur mereka. Jadi pada tahun 1773 Paus membubarkan Yesuit.

Saya yakin percaya bahwa di pulau Formosa ini mungkin ada yang akan menjadi… komunitas Kristen terkemuka… tidak ada… bangsa yang lebih bersedia untuk menerima Injil.

William Carey disebut “Bapak misi modern”.

Khotbah udara terbuka di China: Hudson Taylor menggunakan buku tanpa kata.

TIMOTHY RICHARD mempraktekkan 4 cara PENANAMAN GEREJA:

  1. SESUAIKAN DENGAN CARA CINA
  2. LATIH KEPEMIMPINAN CINA
  3. PILIH PENGINJIL TERBAIK
  4. CINTA CINA

STATISTIK CHINA

                                                                        1900/2000

FOLK RELIGIONS          376,300,000 (79.7%)/360,000,000 (28.5%)

BUDDHIST                       60,000,000 (12.7%)/106,000,000 (8.4%)

MUSLIMS                         24,000,000 (5.1%)/19,000,000 (1.5%)

CHRISTIANS                   1,670,000 (0.4%)/89,000,000 (7.1%)

 – ROMAN CATHOLIC    1,200,000 (0.2%)/7,000,000 (0.6%)

 – PROTESTANT              436,000 (0.1%)/71,000,000 (6.0%)

 – ORTHODOX                34,000

Hendrick Hamel adalah orang Barat pertama yang menulis tentang Korea dengan pengetahuan langsung.

QUELPORT (PULAU JEJU)

Quelport paling selatan adalah tempat yang menawan. Jika itu dikelola dengan baik, dan sangat nyaman, sehingga jika sebuah pabrik didirikan di sini kami dapat berdagang dengan sangat mudah ke Jepang, Korea, Manchuria, dan Cina. Tetapi jika ini tidak dilakukan, tidak bisakah pulau seperti itu menjadi pusat misionaris?    

Robert Thomas adalah martir misionaris asing Protestan pertama ke Korea. 

John Ross menerjemahkan salinan lengkap pertama Perjanjian Baru ke dalam bahasa Korea.  

Dr. Horace Allen menyelamatkan hidup Pangeran Min.

John Nevius tidak hanya menekankan penginjilan dan studi Alkitab tetapi juga mengajarkan prinsip 3-diri pertumbuhan gereja:

  1. menyebarkan diri,
  2. mengatur diri sendiri &
  3. swadaya.   

1907 PYONGYANG REVIVAL EVANGELISTS

Kebangkitan Pyongyang termasuk doa yang tulus, keinginan untuk dekat dengan Tuhan, pengakuan dosa dengan pikiran yang rendah hati & berpusat pada orang lain.

Yi Gi-Pung adalah misionaris pertama Korea. Dia pergi ke Pulau Jeju.

TIM MISI KOREA ke AFGHANISTAN berpesan:

Mati bagi Kristus adalah hal yang mulia. Jangan menangis untukku jika aku mati untuk melayani Tuhanku. Letakkan di batu nisan saya, “Dia meninggal saat melatih anak muda untuk membuat perbedaan di dunia.”

5 GENERALISASI SEJARAH GEREJA ASIA disimpulkan TAHUN 1800-an

  1. 50-225 Tradisi Syria: Suatu masa pertumbuhan Gereja
  2. 225-1000 Jalur Sutra lama: Suatu masa misi Protestan
  3. 1000-1359 Pergi ke Timur: Suatu masa Penginjilan
  4. 1500-1750 Gelombang Katolik: Suatu masa perempuan dalam misi
  5. 1750-1900 Gelombang Protestan: Suatu masa sukarelawan.

GERAKAN MENANAM GEREJA

Tapi rumah apa pun yang kamu masuki, pertama-tama katakan, ‘Damai ke rumah ini.’ 6 Dan jika Putra Perdamaian ada di sana, kedamaian kamu akan bertumpu padaNya; jika tidak, itu akan kembali kepada kamu. 7 Dan tinggallah di rumah yang sama… Jangan pergi dari rumah ke rumah. 8 Kota mana pun yang kamu masuki, dan mereka menerima kamu, makanlah yang telah disediakan di hadapanmu. 9 Dan sembuhkan yang sakit di sana, dan katakan kepada mereka, ‘Kerajaan Allah sudah dekat denganmu.’

Lukas 10: 5-9

Jangkau kampus hari ini… jangkau dunia besok.

Mencapai Pemimpin Untuk Kristus

Hudson Taylor mungkin telah memasuki provinsi China pada tahun 1865, tetapi Injil sampai di sana 1500 tahun sebelumnya. Misionaris merasa sulit untuk menatap mata petobat baru. Dia ditanyai pertanyaan yang dia takuti. Tapi jika misionaris bekerja di Asia Timur, dia tidak perlu merasa malu atas nama orang Kristen di era sebelumnya. Dia dapat menjawab dengan yakin, “Injil telah berulang kali datang ke Asia Timur, tetapi tidak selalu diterima.”

Cina
Meskipun sebuah Brevir Syria menyebutkan kunjungan St Thomas ke Cina, saksi terpercaya pertama dari pesan Kristen yang telah mencapai “tanah orang sutra” adalah sejarawan Kristen Romawi Arnobius, menulis pada tahun 303 Masehi. Sebuah biara yang berasal dari abad ketujuh baru-baru ini diidentifikasi di dekat Xi’an.

Pada abad kedelapan, gereja Kristen memainkan peran dalam kehidupan kekaisaran Tang. Monumen besar Nestorian di Xi’an masih menjadi saksi iman para misionaris Suriah awal ini, mencatat nama-nama uskup di seluruh kekaisaran. Legenda juga menceritakan tentang seorang tabib Kristen dari Suriah mencapai Jepang selama periode ini.

Invasi Tibet dan kebangkitan Buddha di bawah kaisar Ming tampaknya menandai akhir dari gereja-gereja ini. Tetapi pada saat bangsa Mongol menguasai China pada abad ke-13 hingga ke-15, umat Kristen kembali menonjol. Raja kecil, ibu dan istri kaisar adalah orang Kristen tetapi, tidak seperti di Barat, tidak ada kaisar yang pernah menjadi orang percaya.

Suku bangsa Mongolia dan Turki seperti Keraits dan Uyghur dikenal sebagai Kristen. Kubilai Khan meminta Roma untuk mengirim 100 misionaris, tetapi mereka tidak pernah dikirim. Perjalanan ke arah yang berlawanan melihat Mark, seorang Kerait atau Uyghur, menjadi Patriark dari seluruh Gereja di Timur sebagai Yaballahe III pada tahun 1281. Rekannya, Sauma, melakukan perjalanan ke Roma dan London, di mana dia menyelenggarakan Komuni Suci kepada Raja Edward I.

Indonesia, Burma dan Thailand

Kisah-kisah menarik diceritakan tentang gereja-gereja Kristen di berbagai belahan Asia Timur. Seorang Mesir bernama Abu Salih melaporkan orang Kristen di Sumatera Utara pada abad ke-12. Pada 1503, seorang Prancis yang melakukan perjalanan di Asia bertemu dengan dua Uskup Agung dari Babilonia dalam perjalanan ke gereja-gereja di Jawa. Dia juga mendengar tentang gereja-gereja di Burma dan Thailand.

Tidak ada lagi yang diketahui tentang gereja-gereja Asia ini setelah kekuatan kolonial Barat tiba. Namun, kita harus bertanya berapa banyak gereja yang hilang ini mungkin telah berkontribusi pada pertobatan abad ke-19 dari suku Kristen, seperti Karen yang sedang menunggu utusan untuk kembali dengan buku surgawi yang telah hilang.

Xavier dan Ricci

Pelayanan Francis Xavier abad ke-16 di Jepang dan Matteo Ricci di Cina sangat terkenal. Sejumlah besar orang menjadi Kristen. Kita tidak tahu seberapa banyak Injil yang benar-benar mereka pahami, tetapi memang benar bahwa banyak yang siap dibunuh karena kesetiaan mereka kepada Kristus.

Penyebaran Katolik Roma Umat Katolik

Jepang dan Vietnam yang tulang martirnya dapat dilihat di Gereja St. Paul, Makau tidak disebutkan namanya, tetapi pengabdian mereka kepada Kristus di bawah penganiayaan berat harus diingat. Ke mana pun penakluk Portugis dan Spanyol pergi, para pendeta pergi bersama mereka. Di bawah Spanyol, Filipina menjadi negara Katolik.

Misionaris Protestan

Politik dan geografi sama-sama menjadi penghalang bagi misionaris Protestan pertama, yang secara bertahap diatasi. Pada abad ke-17 para Menteri dikirim ke Hindia Timur. Peran mereka terutama untuk melayani orang Belanda, tetapi beberapa memiliki jiwa misionaris yang sejati.

Sebuah sekolah pelatihan misionaris didirikan di Belanda. Misionaris Belanda bertanggung jawab untuk menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Indonesia. Newman pergi ke Buluh Awar Sumatera Utara yang kemudian menghasilkan Gereja Batak Karo Protestan, GBKP. Dengan demikian menjadi bahasa non-Eropa pertama yang memiliki Kitab Suci sejak Reformasi. Pada tahun 1800 Indonesia memiliki gereja terbesar di Asia Timur, dengan 200.000 orang Kristen Protestan.

Pada 1793 William Carey pergi ke India di mana dia segera bergabung dengan Marshman dan Ward. Serampore Trio, demikian sebutan mereka, memiliki pengaruh yang luas pada pekerjaan misionaris di Asia Timur, khususnya melalui penerjemahan Kitab Suci. Adoniram Judson menghabiskan waktu bersama mereka sebelum dia memulai pekerjaan perintisannya di Burma.

Mereka yang melihat lebih jauh ke timur terfokus pada Cina daripada negara-negara lain di Asia Timur. Tetapi sampai Cina dibuka pada tahun 1842, pelopor seperti Robert Morrison memberikan perhatian kepada orang Cina dan lainnya di Malaya dan Singapura. Ada petobat Kristen baru di antara orang Cina dan India dan bahkan beberapa orang Melayu.

“British Interlude” (1811-1816) di Hindia Belanda di bawah Stamford Raffles, memungkinkan dimulainya pekerjaan misionaris di Jawa. William Robinson, diutus oleh kaum Baptis dari Serampore, mendapat kehormatan menjadi misionaris pertama di Jawa. Ia dan penerusnya, dari denominasi lain, membawa pertumbuhan gereja yang luar biasa di Jawa Timur.

Misi Pedalaman Tiongkok

Pada tahun 1865 James Hudson Taylor menangkap visi untuk memasuki provinsi pedalaman Tiongkok. Dia mendirikan Misi Pedalaman Tiongkok, sekarang OMF Internasional. Ke setiap provinsi dan kota diutus pergi pekabaran Kristen, dan gereja didirikan. CIM menjadi misi terbesar yang bekerja di Cina.

Misi lainnya, Protestan dan Katolik, juga aktif dalam upaya menginjili negara terbesar di Asia itu. Orang Cina juga diinjili di negara Asia Timur lainnya tempat mereka beremigrasi. Seringkali mereka lebih tanggap terhadap Injil di luar negeri daripada di tanah air mereka. Gereja-gereja Brethren and Methodist yang besar di Malaysia dan Singapura adalah kesaksian dari pekerjaan ini.

Gereja danpekerjaan Kristen kolonialisme selama periode ini biasanya mencerminkan keadaan gereja dalam kekuasaan kolonial. Di wilayah Belanda dan Inggris, pekerjaan Protestan berkembang pesat, tetapi di wilayah Prancis umumnya Katolik yang maju. Di Indo-Cina, gereja-gereja Katolik besar didirikan, khususnya di Vietnam, yang selamat dari komunisme dan perang.

Di Thailand, di mana tidak ada kekuatan asing yang pernah berkuasa, baik misi Katolik Prancis dan Protestan dari Inggris, Amerika, dan Belanda dapat ditemukan. Terlepas dari hubungan baik dengan beberapa raja Thailand, Injil berkembang terutama di antara orang-orang Cina dan Laos.

Umat ​​Katolik Roma Jepang di Jepang bersembunyi setelah penganiayaan pada abad ke-17. Ketika negara itu dibuka kembali 200 tahun kemudian, seluruh komunitas yang telah menjaga kepercayaan selama berabad-abad ditemukan di sekitar Nagasaki. Kristen Ortodoks Rusia memasuki Jepang pada tahun 1861 ketika Nicolai menjadi pendeta di konsulat di Hakodate. Pada akhir abad itu, sekitar 24.000 orang Jepang adalah Kristen Ortodoks.

Pekerjaan Protestan utama sejak pembukaan negara pada tahun 1858 dilakukan oleh orang Amerika. Ini adalah tahun-tahun pesona Jepang dengan segala hal yang berbau Barat, dan untuk sementara gereja berkembang pesat.

Korea
Kristen Korea tumbuh dari penganiayaan, terutama selama periode kolonialisme Jepang. Presbiterian Amerika berada di garis depan pekerjaan Protestan. Nevius pada tahun 1890 memiliki pengaruh besar dalam mendirikan gereja yang mandiri daripada bergantung pada orang asing.

Akhir abad kedua puluh

Sejak Perang Dunia II telah terjadi perluasan kegiatan misionaris yang berkelanjutan di seluruh Asia. Banyak yang menangkap visi tentang pekerjaan Injil saat melayani dalam pasukan, dan kembali ke Asia setelah perang sebagai misionaris.

Kebangkitan nasionalisme selama abad ke-20 memiliki dua pengaruh pada Injil. Salah satunya adalah kemerdekaan dan martabat gereja-gereja nasional Asia. Di negara-negara seperti Cina, Korea dan Singapura, gereja-gereja pribumi mungkin lebih kuat dari sebelumnya dalam sejarah. Tetapi efek lain dari nasionalisme adalah kebangkitan agama-agama Asia yang lebih tua dan pencarian ideologi dan kepercayaan yang tidak berhutang apa pun kepada Barat.

Injil telah diberitakan di Asia setidaknya selama 17 abad. Bisa jadi di abad ke-21 kita akan melihat agama Kristen asli dan budaya Asia pada akhirnya mulai mengubah seluruh Asia, karena banyak yang menjadi warga surga.

Agama Kristen di Asia terdiri dari berbagai macam fenomena. Ini termasuk gereja misi, denominasi, dan lembaga terkait yang didirikan oleh misionaris Barat. Banyak gerakan independen dan pribumi (gereja atau sekte yang didirikan oleh orang Kristen Asia, yang secara organisasi independen dari gereja Barat). Kepercayaan pribadi dan praktik ritual yang diadopsi oleh individu yang dipengaruhi oleh agama Kristen tetapi tidak berafiliasi dengan bentuk organisasinya. Untuk memahami pentingnya tradisi keagamaan ini di Asia, studi agama Kristen harus mencakup baik sejarah tradisi Kristen yang ditransplantasikan dan upaya misionaris asing. Beragam tanggapan “pribumi” dan perampasan agama Kristen yang berada di luar kerangka kerja agama Kristen dari gereja-gereja Barat.

Timur Jauh

Sejarah Kekristenan di Timur Jauh bukanlah satu cerita. Pengenalan agama Kristen dan pola perkembangan selanjutnya sangat berbeda di Cina, Taiwan, Jepang, dan Korea. Dalam beberapa kasus, perkenalan berulang kali dilakukan sebagai tanggapan atas perubahan iklim politik di negeri-negeri ini.

Cina

Pada abad ketujuh M, orang Kristen Nestorian telah pergi dari Mesopotamia (Irak) sampai ke Cina bagian barat. Penemuan “monumen Nestorian” yang terkenal oleh para Yesuit pada tahun 1623 di kawasan ibu kota Dinasti Tang lama (618 – 907), Chang-an, telah menyediakan informasi yang dapat dipercaya tentang asal-usul, kedatangan (635 M), dan keberuntungan dari mereka yang terlibat dalam petualangan yang luar biasa ini. Gereja ini bertahan sekitar dua abad.

Serangan Kristen kedua datang dengan upaya Fransiskan untuk mendirikan misi di Khanbaliq (Beijing), dengan harapan konversi Kubilai Khan (1216 – 1294). Harapan tidak menjadi kenyataan malah dibuat frustrasi oleh pemindahan orang-orang Asia Tengah ke Islam dan bukan Kekristenan. John dari Monte Corvino (wafat sekitar tahun 1330) tiba di Beijing pada tahun 1294. Berkumpul di sekitarnya orang-orang Kristen dari orang Uighur (yang telah bertobat ke dalam bentuk Kristen Nestorian). Dia mendapatkan konsekrasi sebagai Uskup Agung. Misionaris lain telah bergabung dengannya. Namun, jarak dari gereja asal membuat pekerjaan mereka sulit.  Setelah sekitar setengah abad misi tersebut tidak ada lagi.

Upaya ketiga dilakukan oleh para Yesuit pada abad keenam belas. Matteo Ricci (1552 -1610) dan rekan-rekannya mendapatkan dukungan dari orang Cina dengan prestasi mereka di bidang astronomi dan dengan memperkenalkan jam, belajar bahasa Cina, dan mengadopsi banyak cara Cina. Menurut para pengkritiknya, Ricci dan rekan-rekannya bersiap untuk melangkah terlalu jauh dalam mengadaptasi Injil Kristen dengan adat dan tradisi Tionghoa. Pada 1744, Paus melarang semua akomodasi semacam itu dengan cara non-Romawi. Misi tersebut bertahan dengan sendirinya, dengan berbagai keuntungan, selama satu setengah abad. Itu tidak pernah benar-benar mati, tetapi pada akhir abad kedelapan belas itu hampir tidak lebih dari bayangan apa yang telah terjadi. Penemuan diari Andrew Li, seorang pendeta Tionghoa yang pernah dididik di seminari Ayutthaya (Thailand), di mana para siswanya, dari banyak negeri, hanya boleh berbicara satu sama lain dalam bahasa Latin.

Serangan misionaris keempat, Katolik Roma dan Protestan, mengikuti Perang Opium yang terkenal dari tahun 1840 hingga 1842, dan perjanjian Nanjing yang tidak adil. Para misionaris secara bertahap berhasil membangun tempat tinggal di semua provinsi Cina sejauh perbatasan Tibet. Katolik Roma mengandalkan perlindungan kaisar Napoleon III. Sebagian besar Protestan mengikuti nasihat Hudson Taylor dari China Inland Mission dalam membuat permohonan mereka hanya kepada otoritas Tiongkok yang dibentuk secara teratur. Gereja tumbuh perlahan tapi pasti melalui ikatan individu dan keluarga. Tapi misi Kristen selalu dicurigai terkait dengan imperialisme yang dibenci yang dijalankan oleh kekuatan Barat.

Dengan kegagalan apa yang disebut Pemberontakan Boxer pada akhir abad kesembilan belas, banyak orang Cina merasa terdorong untuk mencari sumber daya moral baru untuk pemulihan Cina. Mereka menemukan jawaban dalam pengajaran Yesus Kristus, meskipun dengan lebih menekankan pada ajaran moral dan sosial daripada pada konten keagamaan secara khusus. Sejumlah anak muda yang menakjubkan menerima baptisan. Banyak dari mereka kemudian dibedakan dalam kehidupan nasional China.

Kemudian, pada tahun 1949, komunis menggulingkan pemerintahan Chiang Kai-shek dan mengambil alih kekuasaan Tiongkok. Sikap mereka adalah memusuhi semua agama. Beberapa orang Kristen berhasil membuat kesepakatan dengan pemerintah yang bermusuhan ini. Gereja-gereja ditutup. Orang-orang Kristen didorong ke bawah tanah. Banyak pengamat percaya bahwa untuk keempat kalinya China telah menolak pekabaran Kristen.  Gereja dinyatakan telah mati, kecuali untuk kelompok rumah kecil. Ketika pemerintah melonggarkan pembatasannya atas praktik Kristen pada 1979, menjadi jelas bahwa gereja-gereja itu sangat hidup. Beberapa daerah bahkan menambah keanggotaannya. Perkiraan pemerintah tentang populasi Kristen pada tahun 1982, sebenarnya, adalah tiga juta, atau tiga kali lipat keanggotaan pada tahun 1949.

Umat ​​Katolik Roma berada dalam posisi yang sangat ambigu karena banyak orang Cina telah menolak kesetiaan kepada Roma yang dituntut Roma. Kaum Protestan telah membentuk sebuah dewan nasional, yang telah menyatukan mereka. Tanpa menghilangkan perbedaan denominasi dan tanpa menghilangkan kecemasan. Mereka ada yang merasa bahwa dewan tersebut telah membuat terlalu banyak konsesi kepada para penguasa Marxis.

Sejak 1980-an, kekayaan agama Kristen di China telah berubah secara dramatis. Pergeseran demografis massa dari pedesaan ke perkotaan disertai dengan pertumbuhan pesat gereja-gereja Kristen, gereja rumah bawah tanah, dan gerakan Kristen independen. Seperti di India, agama Kristen juga meraih sukses besar di antara kelompok suku minoritas. Sebuah penelitian pada tahun 1997 menemukan bahwa di Fugong County di barat daya China, daerah di mana minoritas Lisu terkonsentrasi, sekitar tujuh puluh persen penduduknya beragama Kristen. Ada ketidaksepakatan yang cukup besar tentang jumlah aktual orang Kristen di Tiongkok kontemporer. 

Pada tahun 2003, pemerintah memperkirakan setidaknya ada enam belas juta orang Kristen. Dewan Kristen China menyarankan sejumlah setidaknya dua puluh lima juta. Para ahli dari luar China menyarankan angka mulai dari empat puluh juta hingga seratus juta. Berapa pun jumlah sebenarnya, jelas bahwa agama Kristen Tionghoa sedang dalam fase pertumbuhan dan pengaruhnya menyebar luas ke seluruh masyarakat.

 Taiwan

Situasi Kristiani di pulau itu rumit. Selama satu abad, misi utama Kristen di Taiwan adalah Presbiterian (Kanada di Utara, Inggris di Selatan). Ketika Presbiterian datang ke ulang tahun kesembilan puluh berdirinya misi, mereka bertanya pada diri sendiri apa yang harus mereka lakukan untuk merayakan seratus tahun. Mereka memutuskan bahwa, dalam dekade menjelang itu, mereka akan melipatgandakan keanggotaan mereka dan menggandakan jumlah tempat mereka beribadah. Dukungan populer yang kuat mencapai tujuan ini.

Selama periode pendudukan kolonial Jepang, dan dalam menghadapi kemungkinan oposisi terkuat dari Jepang, gerakan Kristen yang luar biasa mulai terjadi di antara orang-orang yang tinggal di pegunungan. Orang-orang ini, yang merupakan persentase kecil dari populasi pulau, berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Mereka mengikuti tradisi leluhur yang sama sekali berbeda dari orang-orang Taiwan dataran rendah. Pada abad kedua puluh, seluruh komunitas telah menjadi Kristen.

Seluruh situasi di pulau itu berubah dengan emigrasi massal dari Cina daratan yang mengikuti runtuhnya pemerintahan Kuomintang. Chiang Kai-shek sendiri, dengan banyak pengikutnya yang terkemuka, meninggalkan rumah mereka untuk memulai kehidupan baru di Taiwan. Mereka mengklaim bukan kaum Marxis, mewakili semangat dan suksesi China yang sebenarnya. Ini sama sekali tidak disukai oleh orang Taiwan. Di bawah Jepang mereka dipaksa untuk belajar bahasa Jepang. Sekarang mereka terpaksa mempelajari bentuk bahasa Mandarin dari bahasa Mandarin. Sangat berbeda dari bentuk dialek Amoy yang diucapkan orang Taiwan secara tradisional. 

Dengan Cina kontinental datang proliferasi gereja dan sekte Kristen. Kira-kira sepertiga umat Katolik di Taiwan adalah orang Tionghoa yang melarikan diri dari daratan. Dalam beberapa dekade terakhir abad ke-20, gerakan pembaruan Pentakosta dan karismatik sangat berpengaruh. 

 Jepang

Jepang hampir seluruhnya tidak dikenal di Barat sampai Francis Xavier (1506 -1552), dengan sekelompok kecil rekan Yesuit, berhasil mendarat di negara itu pada tahun 1549 dan menetap selama lebih dari tiga tahun. Perusahaan Yesuit dimahkotai dengan kesuksesan yang mencengangkan. Penguasa bertobat dan masuk ke dalam gereja Kristen dengan tanggungan mereka. Pada akhir abad keenam belas diperkirakan ada 300.000 orang Kristen di Jepang. Kemudian iklim berubah. 

Selama masa penganiayaan yang mengerikan, banyak misionaris meninggal karena menderita kematian. Beberapa menarik kembali dan menyangkal iman Kristen mereka. Hampir semua umat beriman kembali ke agama mereka sebelumnya. Pada 1638 disimpulkan bahwa “abad Kristen di Jepang” telah berakhir dengan penghapusan gereja. Selama lebih dari dua abad, Kristen adalah agama terlarang. Namun, ketika akhirnya pada tahun 1859 misionaris dapat kembali memasuki tanah tertutup. Mereka menemukan dengan keheranan bahwa sisa orang percaya telah mempertahankan iman dalam banyak hal esensial. 

Beberapa dari mereka disebut orang Kristen tersembunyi (Kakure Kirishitan ) bergabung kembali dengan gereja Katolik Roma setelah didirikan kembali di Jepang. Banyak orang lainnya terus mempraktikkan kepercayaan versi mereka sendiri di komunitas kecil yang terisolasi di pulau Kyushu.

Tidak pernah, sejak kesuksesan Jesuit abad ke-16, tidak pernah ada lagi gerakan massa Jepang ke dalam gereja Kristen. Umat ​​Kristen Jepang sering kali ditandai oleh tiga karakteristik:

  1. aktivitas intelektual yang intens, dengan iman yang bergantung pada keyakinan yang bijaksana daripada pada keputusan emosional; 
  2. semangat kemandirian yang kuat, seperti dalam gerakan non-gereja Uchimura Kanz ō (1861 – 1930), yang menolak untuk terikat pada jenis organisasi denominasi apa pun; dan
  3. tekad yang mantap untuk tidak tunduk pada dominasi Barat.

Selama Perang Dunia II , pemerintah memutuskan bahwa hanya tiga badan Kristen, Katolik Roma, Ortodoks Timur, dan amalgam Protestan yang disebut Gereja Persatuan Kristus di Jepang (Ky ō dan), yang harus diakui. Beberapa penganut Anglikan, beberapa Lutheran, dan beberapa gereja Kekudusan menolak untuk bergabung dengan Ky ō dan. Gereja ini kehilangan semua pengakuan hukum, mengalami berbagai tingkat ketidaksetujuan resmi dan bahkan penganiayaan. 

Dengan berakhirnya perang dibuat pembentukan kebebasan beragama dengan konstitusi baru pada tahun 1947. Beberapa denominasi yang telah diserap ke dalam Ky ō dan selama perang menarik diri membangun kembali identitas denominasi independen. Ky ō dan tetap menjadi denominasi Protestan terbesar. Kelompok independen, evangelis, dan Pantekosta yang lebih kecil cenderung lebih efektif dalam menarik anggota baru.

Gereja Katolik Roma di Jepang telah menjadi sumber dukungan penting bagi banyak pekerja non-Jepang dan imigran dari negara-negara seperti Filipina dan Brasil. Keterlibatan mereka di paroki lokal menciptakan dinamika gereja baru dan menimbulkan tantangan baru bagi reksa pastoral. Meskipun keanggotaan gereja di Jepang modern tidak pernah melebihi satu persen dari populasi, pengaruh agama Kristen tetap signifikan dalam pendidikan, pekerjaan sosial, dan sastra.

Korea

Korea telah menarik banyak dari budaya Cina. Untuk beberapa waktu dipaksa untuk bertahan di bawah kekuasaan Jepang. Bahasa Korea dan banyak ciri kehidupan Korea dianggap berasal dari Asia Tengah. Setelah mengalami beberapa upaya evangelisasi Katolik Roma yang agak tidak efektif, negara itu tetap tertutup sepenuhnya dari pengaruh asing sampai paruh kedua abad kesembilan belas. Misionaris Kristen selama periode itu kebanyakan adalah orang Amerika, terutama Metodis dan Presbiterian. Misi Anglikan kecil membedakan dirinya dengan perhatian khusus pada tradisi bahasa dan budaya Korea.

Setelah penolakan awal, banyak penganut animisme Korea, yang penganut agama Buddha sebagian besar formal, menanggapi secara positif pesan Kristen. Sejak awal, orang-orang Kristen Korea didorong untuk mandiri dan melayani sebagai penginjil di antara orang-orang mereka sendiri, orang asing tetap di belakangnya. Di Korea Selatan semua gereja berdiri sendiri dan mandiri, meskipun banyak dari mereka terkait dengan gereja dan denominasi di seluruh dunia. Gereja telah berkembang pesat sejak tahun 1960-an dan dikenal dengan perkembangan gereja-gereja besar. 

Gereja terbesar di dunia saat ini, pada kenyataannya, adalah Gereja Injil Sepenuh Yoido di Seoul, yang memiliki lebih dari 700.000 anggota dan hadirin hari Minggu lebih dari 200.000. Pertumbuhan gereja Korea juga dibarengi dengan perkembangan berbagai agen misi dan pekerjaan misionaris di luar negeri. Dalam dekade terakhir abad kedua puluh, jumlah misionaris Korea yang melayani di luar negeri meningkat dari 1.645 yang melayani di 87 negara yang berbeda pada tahun 1990 menjadi 10.745 yang melayani di sekitar 162 negara yang berbeda pada tahun 2002.

Sedikit informasi tersedia mengenai nasib gereja dan umat Kristen di Korea Utara. Sejauh yang diketahui, gereja-gereja Kristen tidak terlihat keberadaannya di bawah rezim Marxis. Dari kontak sesekali yang dimungkinkan antara orang Kristen di selatan dan relasi dan teman di utara, tampaknya, seperti di China, orang Kristen mempertahankan iman mereka dalam kondisi yang sangat sulit. Banyak orang Kristen aktif dalam upaya penyatuan kembali politik Korea Utara dan Selatan.

Asia Tenggara

Negara-negara yang terbentang luas setengah lingkaran dari Filipina hingga Pakistan mewakili berbagai macam ras, bahasa, agama, dan bentuk budaya. Sangat sulit untuk mereduksi semuanya menjadi jenis penyebut yang sama. Benar bahwa mereka semua telah datang, pada satu waktu atau lainnya, di bawah pengaruh Buddha yang kuat. Tiga negara ini telah mengadopsi agama Buddha sebagai agama nasional mereka. Dengan pengecualian tunggal di Thailand, semua telah berada di bawah dominasi colonial. Dengan demikian telah terikat ke Barat dalam proporsi adaptasi dan kebencian yang kira-kira sama. Di luar itu, generalisasi sulit, dan akan lebih baik untuk menangani setiap negara secara terpisah, terutama karena tingkat pengaruh Kristen sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain.

 Republik Filipina

Republik Filipina adalah satu-satunya negara Kristen di Asia. Orang Spanyol tiba pada tahun 1538 dan tetap berkuasa selama tiga setengah abad. Selama tahun-tahun itu, hampir seluruh penduduk dibawa ke dalam gereja Katolik Roma, meskipun minoritas Muslim tetap tinggal di pulau-pulau selatan.

Dengan kemenangan Amerika dalam perang dengan Spanyol (1889 – 1902), kedaulatan dialihkan dari Spanyol ke Amerika. Bagi beberapa orang Filipina, perubahan ini tampak seperti pembebasan. Telah terjadi peningkatan kebencian di antara orang Filipina atas dominasi orang Spanyol di setiap bagian kehidupan masyarakat, tidak terkecuali dalam kehidupan gereja.

Umat ​​Katolik Roma merupakan mayoritas rakyat, meskipun kadang-kadang gelisah dan tidak puas. Salah satu tandanya adalah pemberontakan di dalam gereja, yang berujung pada pembentukan Gereja Independen Filipina. Disebut Gereja Aglipayan, setelah pemimpin pertamanya, Gregorio Aglipay (1860 – 1940). Gereja ini berada di bawah pengaruh Unitarian yang kuat. Di kemudian hari itu memulihkan lebih banyak tradisi Kristen ortodoks dan memulihkan suksesi Episkopal reguler melalui Gereja Episkopal Amerika. Pada awal 1980-an gereja mengklaim tiga juta anggota, meskipun ini mungkin terlalu tinggi.

Dengan kebebasan beragama yang dibawa oleh Amerika, misionaris Protestan berdatangan. Mereka mempertobatkan banyak orang Katolik yang tidak puas. Hampir semua badan utama Protestan Amerika terwakili. Uskup Episkopal pertama, Charles Henry Brent, terkenal karena hubungannya yang kreatif dengan gerakan Faith and Order. Dia menyuruh misionarisnya untuk pergi ke orang-orang pegunungan, yang tidak pernah berhasil dijangkau oleh gereja Katolik Roma.

Gereja Katolik Roma butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru. Namun lambat laun pelajaran itu didapat, dan keuskupan pribumi lahir. Gereja telah menghasilkan beberapa sarjana yang baik. Hubungan ekumenis jauh lebih baik daripada sebelumnya. Meskipun sejumlah ketegangan masih ada, kerja sama di antara umat Kristiani telah terbawa lebih jauh daripada di banyak negara lain. Gerakan karismatik juga berdampak pada gereja Katolik dan Protestan di Filipina, dengan sekitar tujuh juta atau lebih terlibat dalam beberapa hal.

 Vietnam dan Kamboja

Misi Katolik Roma sangat sukses di Vietnam pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Pada abad kedua puluh, kaum Marxis mengambil alih, dan banyak orang Kristen melarikan diri dari utara ke selatan. Dengan jatuhnya pemerintah Vietnam Selatan pada tahun 1975, orang Kristen mendapati diri mereka dihadapkan pada alternatif menerima pemerintahan komunis atau kembali menjadi pengungsi. Banyak yang mati dalam pencarian mereka akan kebebasan. Karena Kamboja sebagian besar diabaikan oleh misionaris Kristen, umat Kristen Kamboja sedikit, dan Budha tetap menjadi tradisi utama.

 Thailand, Burma, dan Sri Lanka

Agama Buddha, dimanapun itu ada, terbukti menolak penginjilan Kristen. Umat ​​Kristen yang hadir di negara Buddhis dalam banyak kasus berasal dari masyarakat atau komunitas non-Buddha. 

Thailand, yang terjepit pada abad kesembilan belas antara wilayah kekuasaan Inggris dan Prancis, telah berhasil mempertahankan sepanjang sejarah kemerdekaan yang agak genting. Warganya menunjuk pada kepercayaan Buddha sebagai kekuatan yang telah melestarikan negara mereka dalam integritasnya. 

Sebuah negara Buddhis yang diperintah oleh sebuah monarki yang dijiwai dengan tradisi Buddha, bagaimanapun, Thailand adalah negara yang toleran. Jumlah misionaris Kristen meningkat pesat dengan kemajuan abad kedua puluh. Konversi dari Buddhisme, bagaimanapun, tidak banyak. Mayoritas umat Kristen di negara itu berasal dari minoritas Tionghoa, bukan dari antara orang Thailand dan Myanmar (dikenal sebagai Burma sebelum perubahan nama pada tahun 1989), setelah satu abad di bawah kekuasaan Inggris.

Myanmar memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1947 dan menyatakan agama Buddha sebagai agama nasional. Sebenarnya, sebagian besar penduduk bukanlah Burma atau Buddha. Di antara orang-orang inilah gereja-gereja Kristen memperoleh keuntungan terbesar. Baptis lebih banyak daripada badan Kristen lainnya di Burma. Misionaris besar pertama mereka, Adoniram Judson (1788 -1850). Menjadikan dirinya seorang sarjana Burma dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa itu. Dia dipenjarakan oleh pihak berwenang Burma. Dia mengalami penderitaan yang mengerikan yang tidak pernah membuat ia sembuh total. Dialah yang melakukan kontak dengan Karens, sebuah kelompok besar non-Burma. Dia menemukan di antara mereka sebuah tradisi mengenai kitab suci yang pernah mereka miliki. Suatu hari akan dibawa kembali kepada mereka oleh guru kulit putih.

Ini menjadi pintu masuk ke Kristen. Karens merupakan bagian besar dari populasi Kristen di Burma. Pekerjaan juga telah dilakukan dengan sukses di antara orang Dagu, Kachin, dan masyarakat lainnya di daerah yang membentang hingga perbatasan dengan Cina dan India. 

Aktivitas Katolik Roma juga sangat aktif. Tokoh gereja Katolik Roma yang paling terkenal di Burma adalah Uskup Bigandet (vikaris apostolik, 1856 – 1893). Bigandet adalah seorang cendikiawan terkemuka yang karya-karyanya tentang Buddhisme dalam bentuk Burma.

Pembatasan tempat tinggal orang asing di Myanmar telah menyebabkan penarikan semua pekerja Kristen asing. Gereja-gereja, yang terpaksa bergantung pada sumber daya mereka sendiri, telah menderita perasaan terisolasi. Tetapi Gereja Anglikan, jauh lebih kecil jumlahnya daripada Baptis, telah melaporkan bahwa kemajuan jumlahnya jauh lebih cepat daripada pada hari-hari ketika itu berada di bawah perawatan dan pengawasan misionaris asing. Agama Kristen sebagian besar tetap menjadi agama etnis minoritas (kira-kira lima persen dari populasi). Mayoritas (delapan puluh sembilan persen) di Myanmar mempertahankan hubungan mereka dengan tradisi Buddha Therav ā da.

Sri Lanka 

Sri Lanka dihuni oleh penganut empat agama: Budha, Hindu, Islam, dan Kristen. Tapi umat Buddha menang. Imamat Buddha sangat berpengaruh dalam urusan politik maupun agama. Upaya serius telah dilakukan untuk mengubah Sri Lanka menjadi negara Buddha dan menjadikan Sinhala satu-satunya bahasa resmi. Upaya ini telah menyebabkan perselisihan yang parah antara mereka yang berbicara bahasa Sinhala dan mereka yang berbicara bahasa Tamil, di antaranya banyak orang Kristen.

Selama periode Portugis, banyak penduduk pulau itu menjadi anggota gereja Katolik Roma. Di bawah Belanda banyak yang menjadi Protestan. Dengan toleransi agama yang diperkenalkan oleh Inggris pada akhir abad kedelapan belas, sebagian besar Protestan kembali ke gereja Katolik Roma. Katolik mencakup sekitar empat perlima dari semua orang Kristen di pulau itu. Sejak 1980-an sejumlah gereja dan gerakan Pantekosta dan karismatik telah ditambahkan ke dalam campuran tradisional Katolik dan Protestan. Denominasi yang lebih tua mencatat penurunan bertahap. Secara keseluruhan, populasi Kristen tetap menjadi minoritas kecil.

Agama Buddha di Sri Lanka ditandai dengan keunggulan pandita/bikhu dan oleh pengaruh kuat dari ajarannya. Beberapa orang Kristen telah menjadi Buddha, di antaranya adalah mantan perdana menteri negara. Umat ​​Kristen di Sri Lanka telah menyadari vitalitas tradisi Buddha di negara mereka. Beberapa dari mereka telah belajar secara mendalam dan telah memenuhi syarat sebagai ahli dalam Buddhisme. Dialog antaragama seperti itu mungkin lebih aktif di Sri Lanka daripada di bagian dunia mana pun.

 Indonesia

Indonesia, sebuah republik yang panjangnya tiga ribu mil dan mencakup sekitar tiga ribu pulau.  Berdiri agak terpisah dari Asia Tenggara lainnya. Menunjukkan tanda-tanda agama Hindu, Budha, dan Islam. Negara ini memiliki populasi Muslim terbesar dari negara manapun di dunia.

Belanda, ketika mereka dominan, menjalankan pekerjaan misionaris. Banyak keberhasilan terutama di Ambon dan Sulawesi Utara. Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia di mana umat Islam terus berpindah ke gereja Kristen. Tampaknya salah satu penyebabnya adalah reaksi tajam dari banyak Muslim yang melakukan balas dendam. Pembalasan yang dilakukan oleh Muslim terhadap orang-orang yang sebenarnya atau dicurigai komunis pada saat percobaan kudeta komunis pada tahun 1965.

Keberhasilan yang paling menonjol telah diperoleh di antara orang Batak non-Muslim di Sumatera Utara. Misionaris Ingwer Nommensen (1834 – 1918), ketika dia pertama kali melihat Danau Toba yang indah pada tahun 1885, membayangkan saat lonceng gereja di setiap desa akan memanggil umat beriman untuk beribadah. Sejak saat itu jutaan orang Batak telah memasuki gereja-gereja Kristen dan penginjilan terus berlanjut. 

Keterampilan dan energi yang dimiliki umat Kristiani Indonesia untuk membebaskan diri dari pengaruh Belanda dan Jerman tercermin dalam rasa kemerdekaan yang menandai umat Kristiani di negara tersebut. Sebuah kemerdekaan yang dimodifikasi oleh keinginan yang meningkat untuk memasuki kehidupan dunia Kristen yang lebih luas. Untuk menerima bantuan yang ditawarkan oleh orang Kristen lainnya.

Gereja Perusahaan Hindia Timur Belanda menerima beberapa ribu ‘petobat’ setelah kedatangannya di Indonesia pada tahun 1605, tetapi sebagian besar telah bertobat untuk tujuan sosial. Namun, Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, bahasa perdagangan, pada tahun 1733. Upaya misionaris Protestan yang sungguh-sungguh baru dimulai pada abad kesembilan belas. Sejumlah orang suku bergabung dengan gereja dari banyak daerah etnis, seperti Sumatra (Batak), Maluku, dan Jawa Tengah. Di sembilan belas wilayah etnis, seluruh orang beralih ke agama Kristen. Banyak rumah sakit dan sekolah Kristen juga didirikan.

Selama abad kedua puluh, gerakan ekumenis yang secara teologis liberal semakin berpengaruh, dan Dewan Gereja-Gereja Indonesia dibentuk pada tahun 1951. Katolik Roma juga mengalami pertumbuhan. Awal abad ini, orang Indonesia Tionghoa diinjili di bawah pelayanan John Sung. Penahanan banyak misionaris Eropa di kamp konsentrasi Jepang selama Perang Dunia Kedua, berarti bahwa Gereja Indonesia didorong untuk mengambil kendali atas urusannya sendiri.

Kebangkitan sejati?

Gerakan massa ke gereja-gereja terus berlanjut selama abad ini, yang mengejutkan mengingat besarnya kehadiran Muslim di Indonesia. Sangat sering, aksesi ini mewakili sesuatu yang kurang dari konversi yang sebenarnya. Tapi ada kebangkitan lokal yang sejati selama 1960-an dan 1970-an, di antara orang Kristen nominal dan non-Kristen. Operasi berdaulat Roh Kudus ini bertepatan dengan kemunculan gerakan Karismatik dan Yesus di Barat. Gerakan-gerakan terakhir berusaha untuk ‘menggembar-gemborkan’ laporan tentang ‘kebangkitan’ Indonesia. Bahkan ‘membajaknya’ untuk tujuan mereka sendiri, yang dilaporkan dengan banyak wisatawan barat, membawa uang dan publisitas. Ini menghambat pekerjaan spiritual.

Apakah kebangkitan tersebut merupakan kebangkitan yang sejati atau tidak, tetap bermasalah. Bagi orang luar, tampaknya tidak ada reformasi doktrin yang mencolok yang muncul di gereja-gereja Indonesia. Kebutuhan yang paling mendesak dari semuanya adalah penemuan kembali oleh gereja-gereja tentang doktrin anugerah.

Indonesia sering disebut sebagai negara muslim terbesar, namun hal ini memberikan kesan yang salah. Sementara sebagian besar mengidentifikasi sebagai Muslim, kebanyakan dari mereka hampir tidak cukup tahu tentang Islam untuk dianggap sebagai Muslim sejati.

Folkways Indonesia menang, meskipun kejenuhan negara dengan masjid dengan ukuran yang berbeda. Ini dibangun dengan hadiah kekayaan minyak yang berlimpah dari Teluk Arab. Kekayaan yang sama membiayai pendeta Indonesia, tetapi pengaruh mereka sebagian besar terbatas pada masyarakat desa yang miskin dan tidak berpendidikan dan daerah terpencil.

Serangan terhadap orang Kristen dan tempat pertemuan gereja dapat terjadi di area ini. Dari waktu ke waktu, ada diskriminasi dan bahkan kekerasan sesekali dari para Islamis yang diilhami oleh ideologi Jihadis.

Secara keseluruhan, mayoritas Muslim menyusut dengan cepat, terutama di daerah perkotaan yang luas. Banyak dari mereka yang terpelajar, anak muda dan pengguna media sosial kehilangan haknya dari Islam. Mereka menjadi Muslim nominal yang tidak beragama dan sekuler, mirip dengan banyak latar belakang Kristen di dunia barat.

Beberapa dipengaruhi secara positif oleh Injil. Kabar baik tentang Yesus Kristus membuat terobosan besar secara budaya, sosial dan spiritual. Di Indonesia, umat Kristiani semakin banyak dan semakin menikmati toleransi dan rasa hormat.

Sungguh menghangatkan hati untuk bersekutu dengan banyak orang bertobat generasi pertama dan kedua yang kehidupan dan keyakinannya mempengaruhi keluarga, lingkungan, dan tempat kerja mereka. Beberapa staf pelayanan Kristen di Indonesia berasal dari keluarga yang pindah agama.

Yang menakjubkan adalah kedudukan dari orang yang bertobat ini di antara keluarga, teman dan tetangga mereka. Dalam beberapa kasus, mereka dihormati oleh seluruh komunitas.

Lebih penting lagi, kesaksian mereka menghasilkan banyak buah. Mereka tidak diminta untuk membela apa yang mereka yakini atau membandingkannya dengan keyakinan Muslim. Mereka hanya menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut Kristus.

Kami menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga besar salah satu staf yang berasal dari Jawa. Ibu, paman, dan istrinya adalah generasi pertama yang bertobat. Ayahnya adalah petobat  generasi kedua. Saudara perempuan ibunya, yang masih diidentifikasi sebagai Muslim, dan beberapa tetangga Muslim membantu menyiapkan makanan yang banyak untuk kami. Kemudian dengan senang hati duduk untuk mendengarkan pesan Injil yang kuat dan jelas.

Tetangga Muslim lainnya dengan hangat melambai atau berjabat tangan dengan kami, meskipun mereka tahu betul bahwa kami datang dengan membawa pesan Injil. Visi misionaris yang setia dan semangat gereja-gereja lokal menjangkau secara kreatif komunitas Muslim mereka.

Dalam satu kasus, sebuah gereja memulai sebuah proyek yang memungkinkan para petani miskin untuk belajar bagaimana menanam buah naga, tanaman yang menguntungkan. Para pria ditempatkan di sebuah pertanian saat menjalani pelatihan. Dalam prosesnya, tanpa paksaan atau tekanan apa pun, mereka dihadapkan pada pembacaan Alkitab dan pesan Injil secara teratur.

Gereja lain memulai sekolah swasta berbiaya rendah dengan kurikulum Kristen yang jelas. Sekolah mengizinkan keluarga Muslim untuk mendaftarkan anak-anak mereka dan juga mempekerjakan staf Muslim untuk pekerjaan non-mengajar.

Gereja lain memulai stasiun radio layanan komunitas yang sangat kecil. Semua dipersilakan untuk mengiklankan acara dan layanan komunitas dengan bebas. Stasiun radio secara teratur menyiarkan bacaan Alkitab, lagu-lagu Kristen, dan pesan Injil sederhana. Pelayanan paling berkembang dengan menggunakan internet terutama media sosial.

Ketika usaha pembangunan komunitas seperti itu dengan hati-hati menghindari pernyataan terang-terangan atau terselubung yang mengkritik Islam. Kita harus menghargai dan menghormati tradisi keyakinan dan agama mereka. Mereka diberkati dengan menghasilkan buah Injil dengan lembut.

Saat ini ada ribuan anak muda Indonesia, banyak yang baru bertobat, ingin bertumbuh dalam pemahaman alkitabiah. Banyak seminari dan lembaga pelatihan Alkitab bermunculan, kebanyakan dibiayai oleh orang-orang percaya yang bermaksud baik.

Namun, banyak dari mereka kekurangan staf yang berkualitas dan sumber daya pengajaran yang baik. Jadi, mereka menyambut baik kesempatan untuk menerima guru Alkitab yang berkualitas dan andal.

Ini adalah kesempatan emas untuk memperlengkapi penduduk asli Indonesia untuk melakukan pekerjaan yang setia dalam penginjilan dan perintisan gereja. Tulang punggung pelayanan adalah menyediakan pelatihan alkitabiah yang sehat dan terapan bagi para pemimpin spiritual nasional.

Mega Church di Indonesia: Menjual Mukjizat dan Klaim Kesuksesan

Ibadah dengan tujuan mendapatkan kesembuhan itu salah satu tawaran dari beberapa mega church—alias gereja raksasa—beraliran Karismatik untuk menggaet jemaat. Bahkan tak jarang ada orang yang beragama selain Kristen yang turut menghadiri ibadah macam itu.

Memikat jemaat dengan ibadah kesembuhan agaknya menjadi resep manjur demi menggaet banyak orang tertarik ikut beribadah. Hampir semua gereja raksasa, yang dicirikan dengan ribuan jemaat dan berlangsung di aula serta suasana khotbah yang atraktif selama ibadah, melakukan hal serupa. Di antaranya Gereja Mawar Sharon besutan Pastor Philip Mantofa dan Gereja Tiberias Indonesia yang dipimpin Pendeta Yesaya Pariadji. Meski medium mereka berbeda, tapi hal ini sudah semacam ciri khas mega church Karismatik. Gereja Tiberias Indonesia menjanjikan kesembuhan atas nama Yesus dengan medium minyak urapan dan anggur perjamuan saat ibadah. Bahkan menyuarakan keyakinan “tolak pisau operasi” secara berulang-ulang dalam ibadahnya dan diimani oleh para jemaat.

Klaim-Klaim Kebenaran Kemunculan doktrin agama yang mengabaikan sains tidak lepas dari klaim-klaim pewahyuan oleh tokoh gereja dan diduplikasi terus-menerus oleh pendeta lain. Misalnya, klaim Yesaya Pariadji yang bombastis bahwa ia sudah bolak-balik pergi ke surga. Terlepas kebenaran cerita Pariadji, klaim itu terbukti membuat jemaat makin terpikat. Klaim ini semakin dikuatkan dengan testimoni sejumlah jemaat yang mengalami mukjizat lewat perantara Pariadji. Bahkan, pada 2017, pengusaha-cum-politikus Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto, pernah memberi kesaksian bagaimana mukjizat lewat Pendeta Pariadji bisa membebaskannya dari lilitan utang dan kepailitan bisnis. Kesaksian macam itu bikin pengusaha, khususnya yang bisnisnya bermasalah, lebih rajin ke gereja.

Ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani Kesembuhan dan penghapusan resesi ekonomi di Gereja Tiberias Indonesia, dihadiri oleh para pengusaha yang mengalami masalah bisnis. Dalam kertas doanya ia menulis masalah modal usaha yang tak kunjung kembali dan permohonan dijauhkan dari penundaan pembayaran proyek. Pengusaha ini berharap bisa mendapatkan mukjizat dengan medium minyak urapan dan anggur perjamuan lewat Pendeta Pariadji.

Klaim seperti yang diucapkan Pendeta Pariadji juga menjadi isi khotbah Philip Mantofa dari Gereja Mawar Sharon di Surabaya. Dalam satu kesaksiannya, Philip pernah bermimpi diajak Yesus ke surga untuk melihat Taman Eden. Di sana ia melihat ada pohon kehidupan dengan daun-daun berisi firman Tuhan. Meski itu hanya mimpi, tapi bagi Philip, kejadian itu seakan nyata. Klaim-klaim ini kerap membikin perseteruan antara gereja dan pendeta karena saling tuding sesat. Perseteruan ini terlihat dari pecahnya sejumlah mega church dari induknya atau sinodenya.

Gereja Tiberias Indonesia pimpinan Pendeta Pariadji, Mawar Sharon pimpinan Pastor Philip Mantofa  (sebelumnya didirikan oleh Yusuf Sudianto, mertua Mantofa) dan Rehobot Ministri yang didirikan oleh Erastus Sabdono semula bagian dari Gereja Bethel Indonesia (GBI). Namun, tiga mega church itu memilih keluar dan mendirikan sinode sendiri. Hal yang sama dilakukan oleh Gereja Betani Surabaya, yang menimbulkan konflik dan perpecahan dan tersingkirnya sang pendiri.


Klaim-klaim dari gereja raksasa menjadi dilema dalam kehidupan gereja, khususnya Karismatik. Mereka lahir sebagai gerakan pembaharu yang menghargai perjumpaan dan pengalaman rohani seseorang. Seiring waktu harus berhadapan dengan klaim-klaim yang kian lama tak terkontrol lagi. Salah satu kelemahan dari Gereja Karismatik adalah seringkali tidak memiliki payung organisasi, tidak ada pembanding yang melakukan pengujian klaim kebenarannya, sehingga suka-suka tokoh itu omong apa, tetapi [kemudian] jadi problem. Karena sifatnya yang otonom membuat sinode menjadi dilema. Dilemanya justru kita lahir dari spirit antitesis cara bergereja dari arus utama, baik dari cara ibadahnya dan lain sebagainya.

Meski demikian, tidak semua mega church mengobral janji dan mukjizat untuk mendapatkan ribuan jemaat. Beberapa dari mereka ada yang berfokus pada penyembahan ketimbang jualan mukjizat. Salah satunya Jakarta Praise Community Church yang lebih fokus pada praise and worship. GBI Mawar Saron juga demikian, mereka memikat jemaat lewat khotbah yang dekat dengan jemaatnya. Memang ada trademark Karismatik untuk penyembuhan, mukjizat, tumpang tangan dan lainnya. Tapi masing-masing gereja sebenarnya punya ciri sendiri.

Di GBI Mawar Saron Yacob Nahuway, orang merasa lebih cocok dengan khotbahnya, pendeta GBI Mawar Saron. Tentu tidak ada yang salah dari mukjizat kesembuhan dengan dasar keimanan. Namun, bagaimana jika kesembuhan itu tidak terjadi? Ibadah mukjizat Pastor Garren Lumoindong dari GBI Glow di Thamrin Residences, 12 Juli 2019, menjelang akhir ibadahnya sang pastor berkata dalam dua minggu benjolan di bawah telinga anak yang dibawa ke sana malam itu akan sembuh. Namun, sampai 24 Juli, orangtua si anak kecil itu memberitahukan kondisinya, mukjizat itu belum tergenapi. Sang bapak bercerita benjolan itu masih ada. “Alhamdulillah sehat,” katanya. “Tapi kalau benjolannya kadang besar, kadang kecil.”

Mega church di Indonesia ada kaitannya dengan gerakan-kharismatik. Istilah “kharismatik” di kalangan Kristen mainstream khususnya di kalangan Protestan adalah sebuah istilah yang kurang-sedap di pendengaran mereka. Konflik terpendam berlangsung antara kalangan kharismatik dan gereja-gereja bergaya mega-church dengan gereja-gereja bergaya tradisional-mainstream. Tradisional di sini adalah gereja-gereja yang asal-usulnya berasal dari Eropa, dibawa oleh para missionaris ke negeri jajahan.

Gereja-gereja beraliran tradisional ini secara umum sudah sepi entah di Barat entah di Asia. Kalaupun masih ramai, itu terutama hanya pada saat Natal atau Tahun Baru atau Paskah. Gelombang baru dalam kekristenanGereja-gereja tradisional baik Katolik maupun Protestan pada umumnya semakin sepi. Kebanyakan anggota yang setia hadir pada hari minggu dan berpartisipasi adalah generasi tua, kakek dan nenek dan mereka yang menyukai model kebaktian dan cara beragama yang saklek, tenang, pasti, dan tradisional.

Dalam beberapa dekade belakangan ini, gereja-gereja kharismatik atau sebagian orang suka menyebut dengan istilah mega-church sedang bertumbuh. Agama tidak hilang bahkan di abad 21 ini sebagaimana diperkirakan dengan percaya diri oleh para pembela Pencerahan di abad-19. Semangat mega-church ini besar. Mengorganisasikan diri secara modern dan profesional.

Sebagian orang-orang kaya yang adalah para professional dalam bidang bisnis dan bidang lainnya memilih bergabung dengan mega-church sebab mereka bisa menerapkan managemen modern dalam bergereja. Kebaktian di gereja-gereja yang mega-church itu apalagi di daerah urban dihadiri oleh ribuan manusia. Bagi mereka bentuk gereja tradisional sebagaimana kita kenal selama ini tidak penting. Mereka bisa mendesain sebuah ruang pertemuan sebuah hotel besar atau mal menjadi tempat beribadah pada hari minggu.  Biasanya tidak hanya sekali tapi bisa lima kali dalam setiap hari minggu.

Kalau masuk di gereja yang berwarna mega-church ini, semua terlihat, tertata dan berlangsung dengan rapi. Sound system, tata cahaya, dan peralata music sangat maju. Mereka tahu apa arti semua itu. Berbeda dengan kebiasaan yang ada di gereja-gereja tradisional yang cenderung biasa-biasa saja. Itu-itu saja sehingga bisa sangat membosankan bagi sebagian umat karena dipaksa menerima dan menelan yang itu-itu saja.

Sebagian umat Kristen boleh-boleh saja pergi ke gereja-tradisional mereka sekaligus ke gereja-gereja yang berwarna mega-church itu. Tentu saja perkembangan mega-church termasuk di Indonesia meresahkan mereka yang setia kepada gereja-gereja tradisional yang saklek dan semakin sepi itu.

Yang paling resah tentu para pendeta yang kehidupan mereka bergantung pada jumlah dan keberadaan umat; mereka hidup dari umat. Para pendeta di gereja-gereja mega-church relatif hidup berkecukupan bahkan mewah dan terus bisa mengembangkan titik-titik mega-church sampai ke wilayah pedesaan. Di gereja, ada kewajiban tidak tertulis bagi umat untuk memberikan persembahan dalam berbagai bentuk, terutama persepuluhan. Manusia, kalau sudah tersentuh hatinya dan berubah dirinya mengalami pencerahan baru, hartanya bisa dia serahkan kepada gereja dengan suka rela.

Sebagian besar orang-orang ini meyakini bahwa semakin banyak memberi, semakin banyak pula menerima. Kadang-kadang kehadiran mega-church ini di berbagai tempat terutama di Indonesia bisa menimbulkan keresahan. Mereka mempunyai semangat-45 dalam beragama. Kadang, inilah kelompok yang di dalam kekristenan disebut sebagai kelompok-fundamentalis. Di sana-sini dalam hal semangat dan kemauan bisa mirip dengan gerakan kepemudaan dan laskar.

Sementara ada gereja-gereja tradisional yang bahkan sudah berubah fungsi menjadi mesjid, restoran, museum dan ruang pameran di Negara Eropa. Gereja-gereja tradisional yang indah dan artistik itu yang jelas penampilannya dari luar sebagai gereja mulai berubah fungsi. Gereja-gereja baru yang dari luar tidak nampak sebagai gereja dalam pengertian banyak orang telah berubah menjadi gereja (umat) yang bisa diisi oleh ribuan bahkan puluhan ribu manusia.

Gereja tradisional terjebak dan diperangkap dalam dogma dan pegangan ajaran sempit dan bodoh yang dia ciptakan sendiri. Manusia memerlukan pegangan yang pasti untuk jiwanya, ingin bertumbuh kembang dalam tubuh dan rohnya.  Gereja-gereja tradisional tidak mampu dengan ketradisionalannya yang lebih sering kaku itu menenangkan jiwa-jiwa manusia modern yang serba gelisah. Itu ceruk besar dan peluang lebar yang dimanfatkan oleh mega-church. Benar, ada siklus hidup untuk apapun di bawah sinar matahari di bumi ini. Ini yang tidak disadari oleh gereja tradisional yang akan berubah menjadi dinosaurus yang segera punah, setidak menjadi kerdil seperti gereja Nestorian, yang pernah paling besar di dunia, dan sekarang tinggal sisa sedikit.

Anak Benua India

Pada 1757, di pertempuran Plassey, Inggris membuktikan diri sebagai kekuatan terkuat di India. Penyatuan Inggris di anak benua selesai pada tahun 1848. Persatuan ini berlangsung selama hampir seratus tahun. Pada tahun 1947 Muslim menegaskan kemerdekaan mereka melalui pembentukan Pakistan sebagai negara merdeka (diikuti dengan pemisahan Pakistan Timur), dan konstitusi, dengan nama Bangladesh, dari negara merdeka ketiga di anak benua itu.

Tanggal di mana iman Kristen pertama kali muncul di India telah menjadi subyek banyak perdebatan dan masih menampilkan dirinya sebagai masalah sejarah yang menarik. Sudah pasti bahwa gereja Kristen telah ada di Kerala (di Barat Daya India) selama berabad-abad. Para anggota dari berbagai gereja Thomas Kristen bersatu dalam keyakinan mereka bahwa gereja mereka, dalam bentuk aslinya, didirikan oleh rasul Thomas sendiri.

Sejumlah ahli mendukung pandangan bahwa gereja memang ada di India tidak lebih dari abad kedua. Semua kecuali yang paling skeptis menerima tanggal di abad keempat sebagai hampir pasti. Selama berabad-abad, gereja mempertahankan kekhasannya dengan mempertahankan bahasa Syria sebagai bahasa penyembahan dan menerima uskupnya dari Mesopotamia. Informasi untuk periode abad pertengahan sangat sedikit. Tetapi ketika komunikasi dengan Barat diperbarui, dengan kedatangan Portugis melalui jalur laut pada tahun 1498, gereja ditemukan berkembang. Umat Kristen membentuk elemen yang diterima dan dihormati dalam masyarakat India. Namun, gereja kuno ini tetap berada dalam kompas sempit wilayah antara pegunungan dan laut. Sejauh yang diketahui, tidak berusaha menginjili bagian lain di India. 

Faktanya, Ketika Portugis menduduki Goa (1510) dan menjadikannya basis berdirinya kerajaan yang terbawa laut, situasinya berubah secara radikal. Para pendatang baru tidak mencoba menaklukkan bidang tanah yang luas seperti yang mereka lakukan di Amerika. Mereka menganggap perdagangan dan konversi ke agama Kristen terkait erat satu sama lain. Pada akhir abad keenam belas, sebagai akibat dari hak istimewa khusus bagi umat Kristen dan hambatan khusus bagi umat Hindu, sebagian besar penduduk Portugis telah memasuki gereja Katolik Roma. Pada tahun 1599, di Sinode Udiyamperur (Diamper), uskup agung Goa telah membujuk seluruh anggota Thomas Christian untuk meninggalkan patriark Baghdad dan menerima otoritas dari patriark Roma. Setengah abad kemudian sepertiga dari orang Kristen Thomas, Gereja Ortodoks, di mana mereka masih memiliki rumah.

Sebuah corak baru diberikan untuk pekerjaan misionaris oleh petualangan besar aristokrat Italia Roberto de Nobili (1606 – 1656 di India). Mulai bekerja untuk mengubah dirinya menjadi seorang Brahmana untuk memenangkan para Brahmana. Pengetahuan Nobili yang cukup tentang bahasa Sanskerta dan aktivitas kesusastraan yang luas di Tamil meninggalkan kesan permanen di gereja India.

Dengan dukungan raja Denmark, Protestan memasuki medan perang pada tahun 1706 di wilayah Tranquebar yang kecil di Denmark. Misionaris Protestan Christian Friedrich Schwartz melayani di India dari tahun 1750 sampai 1798. Dia meninggalkan kesan yang tak terhapuskan dari pancaran yang tenang dan lembut pada orang Eropa dan India.

Pada paruh pertama abad kesembilan belas, pertumbuhan Katolik Roma dan Protestan lambat. Periode besar ekspansi dimulai pada tahun 1858, ketika pemerintah Inggris mengambil alih kekuasaan di India dari East India Company. Orang-orang Kristen dari banyak negara mulai bekerja. Dalam lima puluh tahun menyebar ke hampir setiap sudut India kecuali di daerah-daerah di mana para penguasa India independen menolak izin untuk segala jenis propaganda Kristen di wilayah mereka.

Tiga ciri dari periode ini layak mendapat perhatian khusus. 

Pertama, upaya pendidikan yang luar biasa dari para misionaris, dibantu oleh dukungan keuangan dari pemerintah, menghasilkan kelas menengah Kristen yang besar, terpelajar dan profesional, yang mempersiapkan jalan bagi perkembangan gereja-gereja India yang independen. 

Kedua, “orang-orang buangan” yang kurang mampu, karena tidak melihat harapan untuk masa depan yang lebih baik di bawah sistem Hindu, mulai masuk ke dalam gereja-gereja Kristen. Gerakan ini tidak disetujui oleh banyak misionaris dan oleh mayoritas pemimpin Kristen India yang terpelajar, tetapi tekanan tidak akan berhenti. Kelas manusia “tak tersentuh” ​​(dalits), pada kenyataannya, mewakili lebih dari setengah dari semua anggota gereja Protestan dan Katolik Roma. 

Ketiga, banyak di antara masyarakat Aborigin, karena tidak ingin dimasukkan ke dalam sistem kasta Hindu, melihat dalam cara Kristiani kebebasan yang lebih besar daripada yang dapat mereka harapkan untuk dinikmati di tempat lain. Beberapa orang secara keseluruhan telah menjadi Kristen dan yang lainnya menjadi sangat Kristen.

Pada abad ke-20, perubahan besar adalah pengalihan kekuasaan dari agen asing ke pemimpin adat. Uskup Anglikan India pertama, VS Azariah, ditahbiskan pada tahun 1912. Uskup India pertama dari ritus Latin, Tiburtius Roche, ditahbiskan untuk Tuticorin pada tahun 1923. Roma menunjukkan pengakuannya atas kedewasaan gereja India dengan pengangkatan Kardinal India pertama, Valarian Gracias dari Bombay, pada tahun 1953.

Keempat, sepenuhnya Gereja-gereja bersatu dan independen di India Selatan, India Utara, Pakistan, dan Bangladesh telah mewujudkan semangat ekumenis yang merdeka.

Pada awal 1980-an, umat Kristen berjumlah kurang dari tiga persen dari populasi di India, apalagi di Pakistan dan Bangladesh. Tetapi dapat dikatakan bahwa ajaran Kristen telah berdampak pada pemikiran etika India kontemporer. Pemerintah India merdeka telah menghapuskan hukum “tak tersentuh”. Tindakan yang benar ini berutang banyak pada advokasi yang penuh semangat dari para misionaris tentang hak-hak orang yang kurang mampu. Undang-undang Sarda, yang menaikkan usia pernikahan bagi anak laki-laki dan perempuan, diajukan oleh para reformis Hindu. Para reformis ini sedang membangun pekerjaan orang-orang Kristen yang penentangannya terhadap pernikahan anak sangat terkenal.

Pemerintahan Inggris berakhir pada tahun 1947. Ketika perubahan itu terjadi, baik mereka yang menyambutnya dengan antusias maupun mereka yang melihatnya dengan waspada menerimanya tanpa pertanyaan. Tidak seorang pun misionaris meninggalkan jabatannya karena alasan perubahan politik. Namun demikian, perubahan politik pasti mempengaruhi kehidupan dan prospek orang Kristen dalam berbagai cara. Meskipun konstitusi India berisi pernyataan yang mendukung kebebasan beragama, orang Kristen sering kali merasa hidup lebih sulit daripada di masa lalu.

Pakistan sejak awal telah dipecah oleh perselisihan. Di negara Muslim mana pun, orang Kristen menghadapi sejumlah kesulitan. Umat ​​Kristen di Pakistan mungkin harus menghadapi kemungkinan bertambahnya kesulitan.

Kesimpulan

Pada tahun 1948 Dewan Gereja Dunia dan Dewan Misionaris Internasional mengadakan pertemuan di Manila dengan para pemimpin di gereja-gereja Asia Timur. Hasil dari pertemuan tersebut adalah terbentuknya Sekretariat Asia Timur, tanpa kewenangan apapun tetapi dengan tujuan untuk meningkatkan persekutuan dan saling pengertian. Ini adalah awal dari sebuah proses yang terbukti sangat produktif. Gereja-gereja Asia mulai merasa bahwa mereka harus menjadi milik satu sama lain. Mereka, misalnya, mengadakan pertemuan untuk membahas masalah-masalah iman dan ketertiban Kristen dalam suasana Asia.

Gerakan misionaris abad ke-19 dan awal abad ke-20 bertujuan untuk mengembangkan gereja pribumi di Asia yang didefinisikan oleh “tiga diri”: pengendalian diri, dukungan diri, dan penyebarluasan diri. Biasanya dipahami sebagai duplikasi denominasi ekspresi gereja di Eropa atau Amerika Utara. 

Telah terjadi penurunan secara keseluruhan dalam jumlah misionaris yang terkait dengan gereja dan denominasi arus utama yang sudah mapan di Eropa dan Amerika Utara. Gereja-gereja evangelis di Barat mempertahankan kehadiran misionaris yang kuat di Asia jika diizinkan secara hukum. Meskipun masih banyak contoh ketergantungan pada teologi, kredo, dan politik gereja Barat, kebanyakan gereja di Asia berada di bawah arahan para pemimpin pribumi daripada asing. Banyak bentuk Kristen independen dan pasca-denominasi baru telah muncul pada kuartal terakhir abad ke duapuluh.

Transplantasi teologi “normatif” dari Barat sebagian besar telah digantikan oleh perhatian serius untuk mengembangkan bentuk-bentuk baru penafsiran teologis dan praktik Kristen yang berakar pada budaya lokal. 

Umat ​​Katolik menyebut perkembangan teologis ini sebagai “inkulturasi”. Protestan menggunakan istilah “kontekstualisasi”. Sama seperti filsafat dan kategori Yunani yang membentuk perkembangan awal teologi Barat, tradisi agama Asia – Hindu, Budha, dan Konfusianisme, misalnya -mewakili sumber daya penting untuk inisiatif teologis baru ini. 

Upaya heroik dan sebagian besar berhasil untuk memelihara Kekristenan Asia secara khusus telah dilakukan. Perkembangan penuh teologi Asia mungkin belum datang. Sama seperti perkembangan penuh pemikiran dan ekspresi Kristen dalam bahasa Siria, Yunani, dan Latin baru dimulai tiga abad setelah pelayanan Yesus Kristus. 

Apa yang menjadi sangat jelas adalah bahwa orang Asia bukanlah penerima pasif dari Kekristenan yang ditransplantasikan. Orang Asia adalah Duta Besar Surga aktif yang menafsirkan dan merekonstruksi iman Kristen dalam istilah yang masuk akal bagi mereka.

Di sebagian besar masyarakat Asia multi-agama yang dibahas di sini, orang Kristen tetap menjadi kelompok minoritas. Dalam situasi ini, banyak pemimpin gereja menyadari pentingnya memahami nilai-nilai dan tradisi yang membentuk mayoritas yang lebih besar dengan siapa orang Kristen harus bekerja sama untuk membangun dan menopang dan membangun masyarakat sipil. Perwakilan dari banyak gereja dan lembaga Kristen telah menginvestasikan banyak upaya dalam dialog dengan orang-orang dari agama lain. Mereka mendirikan pusat penelitian dan studi serta Kementerian yang mensponsori berbagai kegiatan dan publikasi yang bertujuan untuk pemahaman antaragama. Inter-Religio, jaringan enam belas institut dan pusat Kristen dari delapan negara di Asia Timur, adalah salah satu contoh dari perkembangan penting ini.

Seperti halnya dalam konteks non-Barat lainnya, studi tentang Kekristenan di Asia pada awalnya dibebani oleh orientasi Eurosentris dan Amerika Utara. Studi cenderung berfokus pada gereja misi transplantasi, pemimpin misionaris, dan institusi. Semakin banyak sarjana sekarang dengan serius mempertimbangkan beberapa cara tambahan di mana orang Asia telah terlibat dan membentuk kembali Kekristenan di seluruh wilayah dunia ini.

Tumbuh kembang Gereja di Asia dimulai oleh Yesus sendiri dan diteruskan oleh Para Rasul. Gereja Nestorian di Timur pada masanya telah menjadi Komunitas Kristen terbesar di dunia, lebih besar dibandingkan dengan Katolik Roma + Ortodox. Tetapi oleh empat hal: penganiayaan, penipuan gaya Khrisna, invasi Mongol, dan pembantaian oleh Timur Lane telah hampir memusnahkan Komunitas Nestorian. Nestorian berhasil memasuki pusat kekuasaan di Persia, tetapi gagal mengKristenkan Penguasa Asia lainnya.

Berbeda dengan Katolik Roma, yang Komunitasnya adalah mayoritas penduduk dunia sekarang bertahan terus sejak Roma mengenal Yesus. Vatikan menjadi Negara Kristen terbesar di dunia. Apa yang membuat Roma Katolik masih berkuasa dalam puncak jumlah komunitas? Mengapa Nestorian menghilang secara perlahan dari puluhan (mungkin ratusan) juta hingga hanya berjumlah sekitar 400.000 orang? Walaupun Pentakosta-Karismatik berkembang, tetapi permasalah utama mereka adalah mammon. Kemanakah arah Gereja di abad ke-22?

Sebagaimana siklus hidup untuk setiap mahluk di bumi di bawah sinar matahari, maka setiap gereja yang didirikan berdasarkan denominasi dan pemahaman manusia, juga akan tergerus. Inovasi dan kreativitas manusia generasi penerus tetap menjadi penentu kelangsungan. Tentu dalam cahaya terang Firman Tuhan di bawah pimpinan Roh Kudus. Perubahan akan tetap terjadi. Lima belas abad pertama sejak Yesus, kekristenan dan Gereja Tumbuh Kembang dengan pesat di Asia yang didominasi oleh Nestorius dan Gereja yang berpusat di Bagdad. Berikutnya abad keenam belas hingga delapan belas Katolik Roma dan Protestan mengambil alih. Dalam abad 20 menuju ke-21 Roma Katolik dan Protestan telah berangsur bermetamorfosa menjadi Pantekosta-Karismatis-Apostolik, walaupun secara statistic jiwa masih terbanyak di Katolik. Akhirnya kembali seperti Rencana semula Allah Sang Pencipta: Holistik, datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di Bumi seperti di Surga. Kerajaan Allah ada di antara kamu bila dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama Yesus, dalam Kuasa dan Perintah Yesus.

Kejadian 1:26-27

26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakanmanusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Efesus 2:10

Karena kita ini mahakarya ciptaan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya

Efesus 4:23-24

23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Efesus 4:1

Kesatuan jemaat dan karunia yang berbeda-beda

Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

Pengkhotbah 1:14-15

14 Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. 15 Yang bongkok tak dapat diluruskan, dan yang tidak ada tak dapat dihitung.

Amsal 8:31

aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.

Ayub 7:1

Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?

Lukas 2:14

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Yesaya 45:12

Akulah yang menjadikan bumi dan yang menciptakan manusia di atasnya; tangan-Kulah yang membentangkan langit, dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya.

Yeremia 27:5

Akulah yang menjadikan, manusia dan hewan yang ada di atas muka bumi dengan kekuatan-Ku yang besar dan dengan lengan-Ku yang terentang, dan Aku memberikannya kepada orang yang benar di mata-Ku.

Kisah Para Rasul 17:24

Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia,

1 Korintus 16:47

Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari surga.

Mazmur 115:16

Surga itu surga kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia.

GEREJA MULA-MULA

SUATU PANDANGAN TENTANG GEREJA AWAL

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa Alkitab tidak memberi tahu kita seperti apa rupa Yesus? Semua gambaran kita tentang Yesus hanyalah gagasan seniman tentang bagaimana Dia terlihat. Representasi pertama Kristus pada catatan sebenarnya adalah grafiti yang mengejek di dinding rumah di Bukit Palatine di Roma. Itu menggambarkan tubuh seorang pria yang disalibkan tetapi dengan kepala keledai. Tulisan itu berbunyi: “Alexamenos memuja tuhannya.”

Dari zaman Nero (64 A.D.) hingga pertobatan Kaisar Constantine dan Edict of Milan (313 A.D.), di mana agama Kristen dilegalkan, agama Kristen secara resmi dianggap sebagai religio prava, sebuah agama jahat atau bejat.

Akar Yahudi Kristen

Kekristenan dimulai sebagai gerakan dalam Yudaisme. Banyak proklamasi Injil yang paling awal terjadi di sinagoge. Orang-orang Kristen tidak memihak orang Yahudi dalam pemberontakan mereka melawan Roma dimulai pada tahun 66 M. Pada akhir abad pertama gereja sebagian besar telah terpisah dari sinagoge.

Ketika “Gereja” Bukan Bangunan

Orang-orang percaya mula-mula ini tidak memiliki gedung gereja untuk bertemu. Mereka kebanyakan bertemu di rumah-rumah. Bangunan gereja pertama tidak mulai muncul sampai awal 200-an.

Debat tapi bukan denominasi

Gereja mula-mula tidak memiliki denominasi seperti yang kita pikirkan sekarang. Tapi itu tidak berarti mereka tidak memiliki perselisihan yang serius dalam ajaran. Mereka terlibat perselisihan. Mereka tidak menemukan ini mengejutkan. Mereka merasa berhadapan dengan masalah kebenaran dan kesalahan pamungkas. Masalah yang harus ditangani dengan sangat serius bahkan ketika itu berarti mengalami pertikaian.

Dirobek oleh anjing, dipaku di salib …

Orang-orang Kristen mula-mula adalah target penganiayaan yang diulang-ulang. Mereka mengalami beberapa kekejaman yang tak terkatakan. Sebagai contoh, kaisar Nero menyalahkan orang-orang Kristen atas kebakaran hebat yang menghancurkan 10 dari 14 bangsal kota di Roma pada 64 Masehi, kebakaran yang diperintahkan Nero sendiri. Sejarawan Tacitus, bukan seorang Kristen, mengatakan bahwa Nero membuat orang-orang percaya “disobek oleh anjing, dipaku untuk disalibkan, … bahkan digunakan sebagai obor manusia untuk menerangi kebunnya di malam hari.”

Tetapi orang-orang Kristen tidak berada di bawah penganiayaan di mana-mana dan sepanjang waktu. Penganiayaan bersifat sporadis, dengan interval damai di antaranya. Mereka bervariasi dalam intensitas mereka dan sebagian besar terlokalisasi.

Ada dua penganiayaan besar-besaran di seluruh kekaisaran yang dimaksudkan untuk benar-benar menghancurkan gereja. Yang pertama, di bawah kaisar Decius, dimulai pada bulan Desember, 249. Setiap orang di kekaisaran harus mendapatkan sertifikat dari seorang pejabat pemerintah yang memverifikasi bahwa ia telah mempersembahkan kurban kepada para dewa.  Suatu tindakan yang tidak bisa dilakukan oleh kebanyakan orang Kristen dengan hati nurani yang baik.

Yang kedua, disebut “Penganiayaan Hebat,” dimulai pada 23 Februari 303, di bawah Kaisar Diokletianus. Galerius, orang kedua di kekaisaran, berada di belakang kebijakan penganiayaan ini. Dia melanjutkannya setelah kematian Diokletianus. Selama delapan tahun yang panjang, dekrit resmi memerintahkan orang Kristen keluar dari jabatan publik, kitab suci disita, bangunan gereja dihancurkan, para pemimpin ditangkap, dan pengorbanan pagan diperlukan. Semua metode penyiksaan yang andal digunakan tanpa ampun. Diterkam dan dimangsa binatang buas, membakar, menikam, penyaliban, rajam.

Tetapi semua penyiksaan dan tindakan brutal ini tidak berhasil. Penetrasi iman di seluruh kekaisaran begitu luas sehingga gereja tidak dapat diintimidasi atau dihancurkan. Pada 311, Galerius yang sama, tak lama sebelum kematiannya, lemah dan sakit, mengeluarkan “dekrit toleransi”. Ini termasuk pernyataan bahwa adalah tugas orang Kristen “untuk berdoa kepada Tuhan mereka demi kebaikan kita.”

Baptisan

Penulis Kristen Hippolytus, yang menulis sekitar 200 M, menggambarkan baptisan di Roma. Calon melepas pakaian mereka, dibaptis tiga kali setelah meninggalkan Setan dan menegaskan ajaran dasar iman, dan mengenakan pakaian baru. Kemudian mereka bergabung dengan sisa gereja dalam Perjamuan Tuhan.

Baptisan tidak dilakukan dengan enteng. Yang pertama melewati periode persiapan yang luas sebagai “katekumen”. Ini berlangsung selama tiga tahun, melibatkan pengawasan ketat terhadap perilaku katekumen. Gereja hanya akan mengakui mereka yang terbukti tulus dalam mencari kehidupan yang sama sekali baru dalam komunitas Kristen.

Budak dipromosikan!

Orang-orang Kristen menarik anggota ke dalam persekutuan mereka dari setiap tingkatan dan ras, penghinaan terhadap orang-orang Romawi yang sadar kelas. Seorang mantan budak yang pernah bekerja di tambang, kemudian secara nyata menjadi uskup Roma – Callistus pada tahun 217.

Penyalahgunaan Injil Untuk Uang

Menyalahgunakan Injil untuk keuntungan finansial sama sekali bukan penemuan penjaja agama abad ke-20. Salah satu dokumen Kristen paling awal setelah Perjanjian Baru, The Didache, semacam manual tentang praktik gereja, memperingatkan tentang pengkhotbah keliling yang datang dan meminta uang. Satirist Lucian pada abad kedua mencela orang-orang Kristen karena begitu mudah menerima para penipu, sering memberi mereka uang. Lucian mencatat kasus terkenal filsuf Peregrinus, yang menarik pengikut setia di antara orang-orang Kristen (dan banyak uang) sebelum dia ketahuan. Insting pemain sandiwara Peregrinus mencapai klimaksnya ketika dia meninggal dengan mengkremasi dirinya di depan umum pada penutupan Olimpiade pada 165.

Tiga perempat non-putih

Peneliti David Barrett melaporkan bahwa pada tahun 300, atau sembilan generasi setelah Kristus, dunia dihuni oleh 10,4% Kristen dengan 66,4% orang percaya yang bukan kulit putih. Tulisan suci telah diterjemahkan ke dalam sepuluh bahasa. Lebih dari 410.000, mewakili satu dari setiap 200 orang percaya sejak zaman Kristus, telah memberikan hidup mereka sebagai martir bagi iman.